Hanura

Sosiologi Terorisme (9)

Berjihad Dengan Bunuh Diri

Tau-Litik  KAMIS, 31 MEI 2018 , 09:32:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Berjihad Dengan Bunuh Diri

Nasaruddin Umar/Net

PARA teroris berusaha me­nafsirkan dalil-dalil agama dengan menafikan kaedah-kaedah ushul fikih dan ulum al-Qur'an. Mungkin seperti itulah doktrin yang diterima dari gurunya. Padahal, Ra­sulullah Saw dan para saha­batnya tidak pernah mencon­tohkan gerakan jihad dengan cara bunuh diri atau menyelakakan diri sendiri. Sebaliknya Rasulullah mencontohkan mengam­bil langkah hijrah (mengungsi) demi menyelamat­kan nyawa sendiri dan para sahabatnya. Bahkan di dalam Al-Qur'an enam kali perintah jihad se­lalu diawali dengan perintah hijrah baru jihad (wa hajaru wa jahadu). Perintah jihad secara fisik se­lalu diawali dengan berjihad dengan harta baru mempertaruhkan jiwa (wa jahidu bi amwalikum wa amfusikum). Susunan ayat-ayat tersebut se­lalu konsisten. Hijrah baru jihad dan berjihad den­gan harta baru jiwa. Kalau terpaksa memang har­us berjihad, yang harus menjadi sasaran adalah musuh yang mengorbankan umat Islam, bukan­nya sesama umat Islam yang tanpa dosa.

Pilihan hijrah Rasulullah Saw bukan langkah pengecut seperti yang sering dituduhkan kalan­gan orientalis yang menganggap Nabi pengecut meninggalkan umatnya di Mekkah dan mencari selamat di Madinah. Strategi Nabi (Islam) me­langkah mundur untuk mencapai kemenangan jauh lebih mulia ketimbang melakukan langkah nekat. Akhirnya Nabi kembali merebut kota Mek­kah (Fath Makkah) tanpa setetes darah mengu­cur. Nabi Muhammad Saw menaklukkan separ­uh belahan bumi tanpa darah jihad yang berarti. Peperangan yang dilakukan Nabi bukan agresi tetapi bela diri. Buktinya ketika Nabi dikepung di Mekkah, ia bersama Abu Bakar melarikan diri, bukannya mati bersama dengan sahabat-saha­batnya yang lain di tempat persembunyian. Buk­ti lain ketika Nabi memenangkan Perang Badar para tawanan perang dibebaskan dengan tebu­san amat ringan, ketika ia menaklukkan Mek­kah yang diserukan bukan balas dendam tetapi perdamaian: "Hari ini adalah hari perdamaian" (al-yaum yaum al-marhamah). Demikian pula penaklukan-penaklukan kota dan suku lain di ka­wasan Timur Tengah, tidak ada yang diselesaikan secara "hukum adat perang jahiliah" dengan cara balas dendam.

Dengan tegas Al-Qur'an melarang dan seka­ligus mengecam orang-orang yang melakukan perjuangan atas nama apapun dan untuk apapun serta semulia apapun suatu tujuan dengan cara menyelakakan diri sendiri, sebagaimana dikata­kan: ”Dan janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al-Baqarah/2:195). Ayat ini cukup tegas bahwa berjihad dengan cara nekat tidak diperkenankan di dalam Islam. Jika ada seruan jihad yang mengajak orang lain men­empuh cara-cara nekat maka itu perlu dipertanyakan. Selain tidak pernah dicontohkan Nabi, juga akan menodai nama agung Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang. Peringatan buat kita semua bahwa jihad yang sesungguhnya ialah menempuh cara-cara yang wajar dan sesuai den­gan perintah dan apa yang dicontohkan Nabi Mu­hammad Saw teladan kita.

Dalam dunia modern seperti saat ini, makna jihad sudah seharusnya dikembangkan den­gan cara-cara yang lebih beradab dan sesuai dengan semangat Al-Qur’an dan hadis. Jihad melalui diplomasi jauh lebih elegan. Jihad den­gan cara melahirkan sebuah peradaban besar yang memungkinkan orang menjadi "makmum" juga jauh lebih mulia. Banyak cara jihad yang lebih terhormat dan elegan dalam zaman mod­ern sekarang ini. Jihad dengan cara bunuh diri atau menyelakaan diri atau orang lain yang tak berdosa merupakan pemandangan yang sangat menodai Islam sebagai sebuah agama dakwah. Pendekatan yang lebih baik saat ini mengedepankan firman Allah: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu". (Q.S. Ali ’Imran/3:64). Ayat lain: "Dan janganlah sekali-kali kebencian­mu terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil". (Q.S. al-Maidah/5:8).

Memang ada keadaan tertentu di medan perang diperbolehkan oleh beberapa ulama melakukan tindakan "berani" untuk mengambil keputusan, seperti pendapat Al-Qurthubi: "Diperbolehkan membunuh orang Islam yang dijadikan tameng hidup, dalam masalah ini tidak ada per­bedaan pendapat, Insya Allah. Yang demikian itu jika pembunuhan itu terdapat maslahat dharuriyah, kulliyah, dan qhatiyah." (Tafsir Al Qurthubi, 16/562). Senada dengan itu Ibn Taimiyah mengatakan da­lam Majmu' al-Fatawa-nya: "Sesungguhnya para imam telah bersepakat bahwa jika kaum kafirin menjadikan kaum muslimin sebagai perisai hidup dan kaum muslimin (yang berjihad) khawatir jika tameng hidup itu tak disingkirkan, maka diperbole­hkan membidik tameng hidup tersebut dengan niat memerangi kaum kaffir (28/538-539)."


Komentar Pembaca
Ormas Islam & Kelompok Radikal (32)

Ormas Islam & Kelompok Radikal (32)

KAMIS, 16 AGUSTUS 2018

Awal Ketegangan Politik Dalam Dunia Islam
Siyasah Syar'iyyah

Siyasah Syar'iyyah

SENIN, 13 AGUSTUS 2018

Etika Suksesi Dalam Islam

Etika Suksesi Dalam Islam

SENIN, 13 AGUSTUS 2018

Mendelegitimasi Peran Negara Dan Agama (2)
Mendelegitimasi Peran Negara Dan Agama (1)
Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

, 16 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

, 16 AGUSTUS 2018 , 13:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00