Hanura

WAWANCARA

Wawan H Purwanto: Hasil Patroli Cyber BIN, Berita Di Dunia Maya 40 Persen Fakta, 60 Persen Hoaks

Wawancara  KAMIS, 05 APRIL 2018 , 08:00:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Wawan H Purwanto: Hasil Patroli Cyber BIN, Berita Di Dunia Maya 40 Persen Fakta, 60 Persen Hoaks

Wawan H Purwanto/Net

RMOL. Di tahun politik ini, gempuran berita bohong yang berisi upaya adu domba marak di dunia maya. Banyak kalangan menilai, hal itu merupakan upaya adu domba yang diembuskan provokator yang menginginkan negeri ini bercerai berai.

Badan Intelijen Negara (BIN) tentunya punya temuan-temuan khusus terkait peredaran hoaks di tahun politik ini. Berikut penjelasan Direktur Komunikasi dan Informasi BIN, Wawan H Purwanto.

Bagaimana BIN menyikapi maraknya peredaran berita hoaks di tahun politik saat ini?
Ya, kalau yang namanya ta­hun politik seperti ini apapun bisa terjadi. Namanya upaya adu domba, benturan, perang opini, perang propaganda, maupun cipta kondisi itu bisa terjadi. Jadi hal ini tidak mengagetkan.

Oleh karenanya setiap kali mendengar atau menerima pemberitaan apapun mesti harus cek dan kroscek melalui jendela-jendela informasi yang ada. Kalau tidak, maka kita semua akan kehilangan daya kritis dan justru terbawa dengan apa yang diinginkan oleh pembawa berita hoaks tadi. Nah, di sini jika satu orang membawa berita hoaks mungkin orang tidak percaya. Bagaimana kalau satu juta orang membawa berita hoaks melalui media sosial akhirnya orang bisa berpikir macam-macam. Nah, kebanyakan adik-adik kita tidak melakukan kroscek, bahkan langsung disebarkan ke yang lain. Itulah sebabnya maka yang terjadi dari hoaks ke hoaks.

Akan tetapi dengan adanya Undang-Undang ITE dan di situ ada sanksi pidana maupun juga sanksi denda, maka perlu disa­dari bahwa apa yang dilakukan itu bisa dituntut. Oleh karenan­ya, bagi kita semua yang men­erima ini segeralah melakukan kontrol untuk tidak melakukan penyebaran berita hoaks yang dampaknya justu bisa di-trust di peralatan yang ada.

Pasalnya, pengunggah per­tama itu dapat dengan mudah dilacak. Begitu juga rentetan dari pengunggah-pengunggah berikutnya.

Berdasarkan hasil analisis BIN sendiri seperti apa?

Temuan di BIN, BIN itu kan melakukan patroli cyber 24 jam. Dari sana tampak sekali hampir 60 persen itu hoaks. Nah, itu berdasarkan penelitian yang dilakukan di sana dengan me­tode kroscek. Pada faktanya angkanya sudah mencapai 60 persen. Oleh karena itu perlu ada suatu sikap kritis bersama seluruh elemen yang ada di masyarakat. Karena kita semua berada di dunia teknologi baru yaitu IT tanpa ada suatu kebersamaan. Tugas kita se­mua meng-counter atau mengin­gatkan saudara kita lantaran telah menyebarkan suatu yang keliru. Maka ini tidak menjadi kebiasaan yang baik. Kami ingin bersinergi secara bersama-sama.

Artinya yang 40 persen itu fakta?
40 persen fakta dan rata-rata 60 persen itu hoaks. Hal itu dari data yang ada. Nah, kami meng­inginkan kalau bisa lebih banyak lagi yang memang fakta dan itu harus dipelopori oleh kaum muda. Sebab, kaum muda itu paling banyak yang berselancar di dunia internet daripada yang sudah sepuh-sepuh.

Beberapa pakar hukum juga sempat mengkritik pen­anganan sarachen dan Muslim Cyber Army, lantas seperti apa evaluasinya?
Ya, sarachen dan MCA sudah memasuki ranah hukum. Karena sudah memasuki ranah hukum maka sudah mendapatkan cu­kup bukti yang ditemukan oleh penyidik. Itu semua kita semua tinggal menunggu P21 dan dis­idangkan. Sebab, di persidangan nanti akan diadu bukti termasuk keterangan saksi dan keterangan lain sebagai bukti pendukung. Termasuk dari pihak tertuduh sendiri dipersilahkan untuk melakukan pembelaan atau­pun juga dari saksi-saksi yang meringakan. Sehingga kita se­mua tidak lagi menarik asumsi, melainkan data dan fakta itu diungkap. Nah, keputusan hakim dan ketentuan hakim akan lebih meyakinkan mereka bersalah atau tidanya.

Melalui investigasi BIN apakah kasus hoaks itu seperti dirawat dan sewaktu-waktu akan disebarkan oleh yang merawatnya?
Yang namanya cipta kondisi dan cipta opini itu pasti ada ke­pentingan dari kelompok yang ingin menyalurkan itu semua demi kepentingan kelompoknya masing-masing. Ada yang berke­inginan supaya di tahun politik ini ada dukungan-dukungan ataupun juga opini-opini yang terbangun secara positif kepada kelompoknya. Kemudian yang punya kepentingan untuk men­degradasi kelompok lawannya. Hal seperti ini kan bisa terjadi. Nah, di tahun kampanye seka­rang ini faktual juga tampak sekali ternote di dalam media sosial sendiri. Kebanyakan kan mesti mengangkat kelompoknya dan mengkritisi pihak lawan. Ataupun lawannya juga seba­liknya meng-counter apa yang dikritisi dengan mengangkat sisi baiknya. Nah, hal ini kan menjadi seimbang. Jadi seperti itu yang terjadi dan itu sah-sah saja.

Upaya BIN agar berita hoaks tidak muncul sewaktu-waktu seperti apa?
Paling yang kami lakukan dengan empat langkah. Kami melakukan counter, kami juga melakukan upaya kalau me­mang sudah keterlaluan tentu kami laporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tapi intinya sebelum semua itu dilakukan kami tetap melakukan literasi-literasi terus, mengingat memang ini masalah baru. Baru ribut tahun 2016 dan kalau be­lum apa-apa sudah dilakukan tindakan pidana kami tidak ingin literasi itu menjadi seolah-olah tidak berhasil. Yang kami inginkan literasi ini bisa dimak­simalkan dahulu dan mereka harus paham dulu dari Undang- Undang ITE. ***

Komentar Pembaca
Ini Hasil Pertemuan Prabowo Dan Puan

Ini Hasil Pertemuan Prabowo Dan Puan

, 17 JULI 2018 , 19:00:00

Gerindra, PKS dan PAN Belum Capai Titik Temu
Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

, 11 JULI 2018 , 19:24:00

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00