Hanura

Kemdikbud Diminta Cari Solusi

Kekerasan Di Dunia Sekolah Marak Lagi

Bongkar  SENIN, 23 APRIL 2018 , 09:08:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kemdikbud Diminta Cari Solusi

Foto/Net

RMOL. Kasus kekerasan di dunia pendidikan masih terus terjadi. Beberapa waktu lalu, video pemukulan siswa oleh ok­num guru di SMK Kesatrian Purwokerto menjadi viral.

Kasus-kasus serupa dikhawatirkan akan terus bermunculan. Terutama selama pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), tidak memberikan solusi sebagai langkah pence­gahan.

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo menuturkan, kasus kekerasan di dunia pendidikan adalah fenomena gunung es yang setiap saat dapat terjadi di sekolah.

Jika pemerintah dan prak­tisi pendidikan tidak serius mengantisipasi hal ini maka kekerasan tersebut akan terus terjadi. "Bahkan di kelas yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi peserta didik," keluhnya.

Menurut Heru, kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswanya terjadi karena para orang tua maupun guru memiliki anggapan, mendidik dan men­disiplinkan anak harus dilaku­kan dengan kekerasan. Padahal apapun alasannya, tindak kekerasan tidak dibenarkan. Apalagi tindakan itu dilakukan guru terhadap siswanya.

"Jika guru beranggapan seperti itu, akan selalu ada korban kekerasan di sekolah, dan akan sulit memutus mata rantai kekerasan di sekolah," ujarnya. Selain itu, guru yang melakukan tindak kekerasan jelas tidak mencer­minkan kompetensinya sebagai seorang tenaga pendidik.

Heru menerangkan, dalam melaksanakan tupoksinya, guru dibekali kemampuan manaje­men pengelolaan kelas. Setiap guru pasti akan menghadapi anak yang perilakunya agresif dan sulit diatur.

"Memberi sanksi kepada siswa haruslah bersifat mendidik, bu­kan dengan kekerasan. Siswa yang dianggap tidak tertib harus dibina dan diberikan sanksi berupa disiplin yang positif," tekannya.

Wasekjen FSGI, Fahriza Martha Tanjung menambahkan, organisasi profesi guru perlu member pendampingan hukum terhadap oknum guru yang melakukan kekerasan tersebut. Sehingga proses hukumnya dapat berjalan secara profesional dan adil.

Berdasarkan Pasal 39 ayat 1 UU Guru dan Dosen, disebutkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wa­jib member perlindungan terh­adap guru dalam melaksanakan tugas.

FSGI mengingatkan, Kemenristekdikti, khususnya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) agar membekali para calon guru dengan praktik- prak­tik terbaik dalam menumbuhkan minat dan disiplin siswa dalam belajar. "Sehingga ketika menjadi guru dan melaksanakan tugasnya, mereka tidak gagap menghadapi siswa yang indisipliner," ka­tanya.

Menyikapi kasus kekerasan ter­hadap siswa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, pelaporan ke polisi sebagai hak orang tua siswa. Namun dia ber­harap kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.

Muhadjir menginstruksikan, demi mencegah kasus-kasus serupa, fungsi konseling di seko­lah mesti ditingkatkan. Selain itu, orang tua murid juga harus dilibatkan secara intensif.

"Itulah sebabnya, saya minta semua sekolah menyediakan dan memerankan konseling sekolah. Salah satu tugasnya, menangani siswa-siswa yang memiliki problem interaksi sosial. Begitu juga keterlibatan pihak orang tua dari anak juga harus dilibatkan secara intensif," katanya. ***


Komentar Pembaca
#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?
Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

, 19 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00