Hanura

Analisa Lapangan Keberhasilan BIN Menyukseskan Lawatan Jokowi Ke Afghanistan

Membanding Ancaman Keamanan Di Kosovo dan Afghanistan

Suara Publik  KAMIS, 08 FEBRUARI 2018 , 16:53:00 WIB

PRESIDEN Indonesia Joko Widodo telah menyelesaikan kunjungan kenegaraannya di Asia Selatan. Kunjungan ini dimulai dari Sri Lanka, kemudian dilanjutkan ke India, Pakistan, Bangladesh dan ditutup dengan kunjungan ke Afghanistan.

Dari 5 negara yang dikunjungi ini, Afghanistan masuk kategori Sangat Berbahaya. Kita sudah lihat foto bagaimana reaksi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang bersujud di lantai kabin pesawat Kepresidenan, Indonesia One, saat pesawat sudah berada di ketinggian yang aman dan bebas dari ancaman Surface to Air Missile (SAM).

Ini adalah sebuah ekspresi ucapan syukur Komandan Paspampres sekaligus kelegaan atas keberhasilan mereka mengamankan perjalanan Jokowi ini. Tetapi keberhasilan Paspampres mengamankan kunjungan Jokowi ke Afghanistan ini tidak mungkin dipisahkan dari kerja keras yang dilakukan Badan Intelijen Negara (BIN).
   
Sesuai dengan UU 17/2011 tentang intelijen negara, BIN merupakan alat negara yang menyelenggarakan fungsi intelijen dalam negeri dan luar negeri, yaitu penyelidikan, pengamanan dan penggalangan.

Tujuannya, mendeteksi, mengidentifikasi, menilai, menganalisis, menafsirkan, dan menyajikan intelijen dalam memberikan peringatan dini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan bentuk dan sifat ancaman yang potensial dan nyata terhadap keselamatan dan eksistensi bangsa dan negara serta peluang yang ada bagi kepentingan dan keamanan nasional. Intinya, BIN merupakan indera yang memberikan masukan kepada Presiden dalam mengambil langkah-langkah strategis.
   
Dalam kunjungan Jokowi ke Afghanistan, kira-kira bagaimana peran BIN? Tanpa membuka rahasia negara dan/atau melanggar prinsip-prinsip OpSec/PerSec (Operational Security/Personal Security) kira-kira begini peran BIN secara garis besarnya.
   
Tahap awal, saat perintah turun mempersiapkan kunjungan kenegaraan ke Afghanistan, BIN sesuai fungsinya kemungkinan akan membentuk task force khusus demi kunjungan ke Afghanistan, dengan fungsi melakukan analisa tentang ancaman (threat assessment) yang aktual dan potensial.  Threat Assessment ini akan menghasilkan gambaran apa ancaman yang sedang terjadi di Afghanistan, siapa orang-orang atau kelompok yang terlibat di dalamnya, bagaimana jejaring mereka dan apa trend dari ancaman tersebut. Hal ini akan dipakai sebagai bahan pertimbangan awal.
   
Tahap persiapan, ini tahap komunikasi dengan pemerintah Afghanistan untuk mematangkan agenda kunjungan. Di tahap ini, detail kunjungan mulai dibentuk. BIN akan mulai melihat dan memonitor komunikasi, baik terbuka maupun tertutup tentang kunjungan ini, bukan hanya di Afghanistan, tetapi juga di Indonesia. Di Indonesia juga dimonitor, karena bisa saja kelompok radikal di Indonesia memanfaatkan instabilitas dan banyaknya kelompok-kelompok teroris di Afghanistan untuk menyerang Jokowi saat berada di sana. Pemetaan ini akan menghasilkan gambaran apakah ada informasi terbatas dan/atau rahasia yang sudah diketahui publik, baik dari Indonesia ke Afghanistan, maupun yang bocor dari aparat keamanan Afghanistan sendiri yang berpotensi menghasilkan insiden ala Green on Blue Attacks.

Kondisi di dalam negeri Indonesia khususnya aktivitas organisasi-organisasi radikal akan dijadikan referensi apakah ada peningkatan komunikasi antara Indonesia dan Afghanistan. Koordinasi juga tentu dilakukan dengan lembaga-lembaga intelijen asing yang ada di Afghanistan khususnya dari negara-negara koalisi.
   
Tahap pematangan, di mana skenario dibangun bersama dengan Paspampres berdasarkan hasil analisa intelijen terkini. Di tahap ini, opsi jalur udara dan metode pendaratan akan disetuju dan dimatangkan, opsi mobilisasi dari bandara ke titik-titik pertemuan disetujui dan dimatangkan termasuk opsi-opsi cadangan.
Di tahap ini BIN akan berfungsi memberikan informasi dan analisa yang kemudian diolah oleh Paspampres dalam melakukan Mission Planning. Ini adalah tahap Go/No Go.
   
Tahap eksekusi, adalah tahap dimana Jokowi tiba di Afghanistan. BIN akan berada dalam status high alert dan kemungkinan akan melakukan monitoring signal elektronik (Signal Intelligence) untuk mendeteksi apakah ada trafik komunikasi yang di luar trend, termasuk apakah saat kunjungan ada trafik komunikasi mencurigakan.
   
Kesuksesan BIN dalam mengamankan kunjungan Presiden Jokowi tentu merupakan prestasi ekstra ordinari dari KaBIN, Budi Gunawan dan para deputinya yang terlibat langsung dalam mempersiapkan salah satu misi yang paling berbahaya yang pernah dilakukan oleh Presiden Jokowi atau Presiden-Presiden Indonesia sebelumnya, termasuk Presiden Soeharto ke Kosovo.

Kalau ada yang membandingkan dengan kunjungan Soeharto ke Kosovo, berdasarkan pengalaman beta di Afghanistan, kunjungan Jokowi ke Afghanistan ini jauh lebih berbahaya karena tipe ancaman (threat) yang lebih kompleks.

Di Kosovo, ancaman yang dihadapi Presiden Soeharto adalah ancaman konvensional yang trendnya lebih gampang dipetakan dan trajektorinya lebih mudah diprediksi.

Di Afghanistan, ancamannya adalah asimetrik, termasuk infiltrasi dari kelompok-kelompok teroris ke dalam struktur angkatan bersenjata Afghanistan yang lebih sulit dipetakan dan diprediksi trajektorinya.

Kunjungan Presiden Jokowi ini semakin lebih bahaya lagi karena sifatnya bukan merupakan kunjungan mendadak dan/atau rahasia, tetapi kunjungan yang sudah dipublikasi sebelumnya sehingga memberikan peluang bagi Taliban/AQ maupun kelompok-kelompok teroris lainnya untuk merencanakan dan melakukan serangan.
   
Kesimpulannya, Pak Jokowi memang sangat berani, tetapi beliau tidak akan ceroboh dan/atau selfish untuk pergi ke Afghanistan demi pencitraan semata yang berpotensi mencelakan dirinya dan anggota rombongannya.

Jokowi tetap pergi ke Afghanistan karena beliau yakin akan analisa dan kemampuan BIN yang dikepalai Pak Budi Gunawan dan pengamanan yang dilakukan oleh Paspampres. Selamat atas Job Well Done, Pak BG. Mission Accomplished Badan Intelijen Negara.

Salam dari Iraq! #IndonesiaTanahAirBeta


Alto Labetubun

- Pekerja kemanusiaan sekaligus analis konflik dan konsultan keamanan yang sudah 17 tahun berkecimpung di dunia konflik dan krisis kemanusiaan di Indonesia maupun di Timur Tengah dan Afrika Utara.

- Penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2007 dan lulusan Master of International Studies dengan spesialisasi Peace and Conflict Resolution dari University of Queensland, Australia. Menetap di Timur Tengah sejak 2009, kini tinggal di Irak.  


Komentar Pembaca
Memperbaiki Utang Negara

Memperbaiki Utang Negara

RABU, 21 FEBRUARI 2018

Membangunkan Mesin Pembangunan

Membangunkan Mesin Pembangunan

SELASA, 20 FEBRUARI 2018

Saatnya Media Bongkar Pencitraan

Saatnya Media Bongkar Pencitraan

MINGGU, 18 FEBRUARI 2018

Musim Politik Dan Momentum Poles-Memoles

Musim Politik Dan Momentum Poles-Memoles

MINGGU, 18 FEBRUARI 2018

Belajar Dari Afghanistan

Belajar Dari Afghanistan

SABTU, 17 FEBRUARI 2018

Belajar Dari Kegagalan Di Afghanistan

Belajar Dari Kegagalan Di Afghanistan

JUM'AT, 16 FEBRUARI 2018

DPR Dukung PWI Uji Materi UU MD3

DPR Dukung PWI Uji Materi UU MD3

, 20 FEBRUARI 2018 , 15:00:00

Tak Ada Nama SBY-Ibas Di Kasus KTP-El

Tak Ada Nama SBY-Ibas Di Kasus KTP-El

, 20 FEBRUARI 2018 , 13:00:00

SBY Lantik AHY

SBY Lantik AHY

, 18 FEBRUARI 2018 , 00:31:00

Yang Lolos Dan Tak Lolos

Yang Lolos Dan Tak Lolos

, 18 FEBRUARI 2018 , 01:23:00

RR Dikawal Cakra Buana

RR Dikawal Cakra Buana

, 16 FEBRUARI 2018 , 13:26:00