Hanura

Lebih Indah Dialog Ketimbang Bongkar Dosa

Menuju Peradaban  RABU, 28 MARET 2018 , 05:18:00 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Lebih Indah Dialog Ketimbang Bongkar Dosa

Jaya Suprana/Net

MENTERI Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengkritik pihak yang mengkritik pemerintah yang dinilainya secara tak berdasar.

Meski tidak langsung menyebut nama, Luhut menyindir pada saat memberikan pidato di Gedung BPK, Jakarta, Senin 19 Maret 2018.   

”Misalnya ada senior bilang bahwa ngasih sertifikat itu ngibulin gitu apanya yang dikibulin? Sertifikat itu dulu prosesnya lama, panjang dan sedikit. Sekarang proses cepat dan banyak. Salahnya di mana? Jadi asbun aja. Jadi nggak boleh kita asal ngomong apalagi senior-senior. Dia kan 70 berapa tahun, saya kan 71 tahun juga,”.

Kritik Membangun


Luhut mengatakan, pemerintah tidak anti kritik. Namun, kritik yang dilontarkan ke pemerintah sebaiknya adalah kritik yang membangun.

”Jangan asal kritik saja. Saya tahu track recordmu kok. Kalau kau merasa paling bersih kau boleh ngomong. Dosamu banyak juga kok, ya sudah diam saja lah. Tapi jangan main-main, kalau main-main kita bisa cari dosamu kok. Emang kau siapa?" tegasnya.

Mudarat


Saya sekadar membaca berita di tengah wabah berita hoax sedang merajalela di Tanah Air Udara tercinta kita ini, tanpa  melakukan tabayyun demi mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya.

Sebagai rakyat jelata saya juga terlalu awam politik maka sama sekali tidak kompeten untuk berani melibatkan diri ke dalam kemelut polemik kelas tinggi tersebut.

Namun sebaiknya juga jangan ada pihak penganut aliran mumpungisme memanfaatkan kasus polemik ngibul tersebut sebagai kesempatan mengompori para tokoh penguasa untuk saling bongkar dosa di atas panggung politik jamanow. Praktek adu-domba saling bongkar dosa hanya terbatas sepihak memuaskan syahwat politik picisan para pengadu-domba yang jelas lebih banyak mudarat ketimbang manfaat bagi kepentingan persatuan dan kesatuan negara, bangsa dan rakyat Indonesia

Dialog
 
Menarik bahwa keteladanan sikap politik bijak dan beradab justru ditampilkan oleh seorang tokoh junior, yaitu Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Tokoh cendikiawan dan negarawan muda ini menawarkan jalur musyawarah-mufakat dengan siap memfasilitasi acara dialog terbuka Menko Luhut dengan sang tokoh senior pengkritik kebijakan sertifikat presiden yang dikritik balik oleh Menko Luhut.

Pada hakikatnya, Dhanil berupaya mewujudkan semangat demokrasi yang beradab selaras tiga sila Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia serta Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan. MERDEKA! [***]

Penulis adalah pembelajar demokrasi Pancasila


Komentar Pembaca
Musibah Jembatan Widang

Musibah Jembatan Widang

MINGGU, 22 APRIL 2018

Menghormati Kontrak Politik Jakarta Baru
Anjing Menggonggong Di Padang Pasir
Yaman <i>Jamanow</i>

Yaman Jamanow

RABU, 18 APRIL 2018

Memahfumi Heboh Fiksi Rocky Gerung

Memahfumi Heboh Fiksi Rocky Gerung

SELASA, 17 APRIL 2018

Membalas Air Tuba Dengan Air Susu

Membalas Air Tuba Dengan Air Susu

SENIN, 16 APRIL 2018

Jadi Presiden, Ini Program Rizal Ramli

Jadi Presiden, Ini Program Rizal Ramli

, 21 APRIL 2018 , 11:00:00

Wujudkan Pemikiran Bung Karno dan Kim Il Sung
Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

, 19 APRIL 2018 , 01:12:00

Solidaritas Untuk Rocky Gerung

Solidaritas Untuk Rocky Gerung

, 17 APRIL 2018 , 21:28:00

Di Tengah Cakra Buana

Di Tengah Cakra Buana

, 15 APRIL 2018 , 10:57:00