Hanura

WAWANCARA

Brigjen Muhammad Fadil Imran: Dari Banyak Isu Yang Disebar, Hanya 3 Kasus Penyerangan Ulama Yang Benar-benar Terjadi

Wawancara  SELASA, 06 MARET 2018 , 08:42:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Brigjen Muhammad Fadil Imran: Dari Banyak Isu Yang Disebar, Hanya 3 Kasus Penyerangan Ulama Yang Benar-benar Terjadi

Brigjen Muhammad Fadil Imran/Net

RMOL. Kepolisian baru-baru ini berhasil membekuk kelompok yang diduga kerap menyebarkan isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan penyerangan ulama yang belakangan viral di masyarakat. Lantas seperti apa kebenaran dari isu PKIdan penyerangan ulama yang kini kadung meresahkan masyarakat? Berikut pemaparan selengkapnya dari Direktur Tindak Pidana Cyber Bareskrim Polri, Brigjen Muhammad Fadil Imran;

Setelah mendalami keteran­gan dari para tersangka, sep­erti apa sih kebenaran dari isu kebangkitan PKI dan pe­nyerangan ulama?
Isu ini memang diviralkan di media sosial oleh kelom­pok penyebar hoaks sepanjang Februari 2018. Isu penyebar hoaks tersebut termasuk Muslim Cyber Army yang termasuk juga tim Saracen. Dari 45 isu peny­erangan ulama hanya ada tiga kejadian. Namun dari semuanya menunjukkan grafik peningka­tan di medsos, mulai tanggal 2 Februari isu penganiayaan terhadap ulama itu terus digulir­kan, diviralkan, sampai dengan tanggal 27 Februari. Setelah itu kemudian grafiknya menurun.

Jadi kasus kekerasan ter­hadap ulama sebenarnya itu hanya hoaks saja atau bagaimana?
Seperti saya katakan tadi, isu ini memang terus disebarkan, bahkan kami hitung hampir selama sebulan. Dari banyaknya isu yang disebarkan, hanya tiga peristiwa penyerangan ulama yang benar-benar terjadi.

Jadi kedua isu ini dengan sengaja diviralkan?
Dari penyelidikan kami mene­mukan isu itu sengaja disebarkan oleh kelompok tertentu di dunia maya. Hasil penyelidikannya isu itu sengaja disebar di tiga kota, dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Ini menunjukkan pembentukan opini isu, pen­ganiayaan, dan penyerangan ulama dilakukan oleh kelompok tertentu di dunia maya atau di internet atau di medsos. Dari se­rangkaian peristiwa, kami kerja melakukan upaya penegakan hukum untuk mengidentifikasi pelaku baik di Surabaya, Jawa Barat, dan Banten.

Dari hasil pendalaman yang dilakukan kepolisian induk semang dari kelompok ini siapa?
Dari penangkapan dan penindakan, kami melakukan analisis terakhir penganiayaan ulama, dari kluster-kluster di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten, terlihat para pelaku ini terhubung satu sa­ma lain. Pelaku-pelaku lain yang tergabung dalam Muslim Cyber Army tergabung dalam kluster X, X ini mantan Saracen.

Lantas apakah kelompok ini juga menyerang pejabat negara?
Iya, kelompok ini rutin me­nyebarkan postingan foto, video, dan berita palsu berisi penghi­naan, fitnah, dan pencemaran na­ma baik terhadap pemimpin dan para pejabat negara. Termasuk rutin memposting penghinaan dan pencemaran nama baik ter­hadap Presiden Jokowi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, pe­jabat pemerintah dan anggota DPR. Kelompok ini juga kerap memposting hal-hal bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) di medsos, termasuk isu provokatif tentang penyerangan terhadap ulama dan kebangkitan PKI.

Siapa dalang yang membi­ayai kelompok ini?
Siapa dibalik ini semua? Kami akan terus bekerja mencari da­langnya. Tujuannya agar hoaks atau fitnah yang mengganggu keamanan bisa segera dihilangkan.

Kabarnya kepolisian baru saja menangkap satu orang lagi. Benar begitu?

Sebelumnya kami jelaskan, kami telah menangkap pelaku hate speech, SARA, dan hoaks dengan tersangka atas nama Bobby Gustiono. Kami mendu­ga tersangka ini berperan seba­gai admin sekaligus tim snipper Muslim Cyber Army. Dia kami tangkap di tempat persembu­nyiannya di rumah mertuanya di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Minggu (4/3). Awalnya dia sempat mencoba melarikan diri dan berupaya menghilangkan barang bukti. Kami juga menyita barang bukti berupa dua buah handphone yang menyimpan jejak digital sejumlah ujaran kebencian. Kepada kami dia mengaku sengaja menyebarkan konten-konten terlarang tersebut.

Bisa dijelaskan tugas admin dan snipper dalam tim ini?
Admin itu bertugas mengelola akun-akun Muslim Cyber Army. Sedangkan kalau snipper bertugas menyerang akun-akun yang di­anggap lawan dengan mengirim­kan virus yang merusak perangkat elektronik si penerima.

Bagaimana cara kerja tim ini?

Tersangka memiliki dua akun Facebook dengan nama Bobby Gustiono dan Bobby Siregar yang tergabung da­lam The Family Team Muslim Cyber Army. Kedua akun itu dimanfaatkan tersangka untuk menyebarkan ujaran kebencian dan hoaks. Untuk profile picture akun Bobby Siregar mengguna­kan foto anak kecil. Sementara Bobby Gustiono sering mem­posting ujaran kebencian dan hoaks ke group-group Facebook yang diikutinya.

Berapa grup Facebook yang diikuti oleh tim ini?

Setidaknya melalui penyelidi­kan kami ada 50 grup.

Tugas Bobby Gustiono sendiri dalam tim ini apa sih?
Bobby ini memang termasuk orang khusus di The Family Team Muslim Cyber Army. Bahkan dia punya tiga tugas khusus. Pertama sebagai admin dari tiga grup Facebook MCA. Kedua, me-report akun-akun la­wan agar di-suspend atau dinon­aktifkan oleh pihak Facebook. Parahnya, tersangka mampu menonaktifkan lebih dari 300 akun Facebook setiap bulannya. Ketiga, tersangka juga mem­berikan tutorial membuat akun Facebook palsu kepada anggota groupnya. Biasanya Bobby mengambil identitas orang lain seperti e-KTP, SIM, paspor, dan lainnya melalui Google agar tidak di-suspend. ***


Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

, 21 JUNI 2018 , 14:53:00

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

, 20 JUNI 2018 , 18:51:00

Antre Di Tol Fungsional

Antre Di Tol Fungsional

, 19 JUNI 2018 , 06:58:00