Hanura

Susaningtyas Kertopati: Untuk Teroris Perlu Tahanan Khusus

 SABTU, 13 JULI 2013 , 08:49:00 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Susaningtyas Kertopati: Untuk Teroris Perlu Tahanan Khusus

susaningtyas/net

RMOL. Sejumlah tahanan atau narapidana teroris berhasil kabur dalam kerusuhan di Lapas Tanjung Gusta, Medan. Karena itu muncul gagasan dan usulan baru agar tahanan teroris dipindahkan saja ke tahanan militer, agar tidak tercampur dengan tahanan dalam kasus lain.

Gagasan ini disampaikan oleh anggota Komisi I dari Fraksi Hanura, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati. Dengan dipenjara di tahanan militer, kata Susaningtyas, hal ini akan menjamin keamanannya, sementara dari sisi pembinaan mentalnya bisa diserahkan kepada Disbintal TNI yang profesional dengan berpayung hukum pada UU Terorisme. Dalam UU itu disebutkan bahwa TNI juga bertanggungjawab dalam penanganan masalah terorisme dan pengendalinya adalah BNPT

"Mengapa saya usulkan demikian? Karena dari segi pengawasan lebih terjamin, dan dari segi disiplin pengawasan lebih kredibel. Dari aspek pembinaan mental mereka kan selama ini militan karena di doktrin sedangkan militer juga sama militan karena doktrin," kata Susaningtyas kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 13/7).

TNI, lanjut Susaningtyas, memiliki ahli-ahli doktrin yang bisa membuka kotak pandora yang sudah terbentuk dalam jiwa dan pikiran para teroris. Dengan demikian diharapkan, selain dari jaminan aspek pengamanan, juga diharapkan dapat mengubah mindset yang sudah terbentuk dalam pikiran mereka.

Selain itu, kata Susaningtyas, payung hukum ini ada dalam UU 34 yang menyebutkan bahwa militer juga mempunyai tugas yang disebut dengan "operasi militer selain perang". Sementara dalam UU Terorisme juga disebutkan bahwa militer juga memiliki tanggungjawab dalam penanggulangan terorisme.

"Jadi ini mungkin salah satu kontrobusi militer dalam tugas preventif penanggulangan terorisme dengan mengacu pada UU terorisme dan BNPT," tegas Nuning, panggilan akrab Susaningtyas.

Hal lain yang tak kalah signifikan, lanjut Nuning, dengan dipenjara di tahanan militer maka akan ada "pengisolasian" pelaku terorisme sehingga tidak merekrut pelaku kejahatan lain yang berada di Lapas Umum. Sebab bila pelaku kejatahan lain itu, yang rata-rata memiliki jiwa yang rapuh, bisa berhasil direkrut melalui doktrin para pelaku terorisme, maka ini akan sangat berbahaya. Apalagi, pelaku kejahatan umum yang ada di Lapas umum, terutama recidivist, secara  umum sudah terlatih dan punya kemampuan dan nyali yang lebih daripada penlaku kejahatan biasa sehingga bisa menjadi calon teroris yang mapan dalam pencarian dana atau fai melalui kejahatan perampokan dan lain-lain.

Nuning pun meminta pemerintah, melalui Kemenkumham, serta DPR dan juga polisi, untuk mengkaji gagasannya ini. Hal ini mengingat berbagai aspek, seperti pelaku teroris kalau sudah dipidana menjadi lepas pembinaan dan pengawasan bila ditempatkan di lapas umum. Selain itu, teroris juga tidak pernah menyesali perbuatannya dan merasa tidak bersalah karena keyakinan bahwa apa yang mereka perbuat adalah "demi menegakan syariah agama" dan mereka direkrut dengan cara ala militer.

"Intinya perlu dibuat lapas khusus seperti di Guantanamo karena terhadap mereka harus mendapat perlakuan khusus dan diubah mindset nya sebelum kembali ke masyarakat. Tapi lapas khusus tersebu harus dalam pengawasan BNPT bersama Kemenkumham, dan polisi juga," demikian Nuning. [ysa]

Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.162): Pilpres Atau Adu Jangkrik?
Grace Natalie Dilaporkan Ke Bareskrim Polri

Grace Natalie Dilaporkan Ke Bareskrim Polri

, 16 NOVEMBER 2018 , 15:00:00

Kompetisi Peradilan Semu Anti Korupsi

Kompetisi Peradilan Semu Anti Korupsi

, 16 NOVEMBER 2018 , 14:17:00

Cawapres Penghina Tunanetra

Cawapres Penghina Tunanetra

, 14 NOVEMBER 2018 , 11:49:00

Prabowo Subianto Kunjungi Anwar Ibrahim

Prabowo Subianto Kunjungi Anwar Ibrahim

, 15 NOVEMBER 2018 , 10:58:00