Indonesia Siap Tingkatkan Konversi Sawit Ke Biofuel

Kamis, 27 April 2017, 04:13 WIB | Laporan: Elitha Tarigan

Net

RMOL. Indonesia tidak takut dengan ancaman resolusi sawit yang dikeluarkan Uni Eropa yang menjadikan deforestasi, sebagai alasan dalam melancarkan kampanye hitam dengan tujuan menjatuhkan sawit asal Idonesia.

Demikian dikatakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di sela kunjungan ke Pabrik Sawit PTPN XIV di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Rabu (26/4).

"Ini hanya masalah bisnis semata dengan menjadikan masalah enviroment sebagai alasan. Dan Perancis yang paling ribut terkait masalah sawit, padahal mereka hanya mengimpor 20 ribu ton dari total keseluruhan kebutuhan minyak sawit di Eropa sebesar 3,2 juta ton. Justru kita lah yang peduli dengan lingkungan karena penanaman sawit dilakukan di atas lahan kering, dan ini membantu penyerapan air dan membuat lingkungan menjadi hijau," jelasnya.

Menurut Amran, selain Uni Eropa, Indonesia masih memiliki pasar lain yang berpotensi besar bila dikembangkan dengan baik. Diantaranya India, Tiongkok, Turki, dan pakistan. Selain itu, konversi minyak sawit dalam negeri untuk biofuel sudah mencapai 3 juta ton, dan di tahun 2017 akan meningkat hingga 7 juta ton.

"Jika kami tingkatkan ke B.30 di tahun mendatang dengan target 13 juta ton saya kira ada negara yang tidak akan kebagian. Jadi kita tidak perlu takut dengan black campaign sawit oleh Uni Eropa," ujarnya.

Seperti diketahui, Indonesia dan Malaysia adalah produsen utama minyak sawit yang menguasai 80 persen pasar dunia. Adanya resolusi minyak sawit oleh Uni Eropa sebagai sebuah kampanye hitam dengan mengusung isu deforestasi dengan tujuan ingin melindungi produk Uni Eropa dari rapesheed, bunga matahari dan kedelai yang kalah bersaing jika dibandingkan dengan minyak sawit. Bila dari sisi produksi, sawit paling produktif dalam hal penggunaan lahan dengan hasil 4,27 ton per hektar per tahun, sedangkan rapeseed hanya menghasilkan 0,60 ton per hektar per tahun, bunga matahari 0,52 ton per hektar per tahun, dan kedelai 0,45 ton per hektar per tahun.

Amran meminta agar resolusi minyak sawit oleh Uni Eropa sebagai sebuah kebijakan perlu ditinjau kembali oleh pemerintah. Karena justru akan berdampak kepada perusakan hutan secara tidak terkendali. Selain itu juga akan menimbulkan efek domino, mulai dari harga sawit yang turun berdampak langsung pada nasib pekerja.

Jika ini terjadi maka para pekerja sawit yang selama ini hidup dari sawit akan kembali masuk hutan untuk mencari penghasilan baru dengan membuka lahan baru, yang artinya hutan akan kembali di tebang. Dan jika ini terjadi maka secara tidak langsung Uni Eropa justru yang paling bertanggung jawab terjadinya deforestasi. [wah]

Kolom Komentar


loading