Hanura

Agama Dan Manusia Politik

Suara Publik  RABU, 10 JANUARI 2018 , 07:46:00 WIB

DALAM film Sang Pencerah karya Hanum Bramantiyo, dikisahkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah didiprotes oleh murid-muridnya karena mengajarkan QS. Al-Maun berulang-ulang sampai para murid sudah hapal dan paham artinya. Saat salah seorang murid sudah sangat bosan, dia pun menanyakan kepada Kyai Dahlan kenapa tidak melanjutkan ke pelajaran ayat selanjutnya.

Maka sang kyai meminta sang murid untuk membaca dan menerjemahkan lagi surah Al-Maun tersebut. Sang murid pun berupaya menjelaskan surat yang turun di Mekkah dan terdiri dari tujuh ayat tersebut. Yaitu penjelasan para pendusta agama, yang menghardik anak yatim; tidak menganjurkan memberi makan orang miskin; orang yang shalatnya lalai karena riya; dan enggan menolong dengan barang berguna.

Dalam cerita film tersebut kemudian Kyai Dahlan bertanya kepada sang murid; apakah sudah melaksanakan isi dari ayat yang sudah hafal teks dan tau artinya tersebut. Para murid pun geleng-geleng kepala. Dan selanjutnya sang Kyai berkata kita akan lanjutkan pelajaran ngajinya kalau masing-masing dari kamu sudah melaksanakan isi ayat tersebut.

Masing-masing murid pun bergegas mencari anak yatim, fakir miskin, kemudian menyantuni. Beberapa di antara murid bahkan membawa anak-anak tersebut ke rumahnya, merawat dan mendidik dalam pengasuhannya.

Dalam kisah di atas Kyai Dahlan hendak memahamkan tafsir ayat Al-Maun yakni pertama, tentang sifat manusia yang mendustakan agama itu adalah tindakan yang tidak berpihak pada/mengabaikan kaum miskin, anak yatim atau kelas proletar (wong cilik).

Kedua, Kyai Dahlan menitikberatkan keberhasilan pengajaran pada tindakan (amal sholeh). Bagi Kyai Dahlan kualitas keberagamaan seseorang dilihat dari tindakan atau implementasi pemahaman agamanya dalam realitas kehidupan.

Ketiga, pesannya adalah celakalah bagi yang peribadah (shalat) tetapi riya dan tidak bermanfaat bagi sesama (humanis).

Manusia Politik


Tesis Arendt tentang manusia politik dalam buku The Human Condition mengemukakan bahwa, manusai politik adalah manusia tindakan (man of action). Kebermaknaan seorang politisi (manusia politik) ketika keberadaannya bisa dirasakan oleh masyarakat melalui tindakan. Tindakan yang memperjuangkan hak-hak kemanusiaan.

Tahun 2018 adalah tahun politik, kita bisa menyaksikan hampir semua media, cetak maupun elektronik pembahasan utamanya adalah politik, namun politik disini lebih ditonjolkan adalah pada aspek perebutan kuasa. Coba kita perhatikan bagaimana kekuasaan bisa dimiliki di tingkat kabupaten/kota dan provinsi melalui pilkada dengan politik prosedural yang membuat partai-partai "sibuk berkoalisi". Berbagai cara digunakan untuk mengambil simpati partai dan masyarakat, bahkan ada yang menggunakan cara-cara kotor dan tidak bermartabat yang merusak tatanan hidup dan budaya bangsa.

Kualitas calon (beberapa) tidak dilihat dari rekam jejak tindakan, kerja dan karya yang telah ditorehkan di ruang-ruang publik tetapi lebih pada kekuatan kapital dan politik dinasti yang dimiliki. Seorang teman dari Sulawesi Barat mengatakan ke saya jika mau jadi politisi hal yang pertama ditanyakan adalah berapa isi Tas? Bukan rekam jejak kerja atau karya.

Realitas ini melegitimasi perkataan filsuf politik abad ke 18 Edmund Burke, bahwa sudah menjadi sifat manusia politik ingin mengambil bagian dalam kekuasaan. Tetapi tidak ingin mengambil bagian dalam tanggungjawab dari penggunaan kekuasaan itu.

Kembali ke tesis Arendt selanjutnya dia mengemukakan  tiga syarat dasar dari eksistensi manusia sebagai manusia politik (human politic) adalah kerja (labor) karya (work) dan tindakan (action). Politisi yang tidak melakukan kerja, karya dan tindakan maka eksistensi politiknya tidak ada/mati karena hidup harus selalu berarti, berada di antara orang-orang karena keluar dari domain kehidupan bersama (kebersamaan), sama artinya dengan kematian eksistensial manusia (Arendt).

Manusia yang beragama, atau tepatnya manusia politik yang beragama sejatinya berada pada jalur perjuangan kemanusiaan yaitu memperjuangkan kaum miskin, proletar (wong cilik) dengan tindakan dan aksi nyata, bersama rakyat merasakan penderitaan rakyat, hadir memberi solusi-solusi terhadap permasalahan bangsa dan negara dengan tindakan, kerja dan karya nyata. Sebaliknya jika tidak melakukan perjuangan (dakwah) kemanusiaan dalam bentuk tindakan dan kerja nyata, maka termasuk mendustakan agama dan mendustakan peran politiknya. wallahu a'lam.[***]


Dr. Ulfah Mawardi

Ketua Litbang PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi).

Tulisan ini kado HUT PDI Perjuangan ke-45




Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

, 21 JUNI 2018 , 14:53:00

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

, 20 JUNI 2018 , 18:51:00

Antre Di Tol Fungsional

Antre Di Tol Fungsional

, 19 JUNI 2018 , 06:58:00