Hanura

Mencurigai Nasionalisme

Menuju Peradaban  KAMIS, 10 MEI 2018 , 06:49:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Mencurigai Nasionalisme

Jaya Suprana/Net

AKIBAT di masa remaja gemar mendengar pidato Bung Karno kemudian berguru kedaulatan ekonomi kepada Kwik Kian Gie, maka kini saya telanjur memiliki keyakinan bahwa sebagai warga bangsa Indonesia saya wajib mengutamakan semangat nasionalisme sebagai bekal menempuh perjalanan hidup di tengah kemelut peradaban yang disebut sebagai globalisasi.

Keyakinan saya dipermantap Samuel Huntington di dalam buku The Clash of Civilizations yang menegaskan bahwa justru di era globalisasi setiap bangsa harus memiliki semangat nasionalisme demi tidak tertelan arus gelombang badai topan globalisasi yang dahsyat menerpa planet bumi abad XXI.

Namun akhir-akhir ini terjadi berbagai perubahan zaman yang menimbulkan kecurigaan di lubuk sanubari saya bahwa jangan-jangan nasionalisme sebenarnya sudah anakronis  alias  ketinggalan zaman.

Xenophilia


Sebagian masyarakat Indonesia masa kini menderita xenophilia, yakni memuja asing. Misalnya kelompok masyarakat tertentu, terutama yang berduit, di persada Nusantara masa kini jauh lebih menghargai produk buatan luar negeri ketimbang dalam negeri bahkan memberhalakan produk luar negeri untuk pamer kemahakayarayaan diri sendiri.

Maka tas produksi Tanggulangin tidak mampu bersaing melawan tas bermerek Louis Vuitton, Channel apalagi Hermes yang harganya sedemikian mahal, sehingga bisa untuk membeli bukan tas tetapi pabrik tas di Tanggulanin.

Banyak orang tua bangga menyekolahkan anaknya di sekolah internasional agar bisa berbahasa asing sambil tidak bisa berbahasa Indonesia. Di sekolah internasional anak-anak Indonesia dididik agar lebih mengenal Kaisar Napoleon ketimbang Pangeran Diponegoro.

Kelompok masyarakat tertentu di Indonesia jauh lebih percaya kepada jamu buatan China ketimbang jamu buatan Indonesia yang dalam hal khasiat sebenarnya tidak kalah ketimbang jamu buatan negeri mana pun di planet bumi ini.

Para pencinta musik sok gengsi di Indonesia  jauh lebih bangga apabila mengaku diri penggemar Selena Gomez atau Centre Girl Group K-Pop ketimbang dangdut apalagi kroncong.

Kini di Indonesia banyak warga menggemari Kentucky Fried Chicken padahal rasanya tidak lebih lezat ketimbang ayam goreng Mbok Berek. Mati pun lebih bangga di rumah sakit Singapura apalagi Houston, ketimbang di rumah sakit Jakarta apalagi puskesmas Sakiramke.
 
Impor


Ketika menyarankan agar perbankan dan perhotelan lebih mengutamakan tenaga profesional Indonesia ketimbang asing langsung saya dicemooh sebagai tua bangka bau tanah sok nasionalis ketinggalan zaman.

Saya distigmasisasi sebagai nasionalis ekstremis akibat protes bahwa jamu dianaktirikan di negeri sendiri sementara industri farmasi yang dianakemaskan sebenarnya memiliki 90 persen bahan baku farmasi yang harus diimpor.

Ternyata lebih dari 90 persen bawang putih yang beredar di Indonesia bukan hasil pertanian para petani Indonesia sendiri namun hasil impor para importir bawang putih hasil pertanian para petani bukan Indonesia.

Meski begitu banyak warga Indonesia membutuhkan lapangan kerja ternyata impor tenaga kerja asing digalakkan.

Konon syarat wajib mampu berbahasa Indonesia untuk tenaga kerja asing secara konstitusional sudah dihapus demi memudahkan tenaga kerja asing mengambil alih lapangan kerja bagi tenaga kerja Indonesia di bumi Indonesia sendiri.

Konon para pemilik modal dari China hanya sudi mendirikan pabrik atau perusahaan di Indonesia apabila mereka dapat mempekerjakan tenaga kerja China di perusahaan mereka di Indonesia sebab TKC lebih rajin, disiplin, produktif dan lebih segala-galanya ketimbang TKI.

Sementara saya menghadapi jalan total buntu ketika berhasrat mendirikan pabrik jamu di RRChina dengan seluruh karyawan maunya saya bawa dari Semarang, sebab mereka lebih piawai mengolah produk jamu ketimbang tenaga kerja China.

Gejala

Perca-perca fakta non fiksi itu potensial sebagai gejala yang memicu kecurigaan bahwa jangan-jangan memang apa yang disebut sebagai nasionalisme itu sebenarnya sudah anakronis alias sudah usang alias sudah kadaluwarsa alias sudah ketinggalan zaman maka layak dipindahkan dari kotak arsip berlabel jamanow ke kotak sampah berlabel jamanout. [***]

Penulis adalah pembelajar peradaban Nusantara masa kini


Komentar Pembaca
Opini Jaya Suprana: 200 Mubaligh
Penyelidikan Independen PBB Terhadap Suriah
Skopofobia

Skopofobia

SELASA, 22 MEI 2018

Zaman Darurat Kemanusiaan

Zaman Darurat Kemanusiaan

MINGGU, 20 MEI 2018

Takut Merasa Malu

Takut Merasa Malu

SABTU, 19 MEI 2018

Sebaiknya Jangan Pukul Rata

Sebaiknya Jangan Pukul Rata

JUM'AT, 18 MEI 2018

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi
Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

, 24 MEI 2018 , 14:00:00

Maradona Dampingi Maduro

Maradona Dampingi Maduro

, 18 MEI 2018 , 02:14:00

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

Buka Puasa Bersama Di Istiqlal

, 17 MEI 2018 , 19:22:00

Penghargaan

Penghargaan "Inspirator Bangsa"

, 17 MEI 2018 , 05:56:00