Verified
Hanura

WAWANCARA

Ilham Oetama Marsis: Kami Tak Perlu Testimoni, Kami Perlu Bukti

Wawancara  SELASA, 10 APRIL 2018 , 10:40:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ilham Oetama Marsis:  Kami Tak Perlu Testimoni, Kami Perlu Bukti

Ilham Oetama Marsis/Net

RMOL. Beberapa waktu lalu, beredar surat dari Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), yang berisi rekomendasi sanksi pe­mecatan sementara, terhadap dokter Terawan Agus Putranto. Rekomendasi itu diberikan lan­taran MKEK menilai, Terawan telah melakukan pelangga­ran etik berat, dan dianggap me­langgar Pasal 4 dan Pasal 6 Kode Etik Kedokteran Indonesia. Dalam surat tersebut, MKEK menyatakan mencabut izin se­mentara keanggotaan Terawan selama 12 bulan, terhitung sejak 26 Februari 2018.

Apakah betul dokter Terawan telah dipecat sementara seba­gai anggota IDI?
Lantas bagaimana dengan praktik terapi den­gan metode Digital Substraction Angiogram (DSA)/brainwash yang dilakukan dokter Terawan? Berikut penuturan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IDI, Ilham Oetama Marsis terkait masalah ini.

Tanggapan IDI terkait temuan dr Terawan?
Kalau kita dengar apa yang dikatakan pembimbing skripsi beliau, yaitu Profesor Irawan mengatakan, apa yang dilaku­kan oleh dokter Terawan sudah melewati tahapan untuk peneli­tian untuk mengambil S3. Dan Prof Irawan sudah menyatakan bahwa dengan heparin dapat membuka sumbatan yang ber­sifat kronis, dalam waktu lebih dari satu bulan. Nah, itu sudah dibuktikan secara akademis oleh dokter Terawan. Kemudin tentu­nya, diikuti beberapa penelitian untuk mendukung apa yang dia temukan.

Tapi jangan lupa, pada tahap selanjutnya yang harus dipertan­yakan. Apakah temuan itu bisa diterapkan kepada masyarakat? Itu yang harus melalui uji klinik. Jadi ada tahapan selanjutnya yaitu harus membuktikan bahwa itu tidak merugikan masyarakat. Soal apa yang dilakukan ini baru tahapan satu. Tentunya itu bukan merupakan domain dari PB IDI. Itu domain dari HTA. Saya katakan, HTA adalah suatu badan yang saat ini permanen, yang fungsinya untuk men­jawab perkembangan teknologi. Kita mengetahui bahwa, untuk menilai standar pelayanan dan SOP itu merupakan kewenangan Kemenkes. Kalau Kemenkes be­lum menetapkan sebagai standar pelayanan, tentunya secara prak­tik tidak boleh dilakukan. Jadi mengenai akademik tentunya bukan merupakan kewenangan IDI, melainkan kewenangan dari HTA. Kalau IDI skupnya terbatas pada masalah etik.

Banyak yang bilang metode terapi yang dokter Terawan ini merupakan sebuah inovasi?
Begini ya, kalau kita lihat orang yang memperoleh hadiah nobel itu mereka yang ber­pikir out of the box. Pemikiran seperti itu harus ditata kelola dengan baik sesuai prosedur yang berlaku. Semua kita lihat orang-orang aneh kalau kita baca pemenang nobel. Tapi kalau kita lihat akhirnya dia itu yang betul. Jadi kalau seandainya itu melalui prosedur yang baik, kita akan bangga dengan dokter Terawan. Karena dia melakukan pemikiran out of the box yang berguna bagi masyarakat. Tetapi ada prosedur yang harus dilalui.

Selanjutnya >

Komentar Pembaca
Pidato Game Of Thrones Isyarat Main Dua Kaki
Andi Arief Mencambuk Prabowo

Andi Arief Mencambuk Prabowo

, 15 OKTOBER 2018 , 15:00:00

Peluncuran Buku Papua Ethnography

Peluncuran Buku Papua Ethnography

, 13 OKTOBER 2018 , 06:49:00

Sisa Puing Gempa

Sisa Puing Gempa

, 12 OKTOBER 2018 , 06:03:00

Ciptakan Kampanye Damai

Ciptakan Kampanye Damai

, 13 OKTOBER 2018 , 03:56:00