Hanura

Solidaritas Agama Dan Tragedi Kemanusiaan

Suara Publik  SENIN, 12 FEBRUARI 2018 , 21:05:00 WIB

Solidaritas Agama Dan Tragedi Kemanusiaan
(WE all live under the same sun, we all walk under the same moon, then why? Why? Can't we live as one? - Scorpions)

Mungkin sampai sekarang masih banyak yang menyangka Lebanon adalah negara yang mayoritas Muslim. Padahal faktanya adalah tidak demikian. Ada tiga komunitas yang relatif sama besar di Lebanon yaitu Kristen Maronite, Sunni dan Shiah. Ketiga komunitas besar ini mempunyai keterwakilan di pemerintahan yang menjadi semacam konstitusi tidak tertulis. Jabatan Presiden Lebanon adalah jatah untuk Kristen Maronite, Perdana Menteri adalah jatah untuk Sunni dan Ketua Parlemen adalah jatah untuk Shiah (Hizbullah).

Sejak awal konflik Syiria yang merupakan konflik antara rezim Bashar Al Assad yang didukung oleh Hizbullah dan Iran berhadapan dengan pemberontak ISIS (Islamic State in Irak and Syiria), Lebanon dibanjiri oleh pengungsi dari Syiria. Ribuan tenda berada di perbukitan Lebanon yang merupakan tenda pengungsi dari Syiria. Hal ini menambah permasalahan sosial di Lebanon selain permasalah pengungsi Palestina yang juga belum menemukan penyelesaian.

Pemerintah Lebanon tidak menutup wilayahnya dari Pengungsi Palestina dan Syiria. Hal ini merupakan langkah yang berperikemanusiaan. Setidaknya para pengungsi tersebut menemukan tempat yang aman untuk menghindari kekerasan di negara asalnya. Akan tetapi permasalahan menjadi semakin komplek ketika setelah beberapa tahun pengungsi tersebut menetap di Lebanon. Masalah status kewarganegaraan untuk jumlah mereka yang makin membesar menjadi problem yang sepertinya tanpa penyelesaian.

Pemerintah Labonon tidak mau mengakui mereka sebagai warga negara Lebanon termasuk untuk generasi yang sudah lahir di Lebanon karena apabila mereka diakui sebagai warga negara maka akan merubah peta kekuatan politik antara ketiga kekuatan mayoritas: Kristen Maronite, Sunni dan Shiah. Pengakuan sebagai warga negara untuk pengungsi Palestina yang umumnya Sunni pasti tidak disetujui oleh kelompok-kelompok lainya.

Masalah sosial dari pengungsi yang berada di Lebanon ini kemudian menjadi makin melebar ke banyak aspek. Dalam aspek ekonomi, kehadiran pengungsi ini menambah jumlah tenaga kerja yang mengakibatkan turunnya upah kerja. Hal ini membuat kebanyakan warga asli Lebanon merasa dirugikan. Ketidakseimbangan antara jumlah lapangan kerja dan tenaga kerja yang tersedia juga mengakibatkan naiknya angka pengangguran. Dan sudah menjadi rumus apabila angka pengangguran tinggi, maka angka kriminalitas akan naik.

Siklus dan pola yang sama seperti ini dihadapi oleh seluruh negara apabila dikaitkan dengan kehadiran pengungsi tidak terkecuali untuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Eropa. Immigrant Policy adalah hal yang menjadi perhatian publik dan dijadikan topik kampanye oleh kandidat pemimpin karena hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kemenangan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat dan Sebastian Kurz menjadi Chancellor of Austria yang menawarkan pengetatan Immigrant Policy dalam kampanyenya menjadi bukti bahwa sebagian besar masyarakat di negara-negara tersebut menolak kehadiran pengungsi walaupun secara de jure negara-negara tersebut adalah penandatangan Refugee Convention (konvensi internasional tentang pengungsi dan orang tanpa kewarganegaraan).

Bagaimana dengan persaudaraan sesama agama?

Bangladesh yang mayoritas penduduknya adalah Muslim dan berbatasan langsung dengan Burma pada awalnya menolak kehadiran Pengungsi Rohingya yang mengalami kekerasan fisik dan penindasan hingga rumahnya dibakar dalam konflik di daerah asalnya, Provinsi Rakhine (Burma). Rohingya adalah etnis minoritas yang beragama Islam di tengah-tengah mayoritas penduduk Burma yang Budha. UNHCR menyebutkan bahwa apa yang dialami minoritas Rohingya adalah aksi pembersihan etnis.

Perkembangan terakhir, telah disepakati perjanjian antara Bangladesh dan Burma untuk memulai proses pengembalian Pengungsi Rohingya dari camps pengungsi di Bangladesh ke daerah asalnya di Rakhine, Burma. Faktor ekonomi Bangladesh mungkin menjadi pertimbangan utama dalam keputusan ini. Bangladesh tentu tidak mau menambah permasalahan negaranya dengan menampung Pengungsi Rohingya tersebut di tengah situasi dimana mereka masih berusaha terlepas dari masalah kemiskinan warga negaranya sendiri.

Kembali ke konflik Syiria, beberapa hari ini diberitakan oleh berbagai media bahwa Turki menutup perbatasanya untuk pengungsi dari Provinsi Idlib (berada di wilayah Utara-Barat Syiria). Penduduk di Provinsi ini dikabarkan terjebak dalam baku tembak antara kelompok pemberontak yang menghadapi gempuran kekuatan militer Bashar Al Ashad yang terus bergerak maju. Rumah sakit dan camps pengungsi dikabarkan menjadi sasaran berbagai senjata. Sekitar dua juta penduduk sipil Syiria terjebak dalam konflik ini.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang dalam berbagai kesempatan mengungkapkan keberpihakan dan pembelaanya pada dunia Islam dan dianggap sebagai icon pemimpin Islam pasti mempunyai pertimbangan menyeluruh kenapa memutuskan untuk menutup perbatasanya dari akses pengungsi Syiria yang nota bene adalah saudara sesama Muslim. Tentu saja Turki tidak ingin negaranya mendapatkan imbas negatif dari masuknya pengungsi Syiria ke negaranya. Lebih baik menutup perbatasan daripada kepentingan keamanan, pertahanan dan ekonomi Turki menjadi terganggu.

Kesimpulan
Solidaritas sesama agama akan dihadapkan pada kenyataan kepentingan ekonomi, pertahanan, keamanan dan politik suatu negara. Tidaklah mudah merealisasikan solidaritas agama dalam rangka menolong saudara sesama agama dari negara lain yang tidak punya kewarganegaraan, tertindas oleh rezim yang sedang berkuasa, dibakar rumahnya, kaum perempuanya banyak yang diperkosa dan bahkan anak-anak kecilnya menjadi korban jatuhnya bom dan senjata yang tidak tepat sasaran.

Penyelesaian dari berbagai krisis kemanusiaan ini harus menggunakan pendekatan dari sisi kemanusiaan secara universal. Kekerasan bersenjata terhadap non-combatant, pembersihan etnis, penindasan atas etnis tertentu adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang merupakan masalah bersama umat manusia. Penyelesaian masalah-masalah ini tidak mungkin diselesaikan dalam scope satu agama saja. Penyelesaian krisis-krisis kemanusiaan ini hanya akan bisa lebih efektif jika melibatkan seluruh komunitas agama. Seluruh agama sudah seharusnya memandang bahwa tragedi kemanusiaan adalah masalah umat manusia secara keseluruhan.

Hal yang paling simple yang bisa kita lakukan sebagai individu manusia (apapun agama kita) untuk membantu korban tragedi kemanusiaan adalah dengan memberikan donasi ke lembaga-lembaga yang kita percaya. Donasi tersebut adalah wujud solidaritas kita sebagai sesama umat manusia terhadap mereka yang tidak seberuntung kita atas nama satu hal, kemanusiaan.

(Kita hidup di bawah matahari yang sama, kita berjalan di bawah bulan yang sama, lalu kenapa? kenapa? tidak dapatkah kita untuk hidup bersatu? -Scorpions).[***]

Dedi Gunawan Widyatmoko
Penulis pada Desember 2013-Januari 2015 bertugas sebagai Peacekeeper (G-5 Training, Outreach Officer dan Gender Equality Focal Point) di SECEAST Multinational Brigade UNIFIL, Lebanon. Saat ini sedang menjadi siswa Program Master of Maritime Policy di ANCORS (The Australian National Centre for Ocean Resources and Security), University of Wollongong, Australia.

Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mewakili instansi manapun.


Komentar Pembaca
Memperbaiki Utang Negara

Memperbaiki Utang Negara

RABU, 21 FEBRUARI 2018

Membangunkan Mesin Pembangunan

Membangunkan Mesin Pembangunan

SELASA, 20 FEBRUARI 2018

Saatnya Media Bongkar Pencitraan

Saatnya Media Bongkar Pencitraan

MINGGU, 18 FEBRUARI 2018

Musim Politik Dan Momentum Poles-Memoles

Musim Politik Dan Momentum Poles-Memoles

MINGGU, 18 FEBRUARI 2018

Belajar Dari Afghanistan

Belajar Dari Afghanistan

SABTU, 17 FEBRUARI 2018

Belajar Dari Kegagalan Di Afghanistan

Belajar Dari Kegagalan Di Afghanistan

JUM'AT, 16 FEBRUARI 2018

DPR Dukung PWI Uji Materi UU MD3

DPR Dukung PWI Uji Materi UU MD3

, 20 FEBRUARI 2018 , 15:00:00

Tak Ada Nama SBY-Ibas Di Kasus KTP-El

Tak Ada Nama SBY-Ibas Di Kasus KTP-El

, 20 FEBRUARI 2018 , 13:00:00

SBY Lantik AHY

SBY Lantik AHY

, 18 FEBRUARI 2018 , 00:31:00

Yang Lolos Dan Tak Lolos

Yang Lolos Dan Tak Lolos

, 18 FEBRUARI 2018 , 01:23:00

RR Dikawal Cakra Buana

RR Dikawal Cakra Buana

, 16 FEBRUARI 2018 , 13:26:00