Hanura

Meluruskan Makna Ahlul Bait

Suara Publik  SELASA, 29 MEI 2018 , 18:58:00 WIB

NABI SAW bersabda: "Barangsiapa lindungi seorang dari Ahlulbait-ku (Habaib) atau lakukan kebaikan kepada mereka atau tutupi aurat mereka (berikan sandang) atau kenyangkan orang yang lapar dari mereka, maka akan bangkit di hari akhir hingga aku mencukupkannya. Saat bangkit manusia yang melakukan semua itu, akan mendengar panggilan dari Allah Swt; Wahai Muhammad, wahai kekasihku, sungguh Aku telah menjadikan mereka berkecukupan, maka Aku telah menempatkan mereka dari surga sebagaimana engkau inginkan. Dia akan menempatkan mereka di sebuah wahana sebagaimana mereka tak berjarak dengan Rasulullah Saw."

Sumber hadis di atas merujuk pada kitab rujukan Syiah, yaitu Man La Yahdzuruhul Faqih halaman 202. Sementara pengertian Ahlul Bait di atas yang dimaksudkan adalah seluruh keturunan Nabi Saw hingga kini, tidak terbatas pada keturunan Ahlul Bait yang lebih spesifik seperti yang disinggung dalam surat Ahzab ayat 33. Ahlul Bait dalam hadis di atas sebagaimana disinggung Ayatullah Sayid Adil Alawi dalam kitabnya mencakup pada seluruh keturunan Nabi Saw secara genetik yang diistilahkan habaib di Indonesia.

Menurut Sayid Adil Alawi yang bergelar Ayatullah di Negeri Mullah Iran, Ahlul Bait terbagi menjadi empat istilah. Empat kategori tersebut berdasarkan hasil risetnya terkait Ahlul Bait yang ditemukan dalam berbagai hadis. Ada istilah Ahlul Bait yang punya makna lebih spesifik pada manusia pilihan yang disinggung dalam surat Al Ahzab ayat 33 sebagai berikut;

"Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya."

Pengertian Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat di atas adalah figur mulia Rasulullah Saw, Imam Ali sa, Hababah Fatimah Az Zahra sa, Sayidina Hasan sa dan Sayidina Husein sa. Mereka adalah Ahlul Bait dalam pengertian "Akhosh" yang artinya sangat khusus atau  lebih khusus.

Ada Ahlul Bait yang punya makna khusus atau "Khos". Menurut Sayid Adil Alawi yang termasuk ulama produktif menulis banyak buku, berpendapat bahwa Ahlul Bait dalam pengertian khusus diibaratkan dalam hadis Safnatun Najah. Mereka adalah generasi yang bermula dari Imam Ali Zainal Abidin sa hingga generasi kedua belas dari Rasululllah Saw yang penghujungnya diyakini sebagai Imam Mahdi, sang juru selamat dunia.

Hadis Safinah yang dimaksud sebagai berikut; Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya permisalan Ahlulbaitku di antara kalian laksana bahtera Nabi Nuh as. Barang siapa yang menaikinya maka ia akan selamat dan barang siapa yang enggan menaikinya, maka ia akan tenggelam dan binasa."

Dalam tradisi Syiah, Ahlul Bait  dengan makna  "Khos" terlebih "Akhos" berkedudukan sebagai imam yang wajib ditaati dan dipahami sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah saw minus kenabian hingga tersambung kepada Imam Mahdi sa. Sementara Sunni meyakini mereka sebatas manusia-manusia mulia atau abror yang punya jalur riwayat sangat kuat bersambung pada Rasulullah Saw.  

Perilaku mereka juga diyakini hujjah atau landasan agama karena bersambung kepada Rasulullah Saw. Secara implementasi Sunni dan Syiah punya persepsi yang sama tapi beda istilah sehingga awam atau pihak-pihak yang baru paham seringkali terjebak pada kesalahpahaman.

Apalagi pengertian Ahlul Bait dalam Toriqoh Alawiyah bukan hanya berpegang pada Ahlul Bait secara Akhos dan Khos, tapi juga pada Ahlul Bait dalam pengertian umum. Menurut kategori Ahlul Bait dengan makna umum sebagaimana disinggung dalam hadis di awal tulisan ini, Ahlul Bait mencakup pada seluruh keturunan Rasulullah Saw hingga kini yang juga sekaligus bentuk janji Allah Swt kepada Nabi Saw dalam surat Al Kautsar.

Allah Swt dalam surat Al Kautsar ayat 1 berfirman: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak."

Pengertian Al Kaustar yang diterjemahkan nikmat yang banyak adalah keturunan Nabi Saw yang melimpah di seluruh penjuru dunia, termasuk di Nusantara. Bahkan para keturunan Nabi Saw melebur di setiap negeri yang diinjak. Para keturunan Nabi Saw di seluruh pelosok tidak lagi teridentifikasi sebagai orang asli Arab tapi sudah menjadi bagian dari warga negeri tersebut. Ini bisa diikatakan bentuk keberkahan dan kenikmatan tersendiri dari garis keturunan Nabi Saw. Ada keturunan Nabi Saw di Saudi, Yaman, Irak, Lebanon, dan negeri-negeri lainnya di Eropa, Amerika, Afrika, Asia hingga Indonesia.

Ada juga Ahlul Bait dengan makna lebih umum. Secara genetik, mereka bukan dari keturunan Nabi Saw, tapi secara perilaku dianggap sebagai Ahlul Bait. Mereka disebut sebagai Ahlul Bait kehormatan sebagaimana Rasulullah Saw menyebut Salman Al Farisi dari kami, Ahlul Bait. Nabi Saw bersabda, "Salman minna, Ahlil Bait." Dengan demikian, pintu Ahlul bait terbuka kepada siapa saja yang mengikuti garis Rasulullah Saw.

Dalam istilah kalangan Habaib di Indonesia ada ungkapan "Muhibbin". Kata ini adalah ungkapan kehormatan diperuntukkan pada kalangan ulama dan siapa pun yang mencintai keluarga Rasululllah Saw. Terkadang kecintaan mereka pada habaib tampak berlebihan, tapi itulah ungkapan cinta berharap mendapat posisi Ahlul Bait kehormatan.

Sayid Adil Alawi dalam salah satu majelisnya menganalogikan Ahlul Bait itu sama seperti status orang tua. Menghormati orang tua itu wajib tapi kewajiban itu tidak gugur ketika dirinya menjadi orang tua bagi anaknya.  Begitu juga kewajiban menghormati habaib juga berlaku pada habaib sendiri.

Alireza Alatas

Pembela ulama dan NKRI, aktivis SILABNA (Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara)

Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Salat Id Di Lebanon Selatan

Salat Id Di Lebanon Selatan

, 16 JUNI 2018 , 22:13:00

Liburan Di Monas

Liburan Di Monas

, 16 JUNI 2018 , 14:40:00

<i>Open House</i> Ketua Majelis Syuro PKS

Open House Ketua Majelis Syuro PKS

, 16 JUNI 2018 , 16:48:00