Hanura

Kenapa Harus Prabowo Subianto Penantang 2019?

Suara Publik  JUM'AT, 20 APRIL 2018 , 08:37:00 WIB

Kenapa Harus Prabowo Subianto Penantang 2019?

Prabowo Subianto/Net

BEBERAPA orang yang menyarankan Prabowo Subianto untuk pensiun dalam pertarungan politik, mengingat sangat susah baginya untuk memenangkan pertarungan.

Ada yang menyarankan ia menjadi King Makers saja. Saran tersebut bukan tidak beralasan, mereka melihat Prabowo akan kalah di Pilpres 2019 karena satu sebab, dia bukan petarung, dia hanya bisa menjadi pengatur. Beberapa contoh orang ambil, salah satunya Pikada DKI Jakarta.

Saran ini boleh dikatakan masuk akal, karena mereka ingin menempatkan Prabowo sebagai seorang negarawan dengan pensiun dalam pertarungan politik. Namun mengatakan "akan kalah" tentu mendahului ketentuan Tuhan.

Karena realitas yang terlihat sekarang, lebih banyak orang yang menyarankan Prabowo untuk tampil kembali merebut kursi Presiden 2019.

Kita hanya bisa melihat ini dari realitas politik. Karena politik itu tidak stagnan, ia dinamis dan berubah-ubah, bahkan manusiannyapun seakan-akan ikut berubah.

Prabowo boleh kalah dalam Pilpres 2014, tapi 2019 belum tentu ia mengulangi kejadian 2014. Kalau tidak mengulangi 2014 maka 2019 Prabowo akan jadi Presiden. Itu kalau ia maju sebagai calon presiden.

Tapi kalau Prabowo tidak maju, lantas siapakah selain Prebowo yang akan melawan Petahana yang sudah semakin "mengecil" ini? Perlukan kekuatan besar seperti Prabowo untuk turun tangan bertarung di arena melawan petahana ini?

Bagi saya tidak hanya sekedar mengalahkan, kemudian menjadi presiden, tapi yang lebih penting setelah terpilih jadi presiden itu.

Mengalahkan petahana ini menurut saya dengan melihat semangat rakyat Indonesia dan antusiasmenya terhadap calon selain petahana, saya kira tidak terlalu sulit untuk menumbangkan petahana di 2019.

Namun untuk memperbaiki keadaan Indonesia sekarang ini, bukan sekedar mengalahkan petahana lalu mengganti presiden, yang lebih penting adalah membangun Indonesia dan memperbaiki kondisi republik yang semakin memprihatinkan ini.

Menurut saya Tidak ada yang lain yang bisa melakukan itu, kecuali Prabowo sebagai Presidennya. Tentu selain Prabowo sebagai presidennya, maka harus ada wakil Presiden yang paham dan mengerti untuk menjadi partner sejati dalam membangun Indonesia kedepannya.

Sosok Prabowo sebagai seorang militer sejati, akan mengerti tentang kondisi pertahanan dan keamanan Negara, serta untuk menghadapi disintegrasi dan invansi. Sebagai seorang pengusaha yang sudah mendunia, ia tahu bagaimana membangun ekonomi Indonesia, supaya tidak terlalu mengandalkan hutang.

Maka sosok wakil presidennya haruslah seorang birokrat ulung, politisi sipil yang berpengalaman dalam menyelenggarakan negara. Supaya duet itu menjadi duet yang tidak hanya saling balas jasa dan saling merebut tahta, benar-benar untuk mencapai Indonesia yang berkemajuan.

Saya melihat ada harapan rakyat kepada Prabowo Subianto. Harapan itu muncul akibat adanya ketimpangan dibidang ekonomi, kegelisahan para penggangura, akibat Tenaga Kerja Asing "membah" datang ke Indonesia, harga kebutuhan rakyat melonjak tinggi, kemiskinan yang belum bisa dipecahkan.

Sementara pemerintah sibuk mencari sensasi, setelah baju 150 ribu tidak berlaku lagi untuk pencitraan, setelah keluar masuk got menjadi ejekan, dan blusukan yang tidak menggairahkan lagi.

Persoalan di bidang hukum semakin menampakkan diri keberpihakannya. Hukum dijadikan alat untuk membungkam kritik, mengkriminalisasi lawan, melidungi kawan. Sementara penegakan hukum dalam persoalan korupsi abu-abu, ada yang terkesan dibiarkan, ada yang dicari-cari kesalahannya, lalu disaat yang sama presiden tidak punya sikap.

Disaat "kegundahan massal" disaat "kebingungan" berjamaah itu, ada satu tag yang muncul, yaitu #2019gantipresiden. Yang gundah menyahut seruan itu, yang bingung pun terpecahkan kebingungannya.
Lalu semua mata mengarah kepada Prabowo Subianto, untuk memecahkan kegundahan dan kebingungan itu.

Ada tawaran untuk Arah Baru Indonesia, ada seruan untuk Bela Islam, Bela NKRI, bela Rakyat, dengan berani mengatakan bahwa "haram hukumnya memilih Jokowi". Kekuatan ini menyatu bersama dalam barisan umat, ulama, dan derita rakyat. Barisan ini kemudian memberikan spirit untuk kebangkitan Indonesia pasca Pilpres 2019.

Prabowo tinggal menjawab itu, menjawab segala pertanyaan dan menyahut seruan kemenangan itu. Sekali lagi ingat, Bagi kebanyakan rakyat mengalahkan petahana sangat mudah, tokoh lainpun bisa yang penting memenuhi syarat Presidential threshold, tapi memperbaiki Indonesia, butuh ketegasan, keberanian dan tekat yang kuat. Itulah harapan rakyat Indonesia dari Sang Jenderal.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan Prabowo Subianto, yang mengatakan bahwa Ia Percaya, "Seribu kambing kalau dipimpin oleh Singa, maka akan mengaum semua, dan seribu harimau yang dipimpin oleh kambing akan ngebeek semua".
Maka sebelum rakyat Indonesia tenggelam terlalu dalam mental "ngebek" (mental babu) itu, dan hilangnya sifat "mengaum" (jiwa merdeka yang tegas dan berani) itu, sudah wajar bahwa 2019 presiden haruslah tokoh terbaik, yang memiliki semangat patriotisme, tegas dan berani serta jujur dan adil dalam bersikap dan bertindak untuk menjaga harkat dan martabat serta kedaulan bangsa.[***]



Furqan Jurdi

Ketua Komunitas Pemuda Madani, Presidium Nasional Jaringan Islam Nusantara (JIN) dan Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)



Komentar Pembaca
Metafora Negatif Kubu Petahana

Metafora Negatif Kubu Petahana

, 12 NOVEMBER 2018 , 17:00:00

Jokowi Blusukan Bandingkan Harga Komoditas Pangan
Pelantikan Sekjen DPD

Pelantikan Sekjen DPD

, 09 NOVEMBER 2018 , 17:49:00

BLITS Dan Kasuari Si Mobil Listrik

BLITS Dan Kasuari Si Mobil Listrik

, 09 NOVEMBER 2018 , 18:28:00

Rekor Asep Sedunia

Rekor Asep Sedunia

, 10 NOVEMBER 2018 , 00:44:00