Hanura

FROM MOSCOW WITH LOVE (46)

Menuju Negeri Idaman

Oleh: M. Aji Surya

 KAMIS, 19 APRIL 2012 , 07:03:00 WIB

Menuju Negeri Idaman

m. aji surya/ist

MAN sara alad darbi wasala, barang siapa berjalan diatas jalan (yang benar) pasti akan sampai.

Cuaca pagi 19 April 2012 tampak cerah. Temperatur menunjukkan angka 9 derajat Celcius. Mendung yang menggelayut di hari kemarin sirna sudah. Sang mentari tampak gagah dan memberikan kehangatan bagi semua makhluk di bumi Moskow sejak dini hari. Dari dahan pepohonan terdengar siulan burung-burung kecil yang meloncat kesana kemari sambil bersendagurau: menikmati indahnya musim semi. Sementara itu, di atas aliran sungai Moskow tampak beberapa gumpalan sisa-sisa es musim dingin yang mengapung, seperti perahu yang sedang berlayar menuju negeri idaman.

Sebuah caravel warna hijau tiba-tiba merapat ke apartemen tua di pinggiran kota. Dari gedung yang berumur setengah abad dan kurang terawat itu muncul seorang kakek dengan tongkatnya berwarna hitam. Mengenakan jas rapi, sepatu hitam dan sesekali mengenakan kopyah hitamnya. Tubuhnya gontai walau hatinya teguh. Sambil dijaga oleh istrinya ia bergegas menuju mobil. Beberapa kopor besar berisi pakaian dan dus oleh-oleh diboyong beberapa lelaki lalu diletakkan di bagasi bagian belakang.

Di seberang sana, di pinggiran apartemen, beberapa orang melihat termangu. Diantaranya bermata sembab. Mereka melambaikan tangannya tatkala mobil berpelat merah itu pelan namun pasti meninggalkan lapangan parkir apartemen. Sang kakek tak kuasa menahan derasnya air mata karena tahu bahwa ia nyaris mustahil kembali ke apartemennya yang memberikan kehangatan keluarga dalam waktu puluhan tahun. Tiba-tiba ia teringat sebuah masa yang sangat panjang dalam hidupnya yang penuh warna. Mulai anak-anaknya yang dulu masih kecil berlarian di taman depan apartemen hingga tarian balet yang sangat disukainya. Melintas begitu saja tanpa bisa dibendung. Bagaikan aliran sungai Moskow yang pelan namun menghanyutkan.

Betapapun airmatanya meleleh tanpa henti, kakek yang sering dipanggil Awal Uzhara itu telah meneguhkan niatnya. Merealisasikan mimpi indah yang sering hadir dalam tidur-tidurnya. Meskipun raga sudah tidak muda lagi, namun semangatnya masih membaja. Tak kenal kompromi. Awal Uzhara bersiteguh menuju tempat dimana ia akan meneguk kebahagiaan tanpa batas. Bercumbu setiap hari dengan sang mentari dan bermesraan dengan tiupan angin yang membelai pepohonan. Mendengarkan keriuhan suara azan yang bersahutan dari semua penjuru. Awal sedang berjalan menuju negeri idaman bernama Indonesia.

Niat pulang yang kuat didorong oleh keinginannya untuk kembali mengabdi bagi ibu pertiwi. Di detik-detik akhir hayatnya ia ingin mengajari anak-anak muda negerinya dengan aneka ilmu yang sempat ditimbanya di negeri beruang merah sejak masa Uni Soviet. Pria begelar doktor dari Institut Perfilman Negeri Uni Soviet (VGIK) tersebut ingin menularkan ilmu sinematografi di kampus-kampus tanpa berharap imbalan apapun.

Maklumlah, Awal mengenyam pendidikan sinematografi bukan dalam waktu singkat. Kakek yang terlahir tahun 1931 tersebut mulai belajar di Uni Soviet pada 5 November 1958. Ia menamatkan tingkat sarjana selama 6 tahun dan dilanjutkan dengan S2 dalam waktu yang sama. Setelah itu, mengabdi menjadi asisten professor selama 6 tahun sebelum menyelesaikan program doktornya. Ia juga cukup berpengalaman dalam editing, penyutradaraan maupun penggunaan kamera. Beberapa karyanya bahkan mendapat penghargaan internasional.

Dalam perjalanan menuju bandara dengan caravel hijau itu, tiba-tiba saja ia tersenyum, teringat uang saku yang diberikan pemerintah negeri Adidaya sebanyak 90 rubel ($110) sebagai mahasiswa dan 150 rubel ketika menjadi asisten professor. Pada masa kejayaan Uni Soviet itu, Awal merasa cukup kaya karena uang sakunya bisa dipakai untuk nonton bioskop. Anehnya, setelah Soviet berubah menjadi Rusia, uang yang diterimanya sebagai pengajar berjumlah berlipat ganda namun tak mampu membawanya ke restoran setiap minggu dan menikmati film-film zaman modern.

Selain mengajar sinematografi, sesampainya di Bandung nanti, Awal juga ingin mengajari murid-murid istrinya dari UNPAD tentang bahasa, budaya serta sejarah Rusia yang begitu panjang dan unik. Baginya dunia mengajar bukanlah hal yang baru, sebab sejak September 1995 ia selalu dekat dengan mahasiswa jurusan budaya Indonesia Institut Ketimuran (ISAA) Moskow. Ia tidak hanya mengajarkan bahasa Indonesia dan budayanya kepada anak-anak muda Rusia, namun ia mengaku mengajari mahasiswanya untuk mencintai negeri Indonesia. Selama 17 tahun terakhir ia telah mencetak banyak anak muda Rusia mampu menyanyikan Rayuan Pulau Kelapa, Indonesia Raya dan mengenal sajak-sajak Chairil Anwar. Di antara mereka ada yang sudah menjadi dosen dan bahkan diplomat Rusia.

Mobil caravel terus merayap dalam kemacetan kota Moskow. Meski kadang berhenti total dan jalan tersendat, terasa sangat cepat di hati. Gedung-gedung lama dan baru terasa melambai-lambaikan tangan mereka kepada sang kakek yang jantungnya berdegub keras. Jembatan yang selalu dilewatinya tatkala menuju kampus seolah mengucapkan selamat jalan, dan stasiun metro yang menyembul diantara belantara gedung bertingkat menyatakan daswidaniya (selamat jalan).

Di tengah perjalanan itu, ia melihat dua mobil yang bersenggolan dan memacetkan jalanan. Mulutnya tersungging dengan senyuman kecil. Baginya kejadian ini merupakan salah satu kekonyolan kota besar Moskow yang sangat mudah ditemui. Mereka pandai menginjakkan gas tetapi lupa mengerem. Mobil bagus dan kinyis-kinyis itu menjadi penyot kanan kiri. "Kelakuan pengendara khas Rusia ini akan segera sirna dan tinggal kenangan," ujar Awal dalam hati. Ia akan mengenangnya sebagai kejadian yang lucu saja.

Tiba-tiba saja pikirannya melambung ke masa lalu. Tahun-tahun penting dalam kehidupannya di Uni Soviet dan Rusia muncul diantara ribuan kenangan yang bersemayam dalam benaknya. Musim gugur 1858 ia menginjakkan kaki di Rusia. Tidak lama setelah pecah pemberontakan PKI (1966), ia dipanggil pulang untuk ikut screening dan lolos tanpa cacat. Sayangnya, tahun 1970 dicabut paspornya yang menjadikannya seorang tanpa warga negara. Tahun 1999 Awal terpaksa mengambil warga negara Rusia demi anak dan keluarganya. Baru tahun 2001 sempat bertandang lagi pulang kampung.

Awal juga teringat bagaimana gonjang ganjing Perang Dingin tidak pernah mempengaruhi kehidupannya. Saat Uni Soviet sibuk berseteru dengan Paman Sam dan sekutunya, Awal asyik belajar dan tak hirau hiruk pikuk politik internasional dan turunannya. Ia hanya ingat harus antri panjang untuk mendapatkan roti dengan kualitas baik serta adanya toko-toko yang memberikan pelayanan khusus kepada politibiro partai komunis. Namun saat itu, dengan 3 rubel atau kisaran 4,5 dolar AS, Awal masih bisa menikmati lezatnya makanan restoran dan bepergian menggunakan taksi gelap.

Dalam perjalanan hidupnya pascakuliah, Awal sempat menjadi penerjemah film-film Rusia kedalam bahasa Indonesia untuk diputar di Pusat Kebudayaan Rusia, Kedutaan Besar Uni Soviet Jakarta. Selama masa Yeltsin berkuasa, ia bekerja pada Radio Suara Malaysia hingga ditutup pada tahun 1955. Setelah itulah ia dipinang menjadi dosen di Institut Ketimuran.

Meskipun selama hidup di Rusia tidak berlebihan, rasa sedih tetap saja menyambangi hatinya yang paling dalam pada saat akan pulang ke Indonesia. Kegalauannya muncul dan hilang dalam pertarungan melawan kerinduan kepada tanah air. Hari-hari terakhirnya di kota Moskow hanya diisi dengan lamunan atas indahnya pergaulan yang selama ini melingkupinya. Dalam bayangannya, ia pasti akan kangen dengan mahasiswanya yang ceria, pada opera dan teater yang rajin ia kunjungi.

Awal sebenarnya tidak terlalu tahu bahwa jagad Indonesia telah berubah sangat drastis. Indonesia modern bukanlah yang dulu ia kenal. Norma-norma kehidupan lama telah silih berganti dan politik nasional senantiasa merah membara. Dibawah panji demokrasi, Indonesia telah mengalami sebuah loncatan tata cara kehidupan masyarakat. Awal Uzhara dengan modal niat baik bersiteguh ingin menjadi warga negara Indonesia lagi dan mengabdi kepada ibu pertiwi.

Tak terasa, caravel hijau kini merayap diatas aspal yang membelah persawahan yang amat luas. Tanahnya terlihat mulai digemburkan traktor agar sebulan lagi bisa ditanami gandum dan bunga matahari. Diatas sana, terlihat sang mentari mencorong dengan sinarnya yang kuat. Seolah menjadi aklimatisasi Awal Uzhara sebelum tiba di negeri tercinta. Di sela-sela waktu yang ada, tangan Awal masih sempat menorehkan tulisan akhir. Sebuah puisi perpisahan dan kerinduan.

Kepada yang akrab
Oleh: Awal Uzhara

Terima kasih padamu kawan
atas apa yang kau bagikan
yang kadang tak kuhiraukan.

ditayangkan lagi kilasan
ceritera-cerita lama yang sama merata,
dibungkus kertas jutaan warna.

Luka lara terlipur
antara godaan dan godaan
di balik dendang dentingan.

Semak belukar bagaikan firdaus
di mana pujian hamburan  murah
cacian pun semakin cerah.
tiang-tiang kebahagiaan istana cita-cita 
- punah
dilanda kereta kala laju merancah.

Sudah lama kusimpan seduku
Mata pun kering tanpa air, beku

Namun, .......
Tifa mengiringi rentakan kaki menari
langit putih perak  biru menyapa
angin hanya sepoi-sepoi 
antara terasa dan tiada.....
   
Bunda?!
Kini wajahmu diliputi kabut kelam pusara
Sejalan dengan buyarnya daya nalar dan daya netra.....
Sejak dulu kurasakan pancaran matamu
Dan jamahan doa jemari halusmu
untukku .....

Aduhai bunda 
rentangkanlah kedua belah lenganmu
dan  biarlah aku saja yang datang berlari
sujud, lalu baring dipangkuanmu .....
   
Terima kasih padamu kawan
atas apa yang kau bagikan
Maaf
yang kadang tak kuhiraukan. [***]

(Penulis adalah diplomat Indonesia yang tinggal di Rusia, ajimoscovic@gmail.com)


Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.162): Pilpres Atau Adu Jangkrik?
Grace Natalie Dilaporkan Ke Bareskrim Polri

Grace Natalie Dilaporkan Ke Bareskrim Polri

, 16 NOVEMBER 2018 , 15:00:00

Kompetisi Peradilan Semu Anti Korupsi

Kompetisi Peradilan Semu Anti Korupsi

, 16 NOVEMBER 2018 , 14:17:00

Cawapres Penghina Tunanetra

Cawapres Penghina Tunanetra

, 14 NOVEMBER 2018 , 11:49:00

Prabowo Subianto Kunjungi Anwar Ibrahim

Prabowo Subianto Kunjungi Anwar Ibrahim

, 15 NOVEMBER 2018 , 10:58:00