Hanura

Kumpulkan Emas Buat Beli Pesawat RI 003

Sutan Mohammad Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

On The Spot  SABTU, 02 MARET 2013 , 10:02:00 WIB

Kumpulkan Emas Buat Beli Pesawat RI 003

Pesawat RI 003

RMOL. Jalan layang itu berdiri megah menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau (BIM).  Sejak diresmikan tujuh lalu, jalan yang membelah Kecamatan Batang Anai di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat ini belum diberi nama.

Pemerintah daerah setempat belum memutuskan nama tokoh yang akan diabadikan menjadi nama jalan sepanjang delapan kilometer itu.
 
“Dari dulu disebutnya jembatan BIM,” ujar Mawardi Samah, Sekretaris Daerah  Kabupaten Padang Pariaman. Masyarakat juga kerap menyebutnya sebagai Jalan Simpang Duku.

Jalan layang (fly over) yang baru pertama kali dibangun di Sumatera Barat ini memiliki dua jalur. Merupakan urat nadi dari maupun ke Bandara. “Jalur ini juga akses ke Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu,” papar Mawardi.

Saat musim liburan maupun naik haji, arus lalu lintas dari maupun ke Bandara cukup padat. Bandara Minangkabau—yang menggantikan Bandara Tabing—menjadi embarkasi dan debarkasi jamaah haji dari tiga provinsi: Sumbar, Bengkulu dan Jambi.  “Kalau nggak ada (jalan ini) macet sekali,” kata Mawardi.

Masyarakat Sumbar akhirnya menemukan nama tokoh yang tepat untuk diabadikan menjadi nama jalan ini. Nama tokoh itu Mr H.”Sutan Mohammad Rasyid.  Oleh Pemerintah Provinsi Sumbar nama ini lalu diusulkan ke DPRD. Dan, disetujui.

Setelah tujuh tahun berdiri, jalan ini diresmikan Kamis lalu. Peresmian dilakukan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman. Irman adalah anggota DPD yang berasal dari provinsi ini.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Wakil Gubernur Muslim Kasim, Ketua DPRD Sumbar Yultekhnil, Anggota DPR Azwir Dainy Tara,  Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Emil Salim, dan keluarga besar Mohammad Rasyid.

Peresmian dilakukan di atas jembatan. Akses lalu lintas ke arah jembatan ditutup sementara saat acara. Peresmian berlangsung sederhana. Di atas jembatan didirikan tenda warna emas khas Minang. Karpet merah dibentangkan untuk menyambut para tamu menuju tenda acara.

Sebelum diresmikan, jalan yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum ini dipercantik. Aspal dilapis lagi hingga mulus. Pembatas badan jalan dengan trotoar dicat ulang dengan warna hitam dan putih.

Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni di Padangpariaman, mengatakan, pemberian nama jalan itu merupakan bentuk apresiasi dan penghargaan pemda dan masyarakat Sumatera Barat kepada almarhum Mr Sutan Mohammad Rasyid.

Semasa hidupnya, kata dia, Sutan Mohammad Rasjid dikenal sebagai seorang pejuang perintis kemerdekaan nasional.

Selain pernah jadi Gubernur Militer dan Residen Sumatera Tengah, Sutan Mohammad Rasyid juga pernah dipercaya sebagai Duta Besar RI untuk Italia.

Pemberian nama jalan tersebut, kata Ali Mukhni, melalui penerbitan peraturan daerah saat rapat paripurna 25 Januari 2013. Diputuskan nama jalan itu mulai dari batas Kota Padang-Padang Pariaman sampai ke Bandara.

Arwin Rasyid, Dirut CIMB Niaga terharu sekaligus bangga nama ayahnya diabadikan sebagai nama jalan sentral di Sumbar. Menurut bekas Dirut Bank Danamon, ini merupakan pengakuan masyarakat Sumbar terhadap jasa-jasa ayahnya.

Ide tersebut, ungkap Arwin,  sudah terlontar dari sejumlah tokoh Sumatera Barat sejak tujuh tahun lalu. Tapi baru dapat diwujudkan tahun ini.    

Pemberian nama jalan dengan nama ayahnya itu,  kata Arwin, adalah upaya meneladani jejak para perjuangan mempertahankan kemerdekaan.  Ia menjelaskan, ayahnya bersama para tokoh pada zamannya telah berjuang demi kecintaan mereka kepada Sumatera Barat dan Indonesia.

Mereka berjuang tanpa pamrih, balas jasa dan selalu mengedepankan kebersamaan demi tercapainya Indonesia merdeka. Semangat itulah, katanya, yang relevan untuk diimplementasikan saat ini dalam mendukung pembangunan Sumatera Barat dan Indonesia.  

“Kami meyakini pemberian nama jalan ini bukan semata menghargai, tetapi bukti penghargaan kita kepada tokoh pejuang Sumatera Barat lainnya,” katanya.

Ia berharap dengan diresmikannya jalan tersebut mampu memperlancar akses jalan menuju bandara, menggerakkan roda perekonomian di Sumatera Barat yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di sini.

Nama Mohammad Rasyid bukan hanya diabadikan sebagai nama salah satu jalan penting. Masyarakat Sumbar pun mengusulkan agar Rasyid diberi gelar pahlawan nasional.

Ketua DPD Irman Gusman mendukung langkah masyarakat Sumbar mengusulkan Rasyid jadi pahlawan nasional. Menurut dia, Rasyid adalah pejuang perintis kemerdekaan dari provinsi ini. Ia berjasa mengumpulkan emas dari rakyat Sumbar pasca kemerdekaan.

Emas yang berhasil dikumpulkan itu lalu ditukar dengan pesawat Avro Anson. Pesawat itu diserahkan kepada Angkatan Udara dan diberi nama RI 003.  Meskipun pesawat yang dibeli dari hasil sumbangan masyarakat Sumbar itu jatuh, menurut Irman, ini sudah menunjukkan peran Rasyid sangat besar dalam perjuangan setelah kemerdekaan.

“Saya selaku Ketua DPD RI bersama-sama dengan anggota DPD RI dari Sumatera Barat akan mendukung Pemerintah Daerah Sumatera Barat mengusulkan ke Presiden bahwa tokoh Sutan Mohammad Rasyid sebagai pahlawan nasional,” kata Irman.

Irman mengatakan, langkah untuk mengusulkan Rasyid menjadi pahlawan nasional ini penting. Sebab bangsa ini butuh banyak tokoh yang dapat dijadikan teladan. “Pahlawan yang menunjukkan contoh dan bukti tentang semangat nasional dan cinta tanah air masih kita butuhkan” katanya.

Ini penting, lanjut dia, karena ditengah makin menipisnya semangat kebangsaan dan cinta tanah air.

Disebut Sebagai Pengganti Hatta


Wakil Gubernur Muslim Kasim ketika dengar pendapat dengan anggota Dewan dan masyarakat di Gedung DPRD Kabupaten Padang Pariaman mengusulkan Sutan Mohammad Rasyid untuk jadi pahlawan nasional untuk mengenang jasa para tokoh pejuang kemerdekaan.

Muslim mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya. Menurut dia, pengusulan Sutan Mohammad Rasyid sebagai pahlawan untuk mengukuhkan kembali peran Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Pemerintah yang dipimpin Syafruddin Prawiranegara itu merupakan mata rantai yang tidak terpisahkan dalam rangka sejarah republik ini.

Kata dia, sebagai Gubernur Militer, Sutan Mohammad Rasyid, bahu membahu dengan Syafruddin Prawiranegara untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia setelah agresi militer Belanda menyerbu Yogyakarta dan menawan Presiden Soekarno dan Wapres Hatta.

Menurut Muslim, Sutan Mohammad Rasyid juga seorang tokoh nasional , dan pernah ditempatkan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Italia.

Bung Hatta, tutur dia, pernah memuji dan menghargai tinggi dedikasi Sutan Mohammad Rasyid untuk Indonesia.

Bung Hatta pernah menyampaikan bahwa bila terjadi sesuatu dengan dirinya, maka yang akan menggantikannya adalah  Rasyid.

Ketua DPRD Padang Pariaman, Eri Zulfian pun menyambut gembira usulan tersebut, Sebagai kaum muda yang bukan pelaku sejarah ia merasa perlu untuk mengingatkan kembali masyarakat atas jasa-jasa tokoh Sumbar kepada republik.

Gubernur Militer Merangkap Menteri

Dalam sejarah nasional Indonesia, Sutan Mohammad Rasyid telah memainkan perannya, baik saat Indonesia berjuang melepaskan diri dari penjajahan Belanda, maupun mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya dari agresi Belanda.

Mr Sutan Mohammad Rasyid lahir 19 Nopember 1911 di Pariaman. Pendidikan yang dilaluinya HIS Pariaman, MULO Padang, AMS Bagian B Jakarta, Sekolah Hakim Tinggi, Jakarta tamat tahun 1938. Berbagai aktifitas dan pekerjaan dilaluinya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Di usia muda, ia pernah menjadi Ketua Jong Sumatranen Bond (Pemuda Sumatera) Cabang Padang tahun 1927-1928, Sekretaris Indonesia Muda cabang Jakarta merangkap Pemimpin Redaksi Sinar Jakarta yang diterbitkan oleh Indonesia Muda tahun 1930-1933, Sekretaris Perpustakaan Nasional (1933-1937).

Saat Indonesia diproklamasikan, Sutan Muhammad Rasjid menjabat Ketua Komite Nasional (KNI) Sumatera Barat (1945). Di masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, Rasyid ditunjuk menjadi  Gubernur Militer Sumatera Barat dan Sumatera Tengah merangkap Menteri Keamanan, Pembangunan, Pemuda, Sosial.

Ia juga menjadi anggota delegasi Indonesia dalam beberapa perundingan dengan Belanda, Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1950-1954). Duta Besar Berkuasa Penuh untuk Italia berkedudukan di Roma (1954-1958).

Rasjid meninggal di Jakarta pada 30 April 2000 pada usia 88 tahun. Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

Jatuh Di Selat Malaka, Halim & Iswahyudi Gugur

Monumen yang terletak di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang berjarak 5 km dari kota Bukittinggi ini, merupakan bukti dari sejarah panjang perjuangan Indonesia melawan Belanda.

Avro Anson RI 003 adalah pesawat ke tiga yang dimiliki Pemerintah Republik Indonesia yang diperoleh dari sumbangan masyarakat Minang terutama amai-amai (baca: ibu-ibu) yang dengan sukarela menghibahkan perhiasan emas dan peraknya untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia.

Sejarah ini bermula pada tanggal 27 September 1947 di Kota Jam Gadang, Bukittinggi. Wapres Hatta membentuk Panitia Pusat Pengumpul Emas  untuk mengumpulkan sumbangan dari rakyat yang nantinya berfungsi untuk membeli sebuah pesawat terbang untuk diterjunkan dalam misi-misi khusus guna menyelamatkan Republik Indonesia dari serangan agresi Belanda.

Selang beberapa hari setelah pembentukan panitia, Hatta menggelar apel besar di Lapangan Kantin (sekarang depan Makodim 0304/Agam). Ia menyampaikan kedaulatan negara RI sedang digerogoti Belanda. Ia pun mengimbau rakyat untuk mengulurkan tangan membantu perjuangan.

Tanpa pikir panjang, spontan orang-orang di sana terutama amai-amai mendaftarkan diri untuk menyumbangkan semua perhiasan emas dan peraknya, berupa liontin, anting, kalung, gelang, bahkan cincin kawin mereka sumbangkan.

Selain itu di tempat- tempat lain, seperti Padang Panjang dan di pinggiran kota Bukittinggi juga diadakan pengumpulan sumbangan. Hasil sumbangan itu lalu dibelikan pesawat buatan Inggris tipe Dakota dengan call sign RI 003. Pesawat mendarat di Lanud Gadut Agam.

Pada awal Desember 1947, Halim  Perdanakusuma dan Iswahyudi mendapat tugas membeli senjata ke Thailand dengan menggunakan pesawat. Tetapi malang, sebelum sampaitujuan  pesawat jatuh ke laut dekat Tanjung Hantu, perairan Selat Malaka. Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi gugur.

Nama keduanya diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU. Lanud  Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta dan Lanud Iswahyudi di Madiun. [Harian Rakyat Merdeka]

Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.162): Pilpres Atau Adu Jangkrik?
Grace Natalie Dilaporkan Ke Bareskrim Polri

Grace Natalie Dilaporkan Ke Bareskrim Polri

, 16 NOVEMBER 2018 , 15:00:00

Kompetisi Peradilan Semu Anti Korupsi

Kompetisi Peradilan Semu Anti Korupsi

, 16 NOVEMBER 2018 , 14:17:00

Cawapres Penghina Tunanetra

Cawapres Penghina Tunanetra

, 14 NOVEMBER 2018 , 11:49:00

Prabowo Subianto Kunjungi Anwar Ibrahim

Prabowo Subianto Kunjungi Anwar Ibrahim

, 15 NOVEMBER 2018 , 10:58:00