Hanura

Orwell, Truman, Darrow

Menuju Peradaban  SELASA, 01 MEI 2018 , 06:52:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Orwell, Truman, Darrow

Harry S Truman/Net

SAYA tidak mampu melukiskan kembali suasana kemelut politik jamanow (yang lebih tepat disebut sebagai jamanedan) dengan perbendaharaan kata dan kalimat yang memang saya miliki secara terbatas dan dangkal.

Di samping tidak mampu, sebenarnya saya juga tidak berani menghadapi resiko dilaporkan ke Bareskrim atas dugaan ujaran kebencian atau penistaan atau entah apa.

Maka lebih aman, saya ajak Anda semua (kalau mau )merenungi tiga kalimat bijak tiga tokoh pemikir justru bukan dari Indonesia yaitu Eric Athur Blair yang lebih dikenal dengan nama pena George Orwell, presiden XXXIII Amerika Serikat, Harry Truman serta filosof etika, Clarence Darrow.

Politik


Kegerahan serta kegelian sanubari George Orwell terhadap kemunafikan bahasa politik yang digunakan kaum politisi penindas rakyat tersirat dan tersurat di dalam kalimat mutiara penulis buku sindiran politik “Animal Farm” sebagai berikut “Political language is designed to make lies sound truthful and murder respectable, and to give the appearance of solidarity to pure wind."

Apabila dipaksakan untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka kalimat itu kira-kira berbunyi sebagai berikut “Bahasa politik direkayasa untuk membuat dusta terkesan jujur dan pembunuhan terkesan terhormat serta “angin” seolah solidaritas”.

Saya curiga bahwa hasrat Orwell sebenarnya ingin menyebut “kentut,” namun tidak tega melakukannya.

Represif

Terhadap gejala sikap represif pemerintah, dalam pidato di depan U.S. Congress 8 Agustus 1950, Harry Truman memperingatkan sebagai berikut:

”Once a government is committed to the principle of silencing the voice of opposition, it has only one way to go, and that is down the path of increasingly repressive measures, until it becomes a source of terror to all its citizens and creates a country where everyone lives in fear”.


Yang bisa dialih-bahasakan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

“Ketika pemerintah melakukan prinsip membungkam suara oposisi maka hanya satu arah langkah akan menuju yaitu turun ke  bawah untuk menambah suasana represif sebagai sumber teror kepada segenap warga sehingga menciptakan sebuah negara di mana setiap warga hidup dalam ketakutan”.

Nurani

Di dalam buku “Resist Not Evil”, Clarence Darrow melanjutkan keresahan Henry David Thoreau dengan bersabda:

“The lowest standards of ethics of which a right-thinking man can possibly conceive is taught to the common soldier whose trade is to shoot his fellow men. In youth he may have learned the command, ‘Thou shalt not kill,’ but the ruler takes the boy just as he enters manhood and teaches him that his highest duty is to shoot a bullet through his neighbor’s heart  - and this, unmoved by passion or feeling or hatred, and without the least regard to right or wrong, but simply because his ruler gives the word.” 


Yang mohon dimaafkan apabila saya alih-bahasakan secara nirsempurna sebagai berikut:

“Taraf paling rendah etika yang dapat disimak para pemikir sadar kebenaran adalah mendidik kaum muda untuk membunuh sesama manusia. Di masa kanak-kanak, seorang serdadu mempelajari Firman Tuhan “Kamu Tidak Boleh Membunuh” namun kemudian penguasa mendidik sang anak ketika menjadi dewasa untuk mematuhi perintah membunuh sesama manusia tanpa perasaan dan peduli benar-salah namun hanya atas perintah atasan belaka”.

Apa yang diutarakan Darrow di Amerika Serikat pada awal abad XX kemudian dapat saya saksikan di Jakarta 28 September 2016 ketika para Satpol-PP tanpa peduli suara hati nurani maka tanpa peduli benar atau salah, patuh melaksanakan perintah pemerintah DKI Jakarta untuk menggusur sesama warga Indonesia di Bukit Duri secara paksa bahkan sempurna melanggar hukum. [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan


Komentar Pembaca
Opini Jaya Suprana: 200 Mubaligh
Penyelidikan Independen PBB Terhadap Suriah
Skopofobia

Skopofobia

SELASA, 22 MEI 2018

Zaman Darurat Kemanusiaan

Zaman Darurat Kemanusiaan

MINGGU, 20 MEI 2018

Takut Merasa Malu

Takut Merasa Malu

SABTU, 19 MEI 2018

Sebaiknya Jangan Pukul Rata

Sebaiknya Jangan Pukul Rata

JUM'AT, 18 MEI 2018

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi
Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

, 24 MEI 2018 , 14:00:00

Maradona Dampingi Maduro

Maradona Dampingi Maduro

, 18 MEI 2018 , 02:14:00

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

, 17 MEI 2018 , 19:22:00

Penghargaan

Penghargaan "Inspirator Bangsa"

, 17 MEI 2018 , 05:56:00