Hanura

Kopi Liberica Dan Duren Otak Udang Di Palangka Raya

Suara Publik  SENIN, 09 JULI 2018 , 14:53:00 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

Kopi Liberica Dan Duren Otak Udang Di Palangka Raya
TARI Gelang Dadas dari Kabupaten Barito Timur mengawali acara pembukaan Pelatihan Ahli Pers Nasional PWI Selasa (3/7) pagi di Hotel Luwansa, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Peserta acara PWI ini 40 wartawan, Ketua dan Sekretaris Dewan Kehormatan PWI seluruh Indonesia. Berlangsung selama dua hari 3-4 Juli.

Seusai acara pembukaan Pelatihan Ahli PWI itu, ketemu Kepala Stasiun TVRI Kalimantan Tengah, Aji Erawan. Hampir saya lupa karena lama tak ketemu. Aji adalah adik bungsu Pak Narto Erawan, pakar perfilman Nasional. Almarhum Narto bukan hanya sahabat saya puluhan tahun. Tapi juga merangkap sebagai guru banyak insan film.

Beliau lama menjabat Direktur Film Departemen Penerangan dan anggota Lembaga Sensor Film. Dengan latar belakang itu, sukarlah menolak undangan Aji Erawan yang mendadak meminta saya jadi pembicara acara Dialog Pers yang saya kira spontan dia cetuskan karena ketemu saya. Acara itu disiarkan live di studio TVRI Palangka Raya, Selasa (3/7) siang selama satu jam. Tampillah kami bersama Ketua PWI Kalteng, Sutransyah dan dipandu Ayu, sebagai host. Prinsip  kerja jurnalistik secara benar cukup mendalam dibahas dalam acara itu.

Calon Ibukota RI

Palangka Raya adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Sekaligus calon Ibukota Negara Republik Indonesia - seperti yang dicanangkan Presiden Soekarno di era pemerintahannya. Kota ini memiliki luas wilayah 2.400 km² dan berpenduduk "hanya" 376.647 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 92.067 jiwa tiap km² (Sensus 2015). Ini cukup menjelaskan mengapa kota ini tidak punya kamus macet sampai sekarang. Siang maupun malam.

Sebelum otonomi daerah pada tahun 2001, Kota Palangka Raya hanya memiliki dua kecamatan: Pahandut dan Bukit Batu. Kini secara administratif, Kota Palangka Raya terdiri atas lima kecamatan: Pahandut, Jekan Raya, Bukit Batu, Sebangau, dan Rakumpit.

Saya tiba di Palangka Raya Senin (2/7) malam. Dijadwalkan memberikan sambutan dan  mengisi "studi kasus sengketa pers" di acara PWI itu. Ini kunjungan saya yang kedua di Palangka Raya. Yang pertama, di tahun 2004 saat mengikuti Kongres PWI yang dibuka oleh Presiden Megawati. Menyebut Palangka Raya, ingatan seperti secara otomatis ngeklik pada kisah yang tak terlupakan empat belas tahun lalu.

Salah Wesel

Hari itu, di tahun 2004, saya ke Palangka Raya menumpang private jet Bang Surya Paloh. Satu pesawat dengan antara lain, pemred Kompas Suryopratomo (sekarang Dirut Metro TV), aktor Anwar Fuady, tokoh pers Nasruddin Hars (alm), dan Surya Paloh sendiri.

Di tengah penerbangan menuju Palangka Raya, Surya Paloh menginformasikan ada gangguan cuaca. Pesawat tidak bisa mendarat sesuai jadwal. Konsekwensinya, pendaratan pesawat sementara akan dialihkan ke bandara terdekat. Pilihannya: Pangkalan Bun atau Banjarmasin. Karena ditanya, saya usul Banjarmasin. Itulah kemudian yang diputuskan pemilik pesawat.

Pesawat mendarat mulus di bandara Banjarmasin. Ketika pintu pesawat dibuka, penumpang disambut karpet merah, tari-tarian dan kalungan kembang. Kami semua melongo.

Anwar Fuady pun bersuara. "Luar biasa. Belum jadi presiden. Baru peserta konvensi Calon Presiden Partai Golkar saja sudah disambut seperti ini," katanya sambil tertawa lebar. "Bagaimana kalau sudah jadi presiden?" sambungnya lagi. Sambil tangannya menggamit pundak Surya Paloh.

Di tahun itu, Surya Paloh dan Anwar Fuady memang tercatat sebagai peserta Calon Presiden versi Konvensi Partai Golkar.

Di ruang VVIP bandara sambutan lebih meriah. Makanan dan minuman berlimpah. Puluhan muda mudi berpakaian khas daerah.

Anwar Fuady beraksi lagi. Ketemu kepala bandara, dia minta siap-siap jadi KSAU. Ada belasan orang di bandara itu yang dia janjikan jabatan di pusat jika nanti dia jadi Presiden RI. Karena tak tahan menahan tawa geli, saya pamit ke luar mau mengisap rokok.

Selang sepuluh menit baru kembali ke ruang berkumpul tadi.

Inilah kejutannya. Ruangan yang semula ramai saya temukan sudah sepi. Puluhan penari dan tamu yang tadi menyambut sudah tak terlihat. Yang tinggal hanya penumpang privat jet itu saja. Meja pun bersih dari makanan dan minuman yang berlimpah tadi.

Apa yang terjadi? Ternyata rombongan penyambut salah wesel atau salah informasi. Mereka mengira pesawat yang mendarat tadi pesawat yang ditumpangi rombongan Presiden Megawati.

Sebelumnya, memang hampir bersamaan, pesawat kepresidenan juga menghadapi hambatan pendaratan di Palangka Raya karena cuaca. Pengawas bandara pun mengusulkan supaya mendarat di Banjarmasin.

Tapi kendala cuaca yang dihadapi pesawat Presiden tidak berlangsung lama. Cuaca ternyata sudah membaik. Maka pesawat Megawati pun meneruskan perjalanan dan mendarat mulus di Palangka Raya.

Putusan Kongres PWI di Palangka Raya 2004 mengukuhkan Tarman Azzam kembali memimpin PWI Pusat untuk priode kedua.

Sedangkan Konvensi Calon Presiden Partai Golkar dimenangkan oleh Jendral Wiranto.

"Untung juga saya tak menang. Belum dilantik bisa mati saya karena sudah menjanjikan jabatan kepada lebih 8.000 orang. Jabatan Wakil Presiden saja, saya janjikan kepada sekitar 15 orang," papar Anwar Fuady kemudian. Diiringi ketawa yang berderai, ketawa  khasnya.

Delay 3 Jam

Senin (2/7) petang pesawat Garuda GA 552 saya tumpangi menuju Palangka Raya, delay tiga jam. Rencana take off pukul 14.55. Masih di ruang tunggu delay 40 menit. Kemudian boarding. Penumpang diangkut bus ke tempat parkir pesawat. Di sini delaynya lama. Penyebab keterlambatan: menunggu penyelesaian administrasi bayi yang sakit.
Setelah delay 90 menit, barulah Pilot, Capt Bhakti Kusumah mengumumkan penyebab keterlambatan. Pesawat siap lepas landas. Namun, katanya masih harus menunggu perintah terbang dari menara pengawas. "Sampai waktu yang belum bisa ditentukan," kata pilot.

Waktu itu sudah pukul 17.00 WIB. Seketika terbayang wajah Wina Armada, Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat. Pukul 14.30 WIB tadi Komisaris MNC Group itu ditolak terbang karena terlambat check-in, sekitar 10 menit  setelah counter Garuda tutup. Sempat kami usahakan minta bantuan melalui teman di Garuda, tapi tidak bisa. Karena sudah boarding, katanya. Penolakan atas usaha teman tadi terjadi pada pukul 15.30 WIB. Padahal pesawat sendiri baru mengudara pukul 17.50. setelah delay 3 jam.

Total dua jam menunggu di lapangan parkir baru petugas di menara pengawas memberi izin terbang. Kasihan Wina. Kasihan Garuda.

"Ini baru minta tambahan avtur," kata pramugari. Berapa tambahannya,  tak jelas. Yang pasti cukup banyak  avtur yang dibutuhkan selama dua jam menghidupkan mesin pesawat di parkiran. Menurut hitungan kalau pesawat berputar-putar satu jam di udara menunggu giliran landing, kebutuhannya 33 ribu liter solar. Taruhlan mesin hidup di parkiran cuma butuh separuhnya. Berarti kebutuhannya 33 ribu liter.

Wina sempat frustrasi semua maskapai penerbangan penuh untuk keberangkatan esok pagi. Beruntung General Manager Garuda, Yanti Siregar membantu. Tengah malah dia mengkonfirmasi memberangkatkan Wina pesawat pertama Garuda esok hari. Demikian juga dengan Ketua Dewan Kehormatan PWI Sumbar Basril Basyar yang terdampar di Jakarta. Dia tidak bisa teruskan perjalanan ke Palangka Raya karena semua pesawat penuh. Yanti juga menolong dia sehingga bisa hadiri pembukaan esok paginya.

Satu hal lagi. Kepulangan dari Palangka Raya dengan Garuda GA 553 tepat waktu. Boarding maupun landing.

Wisata Kuliner

Palangka Raya, seperti halnya banyak daerah di Indonesia termasuk kota yang memanjakan selera pemburu kuliner khas kota itu.

Selasa (3/7) siang kami dijamu makan siang oleh Wuryanto, Perwakilan Bank Indonesia di Kalteng dengan masakan serba ikan. Malamnya disuguhi duren otak udang (warna merah), di rumahnya.

Duren ini istimewa. Dagingnya merah. Gurih, manis, dan lembut seperti mentega. Duren itu berasal dari hutan desa Kasongan - dua jam naik mobil dari Palangka Raya. Lepas dari situ, langsung ditraktir Sutriansyah, Ketua PWI Kalteng menikmati Ketupat Kandangan plus ikan asap di Rumah Makan Hj. Idah, Jalan Dr Murjani, Palangka Raya.

Waktu di pesawat memang ada teman yang mengingatkan. Jangan melewatkan ketupat kandangan itu. Tapi, waktu kirim foto duren dan ketupat Kandangan yang berkuah santan ke istri, tanggapannya: "Istighfar, Pa".

Hari terakhir, Rabu (4/7) siang RM Dahlia, Pasar Besar Palangka Raya, direkomendasi masakannya maknyus. Tempat makan ini sederhana, tetapi kelezatan hidangan yang serba ikan, jempolan. Ada ikan Papuyu, salah satu ikan langka di tanah air. Di Jakarta ikan ini namanya ikan betok. Di Sengkang, Wajo, Sulsel, namanya bale Oseng (ikan Oseng). Itu  ikan favorit saya masa kecil. Dibakar, digoreng atau dipindang, sama enaknya. Di Jakarta dan di Sengkang sudah tak banyak lagi jenis ikan Oseng ini.

Tak ada informasi ketika menginap di Sengkang, Wajo, apakah Presiden Jokowi sempat menyantap ikan tersebut.

RM Dahlia dikenal luas tidak hanya oleh warga Palangka Raya, tetapi juga pendatang yang biasa atau pernah ke Ibukota Kalteng itu. Berdiri sejak 40 tahun lalu, rumah makan kini dikelola generasi kedua dan ketiga. Sampai kini masih menjadi favorit. Saat-saat tertentu pengunjung masih harus antre.

Menjelang ke bandara Tjilik Riwut, Palangkaya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Wuryanto, menelpon. Minta kami mampir di kantornya. Pria ( 50 ) asal Semarang itu ingin mengenalkan kopi Liberica. Kopi asal Pangkalan Bun. Sebelumnya dia sudah mempromosikan keunggulan kopi itu. Bersamaan ketika dia menceritakan keunggulan duren kepala udang.

Wuryanto mengaku pihaknya tertarik untuk mengangkat komoditi masyarakat setempat untuk menjadi produk unggulan nasional supaya bisa meningkatkan potensi ekonomi masyarakat di Kalimantan Tengah.

Kami bertiga dengan Plt Ketua Umum PWI Sasongko Tedjo dan Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat, Wina Armada Sukardi, mengakui kenikmatan kopi Liberica. Harum, dan aromanya menggiurkan. Kami menikmati sampai tetesan terakhir. Sayang memang kalau kopi petani Pangkalan Bun ini tidak diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas. Semoga di masa tugasnya di Kalimantan Tengah, Wuryanto bisa merealisasikan gagasan itu. Kita nantikan Kopi Liberica dan duren otak udang itu muncul sebagai produk andalan untuk pasar nasional. [***]

Penulis adalah wartawan senior, Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat

Komentar Pembaca
Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

, 16 JULI 2018 , 15:00:00

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

, 16 JULI 2018 , 13:00:00

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

, 11 JULI 2018 , 19:24:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00

JK Jadi Saksi

JK Jadi Saksi

, 12 JULI 2018 , 00:26:00