Hanura

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (157)

Mendalami Sila Kelima: Menghindari Tirani Minoritas

Tau-Litik  SENIN, 22 JANUARI 2018 , 09:58:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mendalami Sila Kelima: Menghindari Tirani Minoritas

Nasaruddin Umar/Net

SAMA dengan arogansi mayoritas; tirani minoritas juga tidak sejalan dengan spirit Pancasila dan jiwa agama. Tirani minoritas terjadi manakala kelompok minoritas memaksakan kehendaknya secara ber­lebihan, melampaui porsi yang sewajarnya dalam arti luas. Dalam lin­tasan sejarah bangsa Indonesia anarkisme mayoritas dan tirani minoritas pernah ter­jadi. Almarhum Prof Deliar Noor dalam be­berapa pernyataannya sering mensinyalir kenyataan ini. Anarkisme mayoritas ialah ke­sewenang-wenangan yang dilakukan kelom­pok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Hanya karena kelompok minoritas tidak ber­daya menghadapi kelompok mayoritas maka perasaan terdhalimi jarang terungkap ke per­mukaan.

Dalam lintasan sejarah, Indonesia juga memiliki pengalaman dengan konsep tirani minoritas, dalam arti sekelompok kecil ang­gota masyarakat dari kalangan minoritas me­maksakan kehendaknya dengan mengusung isu Hak Asasi Manusia (HAM). Kelompok minoritas yang demikian ini dapat dikatego­rikan tirani minorits. Sekalipun mereka be­rasal dari kelompok minoritas tetapi meminta hak-hak yang setara dengan yang diperoleh kelompok mayoritas dengan alasan sama-sama sebagai warga bangsa, sama-sama umat beragama, sama-sama dari kelompok agama yang mendapatkan pengakuan res­mi dari pemerintah, dan sama-sama seba­gai warga negara yang dilindungi hak-hak kedaulatannya di dalam wilayah NKRI.

Tirani minoritas dapat memicu persoalan jika ada di antara mereka yang meneriakkan yel-yel atau ujaran membakar semangat ke­bencian dan permusuhan kepada kelompok mayoritas. Peristiwa tirani minoritas terjadi manakala tuntutan-tuntutan kelompok mi­noritas dikabulkan pemerintah tanpa mem­perhatikan keberadaan kelompok mayoritas. Hanya lantaran kekuatan penguasa yang mem-back-up maka keinginan-keiinginannya dipenuhi. Sementara suara dan reaksi kel­ompok mayoritas tidak diakui keberadaan­nya karena masih sedang bergejolak. Ser­ing dikesankan bahwa umat Islam Indonesia lebih banyak menjadi penonton daripada sebagai pemain di negerinya sendiri. Ibarat sebuah keluarga, umat Islam dikesankan seagai "anak pertama" yang sering berebu­tan mainan dengan adiknya. Bapak/ibu ser­ing melerai pertengkaran itu dengan men­gorbankan "sang kakak" dan memenangkan "sang adik". Mungkin pendekatan seperti ini efektif mewujudkan ketenangan tetapi lak­sana api dalam sekam, sewaktu-waktu bisa meledak.

Idealnya kelompok mayoritas mengerti dan menghargai hak dan kewajiban kelom­pok minoritas. Sebaliknya kelompok minori­tas memahami dan menyayangi keberadaan kelompok mayoritas. Dengan demikian potensi RHS tidak akan muncul di dalam masyarakat. Siapapun memang tidak se­layaknya menepuk dada karena berada di dalam barisan mayoritas. Sebaliknya kelom­pok minoritas tidak perlu merasa phobia kar­ena keminoritasannya. NKRI menjamin ke­beradaan segenap Warga Negara Indonesia (WNI) untuk hidup setara di bawah payung besar NKRI.

Dalam Islam, istilah mayoritas atau minori­tas tidak pernah diperkenalkan sebagai suatu konsep di dalam berbangsa dan bernegara. Sebaliknya Al-Qur'an menegaskan bahwa: "Barangsiapa yang membunuh seorang ma­nusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidu­pan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia se­muanya". (Q.S. al-Maidah/5:32).

Dalam sejarah Nabi Muhammad Saw san­gat mudah dilihat peristiwa yang melindungi kelompok minoritas. Hadis-hadisnya banyak sekali yang menganjurkan untuk melindun­gi kaum minoritas. Jika kelompok minoritas mendhalimi kelompok minoritas tanpa ala­san yang dapat dibenarkan secara hokum dan moral maka sesungguhnya telah me­langgar substansi ajaran agama yang mene­kankan persamaan dan toleransi. 

Komentar Pembaca
Awal Ketegangan Politik Dalam Dunia Islam
Siyasah Syar'iyyah

Siyasah Syar'iyyah

SENIN, 13 AGUSTUS 2018

Etika Suksesi Dalam Islam

Etika Suksesi Dalam Islam

SENIN, 13 AGUSTUS 2018

Mendelegitimasi Peran Negara Dan Agama (2)
Mendelegitimasi Peran Negara Dan Agama (1)
Menggagas Ushul Fikih Kebhinnekaan

Menggagas Ushul Fikih Kebhinnekaan

RABU, 08 AGUSTUS 2018

Indonesia Harus Belajar Dari Anjloknya Lira Turki
Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

, 14 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Hapus Ambang Batas Nyapres

Hapus Ambang Batas Nyapres

, 08 AGUSTUS 2018 , 14:37:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00