Hanura

Prihatin Atas Penghinaan Terhadap Natalius Pigai (Bab II)

Menuju Peradaban  KAMIS, 03 MEI 2018 , 06:58:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Prihatin Atas Penghinaan Terhadap Natalius Pigai (Bab II)

Jaya Suprana/Net

NASKAH “Prihatin Atas Penghinaan Terhadap Natalius Pigai“ yang dimuat Kantor Berita Politik RMOL sejak 29 April 2018 ternyata memperoleh berbagai tanggapan.

Banyak pihak setuju bahwa sebaiknya Natalius Pigai jangan dihina. Namun ada pula yang menganggap Natalius Pigai layak dihina sebab kerap menghina Presiden Jokowi. 

Bahkan akibat terkesan bahwa saya membela putera Papua tersebut, mereka yang hobby menebar kebencian dengan menggunakan logika hitam-putih langsung kreatif mencipta fitnah bahwa kini saya bergabung ke dalam barisan anti Jokowi.
 
Meluruskan


Terdorong rasa prihatin bahwa ternyata di jamanow merasa prihatin terhadap penghinaan terhadap sesama warga Indonesia  dianggap keliru maka sebagai pendiri Pusat Studi Kelirumologi, saya merasa perlu meluruskan distorsi kenyataan tersebut demi meletakkan duduk permasalahan pada proporsi dan dimensi yang lebih benar.

Saya menulis naskah prihatin atas penghinaan terhadap Natalius Pigai (NP) bukan konseptual namun kontekstual terbatas pada konteks penyamaan manusia dengan gorila.

Saya tidak tahu bahwa NP kerap menghina Presiden Jokowi. Andaikata memang benar NP kerap menghina Presiden Jokowi maka jelas saya tidak akan membenarkan sikap dan perilaku tidak benar tersebut.

Bukan akibat Jokowi kebetulan presiden dan kebetulan sahabat saya sejak beliau walikota Solo, namun akibat saya memang tidak pernah membenarkan penghinaan yang dilakukan oleh sesama manusia terhadap sesama manusia apalagi sesama warga Indonesia

Demokrasi


Seperti sebenarnya telah saya ungkap dalam naskah prihatin atas penghinaan terhadap Natalius Pigai, memang Orde Reformasi yang telah meruntuhkan Orde Baru telah menghadirkan demokrasi di persada Nusantara.

Demokrasi menghadirkan kebebasan berpendapat dan kebebasan mengungkap pendapat namun sama sekali bukan berarti demokrasi menghadirkan kebebasan menghina sesama manusia dengan alasan apa pun.

Bahkan secara hukum di masa demokrasi jamanow, setiap insan Indonesia termasuk Joko Widodo, Natalius Pigai, kau dan aku dilindungi undang-undang anti pencemaran nama baik serta anti diskriminasi ras dan agama.

Maka ketimbang saling menghina yang terkesan tidak beradab adalah lebih beradab apabila ada yang merasa keberatan bahwa Presiden Jokowi dihina maka silakan laporkan sang penghina ke polisi agar diproses sesuai hukum yang berlaku.

Menghargai


Mohon dimaafkan bahwa sebagai pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan, saya memang menghargai sikap seseorang yang telah dihina secara  tidak beradab, namun tidak membalas penghinaan tersebut secara tidak beradab pula.

Sampai saat menulis naskah ini, saya tidak mendengar berita maupun desas-desus bahwa Natalius Pigai menggunakan haknya sebagai warga Indonesia untuk melaporkan para penghinanya ke polisi atas dugaan pelanggaran hukum dalam bentuk pencemaran nama baik maupun diskrimasi ras, suku dan agama. Mohon dimaafkan jika saya keliru.

Menurut saya Natalius Piagai sebagai seorang umat Nasrani berupaya mewujudkan ajaran Jesus Kristus yaitu pengampunan berdasar kasih-sayang bukan sekadar sebagai hafalan sekolah minggu namun benar-benar menjadi sikap dan perilaku nyata. Mohon diampuni jika saya keliru. [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi dan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan


Komentar Pembaca
Opini Jaya Suprana: 200 Mubaligh
Penyelidikan Independen PBB Terhadap Suriah
Skopofobia

Skopofobia

SELASA, 22 MEI 2018

Zaman Darurat Kemanusiaan

Zaman Darurat Kemanusiaan

MINGGU, 20 MEI 2018

Takut Merasa Malu

Takut Merasa Malu

SABTU, 19 MEI 2018

Sebaiknya Jangan Pukul Rata

Sebaiknya Jangan Pukul Rata

JUM'AT, 18 MEI 2018

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi
Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

, 24 MEI 2018 , 14:00:00

Maradona Dampingi Maduro

Maradona Dampingi Maduro

, 18 MEI 2018 , 02:14:00

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

, 17 MEI 2018 , 19:22:00

Penghargaan

Penghargaan "Inspirator Bangsa"

, 17 MEI 2018 , 05:56:00