Hanura

Sosiologi Terorisme (16)

Fenomena Max Gabril

Tau-Litik  MINGGU, 10 JUNI 2018 , 09:14:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Fenomena Max Gabril

Nasaruddin Umar/Net

TANTANGAN paling nya­ta bagi umat Islam dewasa ini ialah pencitraan negatif­nya di mata dunia interna­sional akibat ulah segelintir orang yang memaksakan kehendaknya atas nama Is­lam, yang kemudian diklaim sebagai teroris. Merek ter­orisme yang dihubungkan dengan agama Is­lam betul-betul telah menodai citra positif agama akhir zaman ini. Sebegitu negatifnya, hingga seorang murtad Mesir, Marx Gabril da­lam sebuah buku berjudul "Islam and Terror­ism", mengatakan: "Islam is behind terrorism, not muslims. Muslims are victims". Ia memo­tong-motong sejumlah ayat dan hadis untuk membenarkan teorinya. Mantan Professor Ilmu Sejarah di Universitas Al-Azhar ini kini mem­provokasi dunia barat untuk menjauhi Islam. Dia seorang pentolan kelompok liberal yang pernah ditahan di penjara bawah tanah kelom­pok radikal Mesir, lalu lolos dan mencari per­lindungan dan fasilitas di AS. Kini hidup seperti selebriti di AS walaupun harus mengorbankan keislamannya.

Kekerasan tidak identik dengan terorisme. Tidak semua tindakan kekerasan adalah tin­dakan terorisme. Sebaliknya tidak semua tin­dakan terorisme adalah tindakan kekerasan. Sesungguhnya hal ini sangat tergantung kon­troversi makna kekerasan dan terorisme itu sendiri. Satu tindakan kekerasan bisa diang­gap jihad oleh suatu kelompok tetapi kelompok lain menganggapnya tindakan teroris. Seba­liknya ada stau tindakan atau keputusan yang secara tidak langsung melahirkan korban tetapi sesungguhnya dapat dianggap tindakan teror­is. Contohnya penjatuhan sanksi sepihak ke­pada suatu kelompok yang menyebabkannya tersiksa, tercekam, terancam eksistensi dan kelangsungan hidupnya, maka itu bisa disebut tindakan teroris meskipun tidak dalam bentuk kekerasan. Di atas segala-galanya, tentu yang paling menentukan dalam hal ini ialah definisi "kekerasan" dan "terorisme".

Sebenarnya merek terorisme yang sering dikonotasikan kepada agama Islam tidak konsis­ten juga. Definisi teroris (terrorism) yang didefi­nisikan di dalam kamus Oxford, sebuah kamus standard di AS dan Negara-negara Barat, jus­tru tidak digunakan, karena jika definisi yang dijelaskan dalam Oxford dipergunakan maka AS dan sekutunya juga termasuk dalam kate­giri teroris, karena di situ dijelaskan bahwa se­gala sesuatu yang menimbulkan rasa takut dan mengerikan (fear and trembling), menimbulkan kecemasan(fright), horror dan kepanikan (hor­ror and panic), mengakibatkan kelumpuhan so­sial (social consternations), gangguan dan keka­cauan (perturbations), dan ketidak menentuan situasi (trepidations) dan semacamnya disebut kegiatan terorisme. Jika definisi ini dipakai maka sekutu-sekutu Barat juga masuk kategori teroris. Apa lagi aksi-aksi Israil pasti sangat memenuhi syarat untuk disebut teroris. Akan tetapi yang terjadi orang-orang Afganistan yang memper­tahankan hak-hak atas pendudukan wilayahnya oleh Negara lain disebut teroris dan Israel dise­but membela diri.



Komentar Pembaca
Ormas Islam & Kelompok Radikal (32)

Ormas Islam & Kelompok Radikal (32)

KAMIS, 16 AGUSTUS 2018

Awal Ketegangan Politik Dalam Dunia Islam
Siyasah Syar'iyyah

Siyasah Syar'iyyah

SENIN, 13 AGUSTUS 2018

Etika Suksesi Dalam Islam

Etika Suksesi Dalam Islam

SENIN, 13 AGUSTUS 2018

Mendelegitimasi Peran Negara Dan Agama (2)
Mendelegitimasi Peran Negara Dan Agama (1)
Hadi Tjahjanto - TNI dan Polri (Bag.2)

Hadi Tjahjanto - TNI dan Polri (Bag.2)

, 15 AGUSTUS 2018 , 18:00:00

Hadi Tjahjanto - Pengamanan Asian Games (Bag.1)
Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Hapus Ambang Batas Nyapres

Hapus Ambang Batas Nyapres

, 08 AGUSTUS 2018 , 14:37:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00