Hanura

Jamu Anti Intoleransi

Menuju Peradaban  MINGGU, 28 JANUARI 2018 , 11:37:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Jamu Anti Intoleransi

Jaya Suprana/Net

PADA hakikatnya intoleransi merupakan naluri dasar mahluk hidup . Naluri intoleransi dianugerahkan demi mempertahankan tata hidup para mahluk hidup termasuk manusia.

Misalnya secara kondrati biologis tubuh manusia memiliki daya-intoleransi terhadap benda asing yang berusaha masuk dari luar tubuh ke dalam tubuh manusia. Para pasien cangkok organ harus seumur hidup minum siklosporin demi menekan daya-tolak sama dengan daya-intoleransi terhadap organ donor yang dicangkokkan ke dalam tubuhnya.

Setiap jenis mahluk hidup memiliki naluri intoleransi terhadap  jenis mahluk hidup yang tidak sama dengan dirinya. Burung selalu mengelompokkan dirinya dengan sesama burung sejenisnya. Jarang ada merpati mengelompokkan diri ke bangau apalagi elang. Jarang pula bebek mengelompokkan diri ke ayam dan sebaliknya. Satwa sosial seperti gorila, simpanze, serigala, lebah, semut juga memiliki naluri intoleransi serupa.

Naluri Peradaban

Demikian pula manusia secara kodrati memiliki naluri intoleransi terhadap sesama manusia yang beda dari dirinya. Perbedaan bisa dalam bentuk ras, etnis suku, atau bangsa. Namun perbedaan juga bisa hadir dalam bentuk perbedaan sikap, perilaku, paham, agama, pendidikan, usia, status sosial, daya ekonomi, politik, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya naluri intoleransi antar jenis kelamin juga hadir namun ada naluri lain yang mengatasinya yaitu naluri reproduksional alias naluri berkembang biak.    Namun manusia merupakan mahluk hidup dengan pemilikan naluri yang membedakan dirinya dari satwa dan tanaman yaitu manusia memiliki naluri peradaban yang menghadirkan apa yang disebut sebagai etika, moral, hukum, budi pekerti, akhlak dan agama yang pada hakikatnya berusaha menghapus atau minimal mengurangi pengaruh naluri intoleransi.

Bertolak Belakang


Menarik adalah kebertolak-belakangan taraf naluri intoleransi dengan naluri peradaban. Makin tinggi naluri peradaban seorang insan manusia makin rendah pula naluri intoleransi sang manusia  tersebut.

Pada masa angkara murka huru-hara merebak, saya dikejar-kejar, sekolah saya dibakar bahkan ayah kandung dibunuh oleh para huru-harawan. Namun di sisi lain saya diselamatkan oleh teman-teman sesama warga Indonesia yang semuanya beda ras, paham, sosial, budaya dan agama dari saya karena teman-teman saya tersebut memiliki naluri peradaban lebih tinggi ketimbang para huruharawan.  

Ketika berjumpa dengan warga beda ras di mancanegara, kami justru diperlakukan dengan ramah-tamah oleh mereka yang memiliki naluri peradaban tinggi. Misalnya di Amman, Jordania, kami memperoleh pelayanan luar biasa ramah tamah oleh sopir taksi setempat yang beda etnis dengan kami. Sementara di Singapura, saya sempat nyaris baku hantam dengan sopir taksi setempat akibat perlakuan sangat tidak sopan oleh sang sopir yang kebetulan malah seetnis dengan saya.

Mungkin peradaban sopir taksi Jordania memang lebih tinggi ketimbang sopir taksi Singapura.

Gus Dur

Prof Emil Salim ketika menghibur kegalauan sanubari saya pasca kemelut huruhara Mei 1998 menegaskan bahwa peradaban suatu bangsa dapat ditakar pada bagaimana bangsa tersebut memperlakukan kaum minoritas.

Ketika mengucapkan terima kasih kepada Gus Dur atas UU Anti Diskriminasi yang hadir di persada Nusantara akibat keadiluhuran semangat toleransi Gus Dur, secara khusus Gus Dur berpesan agar saya jangan terkebur namun malah harus lebih mampu menjaga diri demi mempertanggung jawabkan sukma UU Anti Diskriminasi di samping Gus Dur berpesan agar saya selalu mewujudkan semangat toleransi dengan berpihak ke kaum minoritas yang tertindas.

Pada hakikatnya Jamu Anti Intoleransi hadir pada pesan wejangan Gus Dur agar saya senantiasa bersikap tidak terkebur, ojo dumeh demi lebih mau dan mampu menjaga diri seperti tersirat dalam hadits Jihad Al Nafs yaitu perjuangan menaklukkan diri sendiri.

Pendidikan

Jamu Anti Intoleransi paling manjur adalah meningkatkan naluri peradaban melalui pendidikan menaklukkan diri sendiri dalam makna seluas-luasnya.

Pendidikan menaklukkan diri sendiri bukan terbatas pada pengajaran di bangku sekolah namun segenap pendidikan secara menyeluruh melalui lembaga pendidikan formal, informal, non-formal, lingkungan, keluarga, terutama justru pendidikan oleh diri sendiri untuk diri sendiri demi saling bersillaturahmi, dialog, saling saling mengerti, saling menghormati serta saling menghargai dengan sesama manusia beda suku, ras, agama,  etnis, paham, ideologi, sosial, ekonomi, profesi, usia, bangsa atau apa pun sesuai dan selaras sukma makna Bhinekka Tunggal Ika. MERDEKA![***]


Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan



Komentar Pembaca
Lain Padang Lain Belalang

Lain Padang Lain Belalang

RABU, 21 FEBRUARI 2018

Bravo, Ara<i>!</i>

Bravo, Ara!

SELASA, 20 FEBRUARI 2018

Yang Penting Persija Menang, Saya Bangga<i>!</i>
Kritik Keliru Sasaran

Kritik Keliru Sasaran

MINGGU, 18 FEBRUARI 2018

Empat Pertanyaan Konyol

Empat Pertanyaan Konyol

SABTU, 17 FEBRUARI 2018

Memerangi Fitnah

Memerangi Fitnah

KAMIS, 15 FEBRUARI 2018

DPR Dukung PWI Uji Materi UU MD3

DPR Dukung PWI Uji Materi UU MD3

, 20 FEBRUARI 2018 , 15:00:00

Tak Ada Nama SBY-Ibas Di Kasus KTP-El

Tak Ada Nama SBY-Ibas Di Kasus KTP-El

, 20 FEBRUARI 2018 , 13:00:00

SBY Lantik AHY

SBY Lantik AHY

, 18 FEBRUARI 2018 , 00:31:00

Yang Lolos Dan Tak Lolos

Yang Lolos Dan Tak Lolos

, 18 FEBRUARI 2018 , 01:23:00

RR Dikawal Cakra Buana

RR Dikawal Cakra Buana

, 16 FEBRUARI 2018 , 13:26:00