Hanura

Retorika Gagal Tenggelamkan Pamor Ketua BEM UI

Suara Publik  JUM'AT, 09 FEBRUARI 2018 , 12:25:00 WIB

RETORIKA dalam kajian ilmu komunikasi, khususnya studi media dikenal dengan seni memengaruhi orang lain. Dalam pengertian yang umum, dikenal sebagai keterampilan berbahasa secara efektif atau seni berpidato yang bombastis.  

Tapi, yang saya maksud di sini, retorika sebagai cara atau seni memengaruhi orang lain. Di mana, di era kiwari ini, era media sosial, kita sering terkesima, takjub dengan retorika seseorang sehingga menjadikan kita larut dan mengikuti pandangan (opini) orang itu.

Nah, sebelum kita begitu saja menerima pandangan (opini) orang lain dengan beragam caranya dalam memengaruhi orang lain. Ada teknik sederhana bagaimana kita bisa membaca retorika seseorang, khususnya di media sosial, agar kita tidak tertipu dengan pikiran atau pandangan yang menyesatkan.  
Selanjutnya, usaha ini bisa menjadikan kita mendapatkan kebenaran yang sebenar-benarnya. Ketika seseorang beretorika, mengikuti konsep Aristoteles, dari buku "Filsafat Komunikasi" karangan Syarif Maulana (2015) yang saya kembangkan seperlunya,  kita bisa memeriksanya melalui tiga unsur.

Diantaranya: Pertama, Ethos. Hal ini terkait dengan reputasi seorang pembicara atau mereka yang menulis terkait dengan isu tertentu di media sosial. Sebelum kita percaya begitu saja omongan atau tulisannya, kita harus periksa siapa dia, apakah cukup kredibel untuk didengarkan atau tidak. Setidaknya menurut Aristoteles, orang yang sehari-harinya dikenal sebagai orang baik, tentu akan lebih didengar daripada seseorang yang dikenal tidak jujur atau bahkan seorang kriminal.

Ambil contoh, ketika orang-orang partai merah, aktivis dan mantan aktivis gerakan kiri mengritik Ketua BEM UI yang berikan kartu kuning kepada Jokowi  dengan alasan tidak sopan, tidak beradab. Kita tentu saja bisa berpikir ulang. Sejak kapan mereka menunjukkan sopan santun dan hal hal beradab lainnya.  

Ketika misalnya Adian Napitulu menyoal sopan santun dalam mengeritik  pemimpin yang menindas rakyatnya, maka mungkin ayam pun bakal tertawa. Jadi, ketika mereka bicara sopan santun, tak ada reputasinya sama sekali. Ketika tiba-tiba bersikap sok bijak, sok santun, maka bakal terlihat aneh dan mengada-ada walaupun ya mungkin sopan santun memang diperlukan.

Kedua, Pathos. Terkait dengan cara bagaimana dia ingin merebut hati para audiens atau terkait dengan bagaimana cara dia mengarahkan publik pada tujuan yang diinginkan. Dalam kasus kartu kuning ini, opini dikembangkan bahwa mahasiswa yang bodoh, tidak lulus mata kuliah tertentu hukumnya haram mengeritik pemerintah.  

Tak puas, mereka menguliti Ketua BEM  sebagai kader PKS, tak lupa menyebutnya sebagai kader partai  sapi. Terakhir, menyodorkan Ketua BEM UGM yang dinilainya berbeda dan lebih baik dari BEM UI walau kenyataannya terlihat tidak kritis pada pemerintah. Tujuannya satu,  cara-cara itu digunakan secara serampangan untuk menenggelamkan  pamor Ketua BEM UI. Hasilnya apa? Cara-cara kasar plus dipenuhi banyak sekali kekerasan bahasa itu tentu saja contoh nyata retorika yang gagal.

Ketiga, Logos. Yaitu bagaimana suatu retorika harus mempunyai landasan argumen dan bukti yang kuat. Ada "Segenggam Kebenaran". Jadi, tanpa adanya unsur kebenaran yang dibawanya, maka retorika itu bakal menjadi hampa dan omong kosong belaka. Diterapkan sebaliknya. Memang, mahasiswa bukan peneliti yang harus ketat terhadap data. Informasi dari media saja mungkin cukup untuk bersikap kritis menyikapi pemerintah yang memang banyak masalah. Temasuk di Papua, gizi buruk di Asmat itu fakta. Jadi tak perlu istana kebakaran jenggot bahkan sampai mengusir wartawan asing yang  meliput di sana.

Dalam hal ini, aksi kartu kuning Ketua Bem UI  sudah pasti jelas mengandung "Segenggam Kebenaran" bahwa kondisi di Papua bahkan di negeri ini memang problematis. Maka sudah benar kritik disuarakan. Diam adalah pengkhianatan.

Itu salah satu cara membaca retorika. Singkatnya, upaya penggiringan opini untuk menenggelamkan pamor Ketua BEM UI gagal total.  Membungkam kritik dengan beasiswa atau fasilitas negara mungkin efektif. Tapi itu zaman dulu.

Gerakan mahasiswa zaman now rupanya tak mempan iming-iming itu. Alih-alih menerima "ancaman" Jokowi  untuk dikirim ke Papua, malah nalar kreatif yang muncul. Galang dana swadaya lewat jejaring kitabisa.com dan lagi-lagi bisa menelanjangi penguasa bahwa gerakan mahasiswa bisa mandiri tanpa campur tangan negara. [***]

Yons Achmad
Kolumnis, pengamat media, Founder Kanet Indonesia


Komentar Pembaca
Indonesia Harus Belajar Dari Anjloknya Lira Turki
Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

, 14 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Hapus Ambang Batas Nyapres

Hapus Ambang Batas Nyapres

, 08 AGUSTUS 2018 , 14:37:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00