Hanura

Ragam Kisah Pilu Terungkap Saat Delegasi DPD Kunjungi TKI Di Qatar

DPD RI  SELASA, 29 MEI 2018 , 16:02:00 WIB | LAPORAN: HENDRY GINTING

Ragam Kisah Pilu Terungkap Saat Delegasi DPD Kunjungi TKI Di Qatar

Ilustrasi/net

RMOL. Kedutaan Besar RI di Doha, Qatar, saat ini menampung 45 pekerja migran bermasalah yang masih menunggu penyelesaian kasus dan proses kepulangan mereka ke Tanah Air.

Kasus-kasus mereka antara lain pekerjaan yang diberikan tidak sesuai dengan yang dijanjikan, dokumen ditahan, dan gaji yang tidak dibayarkan. Juga ragam bentuk penganiayaan misalnya disiksa dengan disetrika, dipukul dengan wajan penggorengan di bagian kepala, dinikahi siri, ditelantarkan, bahkan ada yang dikriminalisasi.

Temuan yang mengenaskan ini terungkap dalam kunjungan delegasi Komite III DPD RI yang dipimpin Wakil Ketua Komite III DPD RI, Abdul Aziz, ke shelter pekerja migran Indonesia bermasalah di KBRI Doha, pada Senin kemarin (Senin, 28/5).

Dalam sambutannya, Abdul Aziz, menyatakan, kehadiran DPD RI di Qatar untuk meninjau dan melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU 18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

"Kami sedang mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh pekerja migran Indonesia yang bermasalah dan akan membantu mencarikan solusinya," kata Abdul Aziz.

Banyak kasus pekerja migran Indonesia yang disebabkan proses keberangkatan tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia. Kesalahan prosedur biasanya diawali dari proses keberangkatan di Indonesia. Mereka yang berangkat secara unprocedural umumnya diiming-imingi pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri, terdesak kebutuhan keluarga, hingga dipaksa berangkat karena utang budi setelah dipinjami uang.

Contoh kasus menimpa Wastiri, TKW (tenaga kerja wanita) asal Jawa Tengah, yang mengalami penyiksaan oleh majikan perempuannya.

"Saya sempat minta pulang tapi enggak dikasih, surat-surat diambil, sering disiksa majikan perempuan ketika anak-anaknya tidak di rumah, hingga pernah disetrika," terang Wastiri.

Sani, TKW dari Banten, mengaku sering disiksa majikan perempuan karena cemburu. Ia dituduh mencuri perhiasan majikan sehingga mendapat penyiksaan dengan cara dipukul di bagian kepala pakai penggorengan.

Lain lagi kasus yang dialami Nanang dan Dede, dua bersaudara dari Cianjur. Ia harus membayar Rp 16 juta untuk bisa pergi ke Qatar karena ditawari kerja di bagian dekorasi. Sesampainya di Qatar mereka malah dipekerjakan sebagai buruh bangunan.

"Saya dijanjikan gaji oleh sponsor 2.500 QR, tetapi hanya dibayar 1.000 QR," jelas Nanang.

Sedangkan TKW bernama Casmen binti Basir, asal Indramayu, dinikahi secara siri oleh majikan laki-lakinya tapi tidak bertanggung jawab.

"Saya 11 tahun belum pulang ke Indonesia, dan sekarang memiliki anak umur 7 tahun," jelas Casmen.

"Kami meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan pekerja migran Indonesia yang bermasalah," tegas GKR Ayu Koes Indriyah, anggota DPD RI dari Jateng.  

Delegasi Komite III DPD RI terdiri dari Abdul Aziz (Sumsel), Rosti Uli Purba (Riau), GKR Ayu Koes Indriyah (Jateng), I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (Bali), Habib Hamid Abdullah (Kalsel), Rafli (Aceh), Muslihuddin Abdurrasyid (Kaltim) dan ABD. Jabbar Toba (Sultra). [ald]

Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Salat Id Di Lebanon Selatan

Salat Id Di Lebanon Selatan

, 16 JUNI 2018 , 22:13:00

Liburan Di Monas

Liburan Di Monas

, 16 JUNI 2018 , 14:40:00

<i>Open House</i> Ketua Majelis Syuro PKS

Open House Ketua Majelis Syuro PKS

, 16 JUNI 2018 , 16:48:00