Hanura

Multi Makna Mudik (3)

Psikologi Mudik

Tau-Litik  RABU, 27 JUNI 2018 , 10:23:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Psikologi Mudik

Foto/Net

DARIPADA melarang, lebih baik mengatur mudik. Mudik tidak akan pernah bisa di­larang. Meskipun secara logika sulit dipahami tetapi secara psikologis manfaat­nya dapat dirasakan, teru­tama oleh para pemudik. Itulah sebabnya kita sering menyaksikan orang mudik yang melampaui pikiran sehat. Mereka menggunakan sepeda motor bebek, yang di depan ada tumpukan kardus. Di atas kardus ada anak kecil duduk, di belakang ada juga anak kecil diapit antara bapak yang menyetir dan ibu yang menggen­dong bayi di samping. Di belakang ada balok tambahan untuk menyimpan koper kecil. Mo­tor yang ditumpanginya menggunakan nomor polisi berplat B (Jakarta) yang sedang menda­ki salah satu bukit di pinggir Kota Semarang. Satu sisi kita prihatin melihatnya tetapi mere­ka sedang menikmati "indahnya pulang kam­pung". Apa sesungguhnya yang mereka cari di kampung?

Sangat subjektif untuk menjawab pertan­yaan tersebut. Boleh jadi jawabannya sangat tidak masuk akal tetapi dinikmati luar biasa oleh para pemudik. Tak terbayang betapa in­dahnya berada dalam kecupan bibir seorang ibu tua yang dulu pernah membelai anaknya setiap hari. Tak terbayang lezatnya bisa kem­bali merasakan racikan sayur yang dibuat oleh sang ibu. Tak terbayang betapa indahnya satu keluarga bisa hidup tergelatak bersama di atas karpet tua bersama keluarga dekat. Tak terlukiskan bagaimana nikmatnya makan ber­sama di rumah kecil di tengah sawah sambil menjaga burung pipit untuk tidak memakan buah padi. Bagaimana indahnya seorang anak Jakarta memanjat pohon memetik buah kebun eyangnya. Pemandangan ini juga pernah di­lukiskan dalam Al-Qur'an: "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan me­meliharanya?" Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. (Q.S. Thaha/20:40).

Tidak bisa dibayangkan bagaimana indah­nya seorang anak mencium kaki seorang ibu dan bapak tua sambil menangis seraya memohon ampun atas berbagai bentuk ke­nakalan dan kedurhakaan yang pernah dilaku­kan di masa lalu. Bagaimana nikmatnya men­dengarkan tiupan seruling senja seorang anak pengembala kebo di pinggir sawah. Bagaima­na indahnya ikut serta saudara menangkap ikan di laut atau menangkap ikan di empang milik keluarga. Kesemuanya itu merupakan peristiwa psikologis yang tak gampang dilu­pakan. Pengalaman indah di kampung meng­hilangkan sisa-sisa penderitaan di atas kend­araan sepanjang jalan menuju ke kampung.

Kenikmatan lain yang tak terlukiskan, bagaimana senangnya orang desa diberi bantuan dan shadaqah, walau itu pakaian bekas dan uang recehan. Sedikit artinya bagi orang kota ternyata amat besar artinya bagi orang desa. Kesemuanya itu membuahkan rasa syu­kur tak terhingga kepada Allah Swt. Betapa agung Sang Maha Kuasa menganugrahkan sedikit kelebihan sehingga bisa menyenang­kan orang tua dan segenap warga di kampung halaman. Teristimewa jika seseorang mampu membangun atau memugar sebuah mesjid tua dan kumuh menjadi masjid baru dan indah di kampung. Ada lagi yang membangunkan ru­mah-rumah tahfiz dan madrasah di kampung. Subhanallah, sang pemudik bagaikan merasa­kan syurga sebelum waktunya.

DARIPADA melarang, lebih baik mengatur mudik. Mudik tidak akan pernah bisa di­larang. Meskipun secara logika sulit dipahami tetapi secara psikologis manfaat­nya dapat dirasakan, teru­tama oleh para pemudik. Itulah sebabnya kita sering menyaksikan orang mudik yang melampaui pikiran sehat. Mereka menggunakan sepeda motor bebek, yang di depan ada tumpukan kardus. Di atas kardus ada anak kecil duduk, di belakang ada juga anak kecil diapit antara bapak yang menyetir dan ibu yang menggen­dong bayi di samping. Di belakang ada balok tambahan untuk menyimpan koper kecil. Mo­tor yang ditumpanginya menggunakan nomor polisi berplat B (Jakarta) yang sedang menda­ki salah satu bukit di pinggir Kota Semarang. Satu sisi kita prihatin melihatnya tetapi mere­ka sedang menikmati "indahnya pulang kam­pung". Apa sesungguhnya yang mereka cari di kampung?

Sangat subjektif untuk menjawab pertan­yaan tersebut. Boleh jadi jawabannya sangat tidak masuk akal tetapi dinikmati luar biasa oleh para pemudik. Tak terbayang betapa in­dahnya berada dalam kecupan bibir seorang ibu tua yang dulu pernah membelai anaknya setiap hari. Tak terbayang lezatnya bisa kem­bali merasakan racikan sayur yang dibuat oleh sang ibu. Tak terbayang betapa indahnya satu keluarga bisa hidup tergelatak bersama di atas karpet tua bersama keluarga dekat. Tak terlukiskan bagaimana nikmatnya makan ber­sama di rumah kecil di tengah sawah sambil menjaga burung pipit untuk tidak memakan buah padi. Bagaimana indahnya seorang anak Jakarta memanjat pohon memetik buah kebun eyangnya. Pemandangan ini juga pernah di­lukiskan dalam Al-Qur'an: "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan me­meliharanya?" Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. (Q.S. Thaha/20:40).

Tidak bisa dibayangkan bagaimana indah­nya seorang anak mencium kaki seorang ibu dan bapak tua sambil menangis seraya memohon ampun atas berbagai bentuk ke­nakalan dan kedurhakaan yang pernah dilaku­kan di masa lalu. Bagaimana nikmatnya men­dengarkan tiupan seruling senja seorang anak pengembala kebo di pinggir sawah. Bagaima­na indahnya ikut serta saudara menangkap ikan di laut atau menangkap ikan di empang milik keluarga. Kesemuanya itu merupakan peristiwa psikologis yang tak gampang dilu­pakan. Pengalaman indah di kampung meng­hilangkan sisa-sisa penderitaan di atas kend­araan sepanjang jalan menuju ke kampung.

Kenikmatan lain yang tak terlukiskan, bagaimana senangnya orang desa diberi bantuan dan shadaqah, walau itu pakaian bekas dan uang recehan. Sedikit artinya bagi orang kota ternyata amat besar artinya bagi orang desa. Kesemuanya itu membuahkan rasa syu­kur tak terhingga kepada Allah Swt. Betapa agung Sang Maha Kuasa menganugrahkan sedikit kelebihan sehingga bisa menyenang­kan orang tua dan segenap warga di kampung halaman. Teristimewa jika seseorang mampu membangun atau memugar sebuah mesjid tua dan kumuh menjadi masjid baru dan indah di kampung. Ada lagi yang membangunkan ru­mah-rumah tahfiz dan madrasah di kampung. Subhanallah, sang pemudik bagaikan merasa­kan syurga sebelum waktunya.

Para pemudik merasakan indahnya sebuah keluguan, ketulusan, dan keikhlasan rasa cinta dan rasa sayang dari kampung, suatu perasaan yang amat sulit ditemukan di dalam masyarakat perkotaan. Benar kata orang bah­wa orang yang tidak pernah mudik dikhawatir­kan hatinya kering, pikirannya sering bengkok, dan kepribadiannya lebih egois dan individu­alistis. Sebaliknya mentalitas orang-orang yang sering mudik cenderung lebih luhur, leb­ih ikhlas, dan ringan tangan untuk berbagi. Ke depan kita berharap memberikan pemaknaan mudik ini sebagai proses pematangan psikol­ogis-spiritual. Semoga kebudayaan mudik ini berbanding lurus dengan penciptaan kepriba­dian luhur bangsa Indonesia. Aamiin. 

Komentar Pembaca
Istri Fir’aun

Istri Fir’aun

RABU, 19 SEPTEMBER 2018

Keterlibatan Para Isteri Pembesar

Keterlibatan Para Isteri Pembesar

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018

Kehidupan Nabi Yusuf di Rumah Pembesar

Kehidupan Nabi Yusuf di Rumah Pembesar

MINGGU, 16 SEPTEMBER 2018

Siapa Isteri Pembesar Penggoda Nabi Yusuf?

Siapa Isteri Pembesar Penggoda Nabi Yusuf?

JUM'AT, 14 SEPTEMBER 2018

Mari Kita Bermuhasabah!

Mari Kita Bermuhasabah!

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2018

Fa Aina Tadzhabun?

Fa Aina Tadzhabun?

RABU, 12 SEPTEMBER 2018

Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

, 18 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Represif, Jokowi Jadi Raja Saja!

Represif, Jokowi Jadi Raja Saja!

, 18 SEPTEMBER 2018 , 15:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00

Djoko Santoso: Kami Hormati Pilihan Pak Gatot Nurmantyo
<i>Asia Sentinel</i>: Pemerintahan Era SBY Cuci Uang Rp 177 Triliun
Aksi Mahasiswa UIR Pekanbaru Tempeleng Jutaan Mahasiswa Indonesia
KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

Politik17 September 2018 07:25

Kabareskrim Mau Tangkap Hendropriyono, Arief: Itu Kabar Bohong
Pileg Jangan Dikotori Aksi Saling Hujat

Pileg Jangan Dikotori Aksi Saling Hujat

Politik19 September 2018 05:33

Tuding Moeldoko Ibarat Buruk Muka Cermin Dibelah
Houston

Houston

Dahlan Iskan19 September 2018 05:00

Kiai Ma'ruf Minta Didoakan Berhasil Jadi Wapres
Uni Eropa Selidiki 28 Kelompok Produk Baja Dunia