Hanura

Apakah Uang Itu Segalanya?

Suara Publik  SENIN, 12 MARET 2018 , 08:32:00 WIB

BEBERAPA minggu terakhir, publik disuguhi berita tentang penangkapan Pemimpin Daerah oleh KPK.

Operasi Tangkap Tangan oleh KPK ini hampir menghiasi pemberitaan di setiap minggu dengan pelaku yang berbeda dan tersebar di  berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Baru beberapa bulan yang lalu juga ramai pemberitaan di tanah air adanya permintaan mahar oleh beberapa partai politik dalam jumlah uang yang tidak sedikit untuk ukuran masyarakat Indonesia kebanyakan terhadap bakal calon kepala daerah. Berita ini kemudian terpinggirkan dengan berita-berita lain dan belum terkonfirmasi kebenarannya.

Masih juga berlangsung dalam proses persidangan, Setya Novanto dan teman-temanya yang terlibat kasus KTP elektronik. Cita-cita mulia indentitas tunggal di Indonesia yang bisa digunakan dengan akses elektronik sehingga memudahkan baik pengguna maupun instansi yang berkepentingan menguap tidak jelas dengan ujung kelak adanya keputusan pengadilan Tipikor.

Dalam level internasional, Presiden Amerika Serikat dalam pidatonya di depan konggres menyampaikan bahwa dana bantuan Amerika akan diberikan hanya kepada teman-teman Amerika. Hal ini berkaitan dengan penghentian bantuan kepada Palestina.

Donald Trump ingin meyakinkan bahwa bantuan keuangan mereka hanya jatuh kepada negara-negara yang mendukung kepentingan Amerika.

Membaca semua berita tersebut, mungkin banyak yang bertanya-tanya, atau bahkan langsung memberi jawaban 'iya' atas pertanyaan 'apakah uang sudah menjadi segalanya?'

Uang tetap bukan segalanya.

Sudah banyak motivator yang menyampaikan baik dalam motivation speech-nya ataupun dalam tulisan bahwa uang mungkin bisa untuk membeli tempat tidur yang nyaman dan mewah, tapi uang tidak bisa menjamin tidur yang nyenyak. Dua frase dalam kalimat ini yaitu “tempat tidur yang nyaman dan mewah” dan “tidur nyenyak” adalah dua perbandingan yang bermakna material dan non-material.

Tidak banyak di zaman now orang yang tidak berpikir material dalam hidupnya. Yang belum punya rumah, mobil, dan barang-barang berharga lainya pasti berkeinginan untuk memilikinya.

Yang sudah punya barang-barang tersebut pasti ingin memiliki yang lebih banyak dan yang lebih bagus. Hal ini sangatlah manusiawi. Tanpa semangat ini pula, maka tidak akan ada usaha meningkatkan taraf hidup.

Hampir tidak ada pula orang yang sudah merasa cukup dalam hal harta dan uang. Bahkan ada yang mengibaratkan bahwa harta dan uang itu seperti air laut, makin diminum makin membuat haus.

Tapi apakah uang dan harta yang menjadi tujuan hidup kita ? jelas jawabanya pasti 'tidak'. Jawaban umum untuk pertanyaan tersebut adalah 'kebahagiaan'.

Ya, tujuan hidup manusia secara umum adalah mencari kebahagiaan.

Kalau dikaitkan dengan agama, tujuan hidup manusia pasti kebahagian hidup di dunia sekarang dan hidup setelah di dunia sekarang (akherat).

Harta adalah salah satu hal yang membuat hidup nyaman dan berbahagia. Tanpa kemampuan financial yang cukup, kita tidak mungkin mencapai level bahagia untuk ukuran kehidupan dunia. Untuk kehidupan akherat, kita bisa coba capai kebahagiaan disana dengan harta yang kita punya. Seluruh agama mengajarkan bahwa sedekah dan derma akan mendapat balasanNya kelak di kehidupan setelah dunia ini.  

Di lain pihak, apakah mereka-mereka yang sekarang sedang menjalani pemeriksaan oleh KPK maupun sedang disidang di pengadilan Tipikor bahagia ? saya yakin jawabanya adalah 'tidak'.

Mereka pasti tidak bahagia walupun mungkin masih bisa tersenyum. Apakah hukum agama membenarkan tindakan mereka? jelas jawabanya 'tidak'. Kalau seluruh agama tidak membenarkan tindakan korupsi, maka pelaku korupsi kemungkinan juga tidak akan bahagia di akherat.

Dari uraian-uraian dan pertanyaan-pertanyaan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa kita perlu harta, bahkan sangat perlu harta untuk mencapai kebahagiaan. Tapi ketika level keinginan untuk memiliki harta kita tersebut terlalu berlebihan hingga mengabaikan norma dan hukum dalam menggapainya, maka yang ada harta bukan lagi membawa bahagia tapi justru membawa petaka.

Harta dan uang juga bukan satu-satunya alat untuk mencapai kepentingan kita. Betapa banyak orang yang punya harta dan ambisi kemudian terjun di dunia politik tetapi akhirnya gagal.

Hasil pemungutan suara di sidang umum PBB terhadap keputusan Amerika Serikat atas Jerusalem sebagai ibukota Israel yang dimenangkan suara menolak (tidak setuju) juga membuktikan bahwa nilai-nilai kebenaran universal masih dominan di dunia.

Bantuan finansial Amerika terhadap banyak negara tidak serta merta membuat negara-negara di dunia mengiyakan seluruh keputusan pemerintah Amerika Serikat di bawah kendali Presiden Donald Trump.

Sebagai penutup, uang memang salah satu faktor kebahagiaan tapi bukan satu-satunya faktor. Ada banyak faktor penyusun kebahagiaan yang kadang justru tidak bisa dibeli dengan uang seperti : kesehatan, kekeluargaan, persahabatan dan pertemanan.

Bahkan untuk hal sederhana berupa tidur yang nyenyak saja, pemilik uang yang banyak belum tentu bisa mendapatkanya.

Uang juga bukan satu-satunya alat untuk mencapai tujuan. Banyak hal penting lain yang menjadi faktor keberhasilan tujuan kita seperti : nilai-nilai kebenaran universal di masyarakat; integritas dan kepribadian; dan juga kapabilitas. Banyak orang, bahkan entitas negara, yang punya uang banyak tapi mengabaikan hal-hal tersebut justru akhirnya gagal mencapai tujuan mereka.

Jadi untuk pertanyaan seperti judul di atas 'Apakah Uang Itu Segalanya?' mari kita jawab serempak 'bukan, uang bukan segalanya!' [***]


Dedi G Widyatmoko
Pemerhati Masalah Sosial. Sekarang sedang menempuh S2 di Fakultas Hukum UniversityWollongong, Australia.



Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

, 21 JUNI 2018 , 14:53:00

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

, 20 JUNI 2018 , 18:51:00

Antre Di Tol Fungsional

Antre Di Tol Fungsional

, 19 JUNI 2018 , 06:58:00