Hanura

Harkitnas, Bangkit Bersama Lawan Terorisme

Suara Publik  MINGGU, 20 MEI 2018 , 07:19:00 WIB

BEBERAPA hari sebelum masuk bulan suci Ramadhan, bangsa kita diserang oleh berbagai macam aksi terorisme di beberapa titik.

Pertama, pemberontakan narapidana teroris di Markas Korps Brimob Kelapa Dua, Depok (8/5) yang menewaskan lima polisi yang sedang bertugas yaitu Iptu Yudi Rospuji, Aipda Denny Setiadi, Brigadir Fandy Setyo Nugroho, Briptu Syukron Fadhli, dan Briptu Wahyu Catur Pamungkas. Kesemuanya mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa karena gugur saat tugas.

Kedua, aksi bom bunuh diri di tiga Gereja yang ada di Surabaya pada Minggu pagi, 13 Mei 2018, yaitu  Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Utara, Gereja Kristen Indonesia Jalan Raya Diponegoro, dan GPPS Jemaat Sawahan di Jalan Arjuna. Akibat kejadian tersebut, banyak jiwa tak berdosa menjadi korban tewas maupun luka-luka dari kebiadaban aksi para teroris tersebut.

Ketiga, Minggu malamnya di hari yang sama, ledakan bom terjadi di lantai lima blok B nomor 2 Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Keempat, teroris juga meledakan bom di depan gerbang Mapolrestabes Surabaya pada Senin 14 Mei 2018 dengan pelaku sepasang suami istri yang membawa anak kecil di atas motor yang dikendarainya. Fenomena ini merupakan modus baru, dimana para pelaku teror melibatkan anak-anak dalam menjalankan aksinya.

Dan kelima, serangan terorisme beraksi di kawasan Mapolda Riau, Pekanbaru, Riau pada Selasa, 16 Mei. Para pelaku menabrakan mobil yang mereka kendarai ke pagar halaman masuk Mapolda dan kemudian melakukan penyerangan. Satu anggota polisi tewas dalam peristiwa itu.

Dalam kurun waktu yang tidak begitu berjauhan, aksi terorisme telah berhasil menembus batas pertahanan kita, baik dari dalam maupun dari luar. Ada pesan yang ingin mereka sampaikan, juga ada agenda besar yang sedang mereka rencanakan.

Saat kita abai dan lengah, mungkin saja aksi-aksi yang serupa dengan frekuensi yang lebih tinggi akan mereka lakukan. Kita harus tetap tenang dan waspada sembari membenahi sistem pertahanan dan keamanan negara.

Dari serangkaian aksi terorisme tersebut, nampak terlihat jelas bahwa mereka merencanakan aksi terornya secara terstruktur, sistematis dan massif, yang tentu dengan agenda tujuan utamanya adalah menyebarkan rasa ketakutan kepada masyarakat. Jika benar bahwa masyarakat merasa takut, maka para teroris itu telah berhasil melaksanakan misinya.

Dalam hal ini, negara harus hadir dalam upaya memberikan jaminan perlindungan kepada setiap warganya untuk dapat menghirup nafas kebebasan tanpa adanya rasa kecemasan dan ketakutan yang ditimbulkan oleh para pelaku teror.

Negara harus segera melakukan upaya penanganan terorisme secara terukur dan komprehensif, di mana pemerintah dan aparat penegak hukum harus lebih tegas kepada para pelaku tindak pidana terorisme sembari tidak abai atas Hak Asasi Manusia.

20 Mei 2018 adalah satu momentum di mana kita mengingat kembali sejarah Hari Kebangkitan Nasional yang ke-110. Pada saat itu, para tokoh perintis dan pendiri bangsa ini berkumpul untuk membangkitkan api semangat nasionalisme untuk dapat berjuang melawan segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Api semangat ini telah membakar setiap anak bangsa untuk melakukan perlawanan.

Buahnya, 37 tahun kemudian, Bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaannya dari penjajahan yang telah dilakukan bangsa asing selama berabad-abad.

Hari Kebangkitan Nasional artinya kita berani menyuarakan kebenaran dengan lantang serta berani melawan segala bentuk penindasan.

Semangat nasionalisme menumbuhkan rasa kebersamaan dan keberanian sekaligus menghilangkan rasa takut dari segala bentuk teror dan penindasan oleh Belanda dan Jepang.

Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa di samping hanya sebagai momentum untuk ‘mengingat kembali’, tetapi kita harus ‘menghadirkan ulang’ api semangat Kebangkitan Nasional itu dalam konteks saat ini. Di mana, dalam situasi kehidupan bangsa yang sedang diserang oleh para pelaku teror, kita harus bersatu padu untuk menyuarakan bahwa tindakan semacam itu adalah kesalahan fatal. Atas nama apapun, tidak ada pembenaran atas aksi terorisme.

Kita juga perlu untuk ‘menghadirkan kembali’ api semangat Hari Kebangkitan Nasional untuk secara bersama-sama melawan para teroris. Baik pemerintah maupun civil society memiliki tugas dan kewajiban yang sama untuk melakukan perlawanan kepada terorisme.

Kita harus berbagi tugas, untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa tidak ada ruang kosong di negeri ini untuk ditempati oleh mereka yang intoleran dan melakukan teror terhadap kemanusiaan.

Sekali lagi, dalam konteks saat ini, Hari Kebangkitan Nasional artinya menghadirkan keberanian untuk melakukan perlawanan terhadap terorisme yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia yang sama-sama kita cintai ini. Kita harus segera bangkit, untuk kemudian melawan. [***]


Heru Slana Muslim
Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda Periode 2018-2020







Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Salat Id Di Lebanon Selatan

Salat Id Di Lebanon Selatan

, 16 JUNI 2018 , 22:13:00

Liburan Di Monas

Liburan Di Monas

, 16 JUNI 2018 , 14:40:00

<i>Open House</i> Ketua Majelis Syuro PKS

Open House Ketua Majelis Syuro PKS

, 16 JUNI 2018 , 16:48:00