Hanura

Demokrasi Bumbung Kosong

Suara Publik  RABU, 07 MARET 2018 , 17:17:00 WIB

Demokrasi Bumbung Kosong

Foto Ilustrasi/Net

DEMOCRACY is the worst form of government except from all the others .

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan terburuk kecuali jika dibandingkan dengan sistem lainnya.

Almarhum Gus Dur sering mengutip frasa itu untuk menggambarkan ruwetnya demokrasi. Winston Churchill adalah tokoh yang pertama kali mengungkapkan gagasan itu. Demokrasi, kata Chruchill, adalah bentuk pemerintahan yang buruk. Tetapi, jika dibandingkan dengan bentuk pemerintahan yang ada, demokrasi tetap yang terbaik. Artinya, tidak ada pilihan lain kecuali demokrasi.

Apakah kita akan kembali kepada otoritarianisme? Apakah kita ingin mengulangi sejarah demokrasi terpimpin? Apakah kita kepingin mencoba fasisme Jepang atau Italia era Musollini? Ataukah kita ingin mencoba Marxisme-Leninisme Soviet? Tak perlu kita berdebat mengenai hal itu. Jalan demokrasi sudah kita sepakati sebagai jalan untuk berbangsa dan bernegara. Cuma pertanyaannya, demokrasi macam apa yang ingin kita tempuh?

Demokrasi terlalu banyak variannya. Bahkan bagi pemimpin yang paling despot-pun demokrasi bisa ditempelkan untuk menjadi legitimasi. Demokrasi prosedural, demokrasi sekadar memenuhi syarat, tetapi substansinya tidak ada. Fareed Zakaria menyebutnya sebagai "illiberal democracy" demokrasi tanpa kebebasan. Zakaria memberi contoh negara-negara Timur Tengah seperti Mesir di bawah Husni Mubarak yang menjalankan demokrasi prosedural tanpa substansi. Beberapa negara di kawasan itu dituding Zakaria sebagai bentuk negara demokrasi tanpa isi.

Tentu saja Zakaria memakai kacamata liberal Amerika. Ia adalah teman sekelas Francis Fukuyama, sama-sama murid Prof. Samuel Huntington. Fukuyama, kita tahu, pada 1990 memproklamasikan "The End of History" berakhirnya sejarah dengan tumbangnya rezim komunisme Uni Soviet. Demokrasi liberal, menurut Fukuyama, menjadi juara dunia dan satu-satunya sistem yang akan berlaku di seluruh dunia. Fukuyama memakai teori Hegel: tesa-antitesa-sintesa. Ketika isme-isme memperebutkan pengaruh dunia maka muncul lah antitesa dan berakhir dengan munculnya sintesa baru, dan itu adalah demokrasi liberal. Selesai.
Begitulah alur pemikiran Fukuyama. Kontroversial tapi khas menggambarkan kejumawaan barat dan Amerika.

Demokrasi penuh anomali, keanehan, dan irregularitas, ketidakteraturan yang tidak bisa diantisipasi. Demokrasi bukan ukuran all size, fit for all, ukuran baju yang bisa dipakai oleh siapapun. Demokrasi Amerika adalah demokrasi Amerika, demokrasi lain harus mengadopsi kearifan lokal.

Apa yang terjadi di Amerika sekarang ini dengan kemenangan Donald Trump yang di luar dugaan adalah salah satu contoh anomali demokrasi. Amerika, yang mengaku sebagai kampiun demokrasi selama dua ratus tahun lebih, ternyata pemilunya tidak bisa menghasilkan presiden idaman rakyat, malah sebaliknya menghasilkan kekacauan meluas di seluruh negeri.

Itulah demokrasi yang aneh. Trump bisa menjadi presiden padahal jumlah suara yang dikumpulkannya dua juta di bawah Hillary Clinton, maka logika demokrasi yang waras seharusnya Clinton yang menjadi presiden. Tetapi, sistem electoral college warisan dua setengah abad yang lalu membuat Hillary harus meratapi nasibnya seumur hidupnya. Electoral college adalah sistem perwakilan dimana negara bagian yang lebih kecil diberi keterwakilan yang sama dengan negara bagian yang besar. Trump memenangkan lebih banyak electoral college dibanding Hillary, meskipun ketika ditotal, suara yang dikumpulkan Hillary dua juta lebih banyak dibanding Trump.

Di Indonesia, negara tercinta kita ini, jangankan dua juta, selisih satu suara pun Anda akan menjadi Presiden. Lihatlah, siapa yang lebih liberal, Amerika atau Indonesia? Tentu saja dua-duanya mengandung kontroversi, kelemahan, dan kekuatan masing-masing.

Trump juga dicurigai memakai cara-cara tidak sah dalam mengumpulkan suara, termasuk, kabarnya, menerobos sistem komputer kubu Hillary dengan bantuan hacker-hacker Rusia. Tuduhan ini sangat meluas tapi sangat sulit untuk membuktikan.

Kekecewaan masyarakat meluas. Sistem demokrasi prosedural memungkinkan Trump untuk tetap mempertahankan kemenangannya dan dilantik sebagai presiden yang sah. Tetapi, yang terjadi kemudian adalah perlawanan rakyat yang meluas. Ketika Trump menandatangani executive order, perintah harian pertama yang melarang masuknya imigran dari tujuh negara Islam di Timur Tengah dan Afrika serta perintah untuk membangun dinding pemisah di perbatasan Meksiko, rakyat bergerak bergelombang menentangnya. Kemudian, sistem demokrasi Amerika masih mempunyai cadangan judikatif, peradilan, yang berpihak kepada rakyat. Perintah harian Presiden Trump dibatalkan oleh pengadilan federal dan danggap tidak berlaku dan tak boleh diterapkan.

Di Indonesia, ketidakteraturan dan keanehan demokrasi dengan segala macam kelemahannya dimanfaatkan oleh para pemburu kekuasaan yang hanya memakai demokrasi sebagai baju hiasaan sekadar untuk pantas-pantasan. Demokrasi boleh bebas, tetapi harus menyediakan cadangan untuk akhirnya mengembalikan mandat kepada suara rakyat. Sistem peradilan judikatif kita masih terlalu lemah dan tidak independen untuk mengemban amanat besar itu. Mahkamah Konstitusi yang seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan sekarang kehilangan kepercayaan. Lembaga perwakilan rakyat sudah jauh lebih lama kehilangan kepercayaan itu. Ketidakpercayaan, distrust, juga dirasakan rakyat terhadap lembaga eksekutif.

Kemana harus berlari? Tidak ada pilihan lain, kembalikan mandat kepada rakyat. Vox populi vox dei: Suara rakyat adalah suara Tuhan. Jangan dimanipulasi atau dibolak-balik menjadi suara partai adalah suara rakyat.

Fenomena calon tunggal, bumbung kosong atau kotak kosong dalam pemilu di Indonesia akan menjadi umum dalam beberapa tahun kedepan kalau rakyat tidak melakukan konsolidasi dan perlawanan sebagaimana yang sekarang dilakukan rakyat Amerika. Pencalonan tunggal yang semula tidak diperbolehkan secara hukum, sekarang diperbolehkan dan akan menjadi kelaziman. Inilah kebebasan yang bisa menjadi kebablasan. Kita yang baru beberapa belas tahun saja menikmati demokrasi ternyata lebih liberal dibanding Amerika yang sudah dua ratus tahun lebih. Mahkamah Konstitusi, atas nama kebebasan dan demokrasi membiarkan calon tunggal bertarung sendirian tanpa saingan.

Baiklah. Kalau sistem Trias Politika kita sudah kuat, maka mekanisme checks and balances bisa berjalan dengan baik. Tetapi, dengan sistem kita yang masih compang-camping seperti sekarang maka akan lahir pemimpin despot dan otoriter yang merasa bisa mengatur kekuasaan dengan kekuatan uang.

Francis Fukuyama, tampaknya, agak menyesali pernyataannya pada 1990 itu. Dalam karya terbarunya "The Origin of Political Order and Political Decay" (2014), ia malah menyebut sistem demokrasi Amerika sekarang sedang mengalami pembusukan karena parahnya korupsi. Ia menyebut dua jenis korupsi, yaitu korupsi rente dan korupsi kekuasaan. Korupsi rente adalah bagi-bagi uang negara, rebutan proyek, dan sejenisnya. Model korupsi ini tidak banyak di Amerika. Tetapi, korupsi bagi-bagi kekuasaan dan munculnya lobi-lobi politik yang menjanjikan bantuan besar kepada politisi, sekarang menjadi praktik luas di Amerika. Sebuah perusahan besar mempekerjakan tukang lobi legal yang bisa memengaruhi politisi supaya nanti mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan perusahaan. Sebagai imbal baliknya perusahaan itu memberikan kontribusi uang kepada sang politisi. Sistem ini yang oleh Fukuyama menjadikan Amerika mengalami pembusukan. Tetapi, Fukuyama tetap konsisten dengan pandangannya bahwa demokrasi liberal tetap yang terbaik di dunia meskipun contoh idealnya bukan Amerika.

Menjelang pemilihan presiden 2019 sudah ada wacana dan bahkan gerakan untuk memunculkan calon tunggal. Pilpres calon tunggal melawan bumbung kosong akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi di Indonesia dan dunia. Sistem demokrasi prosedural membolehkan calon tunggal untuk muncul. Akal sehat pasti menolak logika ini. Namanya demokrasi adalah pilihan bebas. Kalau hanya ada satu pilihan berarti Anda memasung demokrasi dan menghina akal sehat rakyat.

Sebegitu bodohkah rakyat kita? Mungkin begitu pemikiran para despot haus kekuasaan itu. Tapi, jangan keliru, rakyat sudah cerdas dan pintar. Mereka diam bukan berarti tidak melawan. The silent majority, mayoritas yang diam akan menunjukkan kekuatannya pada saat yang tepat.

Tidak perlu waktu lama, cukup dua menit saja di bilik suara. Tentukan pilihan Anda, selamatkan demokrasi, selamatkan marwah dan kedaulatan rakyat. Pilihlah bumbung kosong demi kemenangan hati nurani dan demokrasi yang sejati. [***]

Dhimam Abror Djuraid
Wartawan senior, Ketua PWI Jawa Timur periode 2000-2010

Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

, 21 JUNI 2018 , 14:53:00

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

, 20 JUNI 2018 , 18:51:00

Antre Di Tol Fungsional

Antre Di Tol Fungsional

, 19 JUNI 2018 , 06:58:00