Hanura

WAWANCARA

Letjen Edy Rahmayadi: Pak Djarot Bagus, Tapi Kami Lebih Hebat

Wawancara  JUM'AT, 05 JANUARI 2018 , 10:41:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Letjen Edy Rahmayadi: Pak Djarot Bagus, Tapi Kami Lebih Hebat

Letjen Edy Rahmayadi/Net

RMOL. Keputusan jenderal bin­tang tiga ini sudah bulat untuk nyagub di Pilkada Sumatera Utara (Sumut). Dia rela memilih pensiun dini melepaskan tongkat komando Kostrad. Di Pilkada Sumut Jenderal Edy disokong koalisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar dan Partai Nasional Demokrat.

Bagaimana kesiapan Jenderal Edy untuk bertarung di Sumut? Dan apa saja strategi yang akan digunakan untuk memenangkan kompetisi? Berikut penuturan lengkap Ketua PSSI ini;

Tekad Anda sudah bulat nyagub di Sumut. Sudah sampai mana proses penga­juan pengunduran diri sebagai Panglima Kostrad?
Saya sudah mengajukan pen­gunduran diri sejak dua bulan lalu, dan pengunduran diri saya sudah diproses. Proses pengun­duran diri itu kan tidak seperti membalikan telapak tangan. Jadi diajukan dulu, diproses, Insya Allah dalam waktu tidak terlalu lama keluar hasilnya. Sejak saya pensiun sebagai prajurit, maka saya kembali.

Kira-kira kapan surat kepu­tusan pengunduran diri Anda diterbitkan?

Wah kalau itu saya tidak tahu, kan masih dalam proses. Saya tahunya ya nanti kalau sudah keluar.

Tapi sekarang Anda masih Pangkostrad?

Secara undang-undang saya su­dah bukan Pangkostrad lagi, tapi masih Ketua PSSI. Karena kalau PSSI tidak ada undang-undang­nya. PSSI adalah suatu federasi sepakbola yang ada di Indonesia ini. Jadi federasi sepakbola dari Sabang sampai Marauke.

Setelah Anda resmi maju, apakah PSSI akan dilepas juga?

Oh itu enggak. PSSI itu kan amanat rakyat yang enggak bisa saya tinggalkan. Saya akan lebih leluasa setelah jadi seorang sipil. Karena kalau saya jadi tentara nanti takut mulu mereka ini.

Berarti kerjaan di PSSI tetap dilakukan?
Oh wajib itu, itu kan amanah dari rakyat Indonesia. Kalau Sumut kan hanya dari Sumatera Utara. Kalau PSSI itu dari Sabang sampai Marauke.

Berarti jika terpilih jadi gu­bernur akan rangkap jabatan dong?
Oh iya, iya. Karena kan PSSI tidak ada undang-undangnya.

Tapi apa tidak mengganggu kerja sebagai gubernur nanti­nya jika Anda terpilih?
Tidak terganggu, tidak ter­ganggu. Grand design itu sudah disiapkan. Jadi rencana, sched­ule semua berjalan. Saya ini kan sebagai ketua yang tugasnya itu mengkoordinir, eh kenapa eng­gak dijalanin, kenapa enggak dijalanin.

Persiapan untuk Sumut sendiri seperti apa?

Di Sumut tanggal 7 Januari nanti kami deklarasi. Kami di­usung oleh Gerindra, PKS, PAN, Golkar, dan Nasdem.

Daftar ke KPUD-nya kapan?
Tanggal 8 Januari.

Kapan sosialisasi?
Daftar 8 Januari terus kami sosialisaai sampai 27 Juni.

Tim kampanyenya sudah ada?

Sudah siap.

Apa isu yang akan diangkat saat kampanye?
Oh saya memperkenalkan diri. Saya memperkenalkan diri, tidak ada isu. Saya ini Edy, wakil saya ini, orangnya gini, nah pilihlah saya.

Di Sumut kan Anda akan ber­saing dengan Djarot. Apa tang­gapan Anda terkait hal ini?
Pak Djarot teman saya. Fair dong nanti kami bertandingnya. Pasti ada yang menang dan yang kalah. Kan enggak mungkin ada dua gubernurnya. Tapi pasti kami bersaing dengan fair.

Penilaian Anda tentang Djarot seperti apa?
Oh dia bagus, hebat. Tapi mu­dah-mudahan kami lebih hebat.

Tapi Djarot kan sudah berpengalaman memimpin suatu wilayah sementara Anda belum?
Oh saya kan bukan memimpin satu wilayah lagi, saya sudah pimpin dari Sabang sampai Maurauke di Kostrad.

Tapi kan bukan dalam bi­dang pemerintahan?
Ya nanti itu kami pelajarin. Insya Allah karena saya orang Sumut, makanya saya sangat tahu Sumut.

Apakah ada strategi khusus untuk menghadapi Djarot?

Enggak ada, enggak ada strategi khusus. Djarot maju ya kami sama-sama bersaing.

Apa visi-misi anda untuk memimpin Sumut?
Sumatera Utara yang ber­martabat.

Menurut Anda apa saja yang harus diperbaiki dari Sumut?
Banyak sekali. Misalnya untuk perempuan yang muslim sebai­knya berjilbab untuk menutup aurat. Begitu kan lebih bermar­tabat. Lalu kinerja pemerintah daerah dalam bidang pemban­gunan, pendidikan, kesehatan harus ditingkatkan lagi. Supaya Indonesia bisa maju melalui Sumatera Utara.

Anda pakai seragam PKS, apakah ini signal Anda akan jadi kader PKS?
Ya Insya Allah. Ini kan sebet­ulnya sudah jadi kader. Kartu anggotanya sedang diproses, akan segera punya.

Anda bisa resmi jadi kader setelah pensiun atau sebel­umnya?
Kan enggak ada aturannya itu pensiun dan tidaknya.

Tapi Anda kan masih pra­jurit, dan prajurit tidak boleh berpolitik?
Enggak ada masalah kan. Tidak masalah. Hanya kalau prajurit kan tidak boleh berpolitik praktis. Kalau sipil bebas mau berpolitik, mau praktis mau politik negara silakan saja.

Kenapa Anda pilih gabung PKS, bukannya Gerindra atau partai lainnya?

Platform dari partainya sama, dianya banyak. Kami kan butuh itu, yang lainnya enggak punya itu.

Berarti karena ngerasa klop ya sama PKS?
Yang penting pertama itu PKS mau sama saya. Kalau PKSnya enggak mau, kan enggak bisa juga. ***

Komentar Pembaca
#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?
Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

, 19 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00