Hanura

Bersama Jokowi, PDIP "Dikadalin" Dan Nyungsep

Suara Publik  SABTU, 30 JUNI 2018 , 08:13:00 WIB

Bersama Jokowi, PDIP "Dikadalin" Dan Nyungsep

Foto/Net

PADA Pemilu 2004, Partai Demokrat menduduki peringkat kelima dengan perolehan suara 7,45 persen. Namun pada Pemilu 2009, SBY mampu 'menyulap' Partai Demokrat meraih nilai tinggi 25,39 persen suara, meningkat tiga kali lipat. Hal di atas berbanding terbalik dengan PDIP yang di saat Jokowi menjadi Presiden, justru PDIP tersungkur di berbagai daerah strategis dalam Pilkada serentak 2017-2018.

Menurut hasil rekapitulasi perolehan suara Pemilu Legislatif 2014 KPU, menempatkan PDIP yang dipimpin Megawati berada pada posisi pertama dengan meraih 23.681.471 suara atau 18,95 persen. PDIP menjadi parpol pemenang Pemilu 2014, sehingga menjadi parpol utama yang mencapreskan Jokowi dengan segala drama politiknya.

Karena, bukan rahasia lagi bila pada awalnya Megawati Soaekarnoputri sangat enggan menjadikan Capres yang diusung oleh PDIP, mengingat Jokowi adalah nama baru yang muncul setelah memenangkan Pilgub DKI Jakarta 2012.

Namun, ada hal menarik yang saya ingin sampaikan terkait "Bersama Jokowi, PDIP "Dikadalin" dan Nyungsep" ini:

Pertama, pada Selasa, 22 Juli 2014 KPU menetapkan Jokowi sebagai Presiden terpilih Pilpres 2014. Sehingga pada 20 Oktober 2014, Jokowi resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia ketujuh. Selang beberapa hari tepatnya pada 26 Oktober 2014, Jokowi yang saat itu telah menjadi Presiden, mengumumkan susunan kabinetnya yang diberikan nama Kabinet Kerja.

Anehnya, Jokowi yang diusung oleh PDIP yang menjadi parpol pemenang Pemilu 2014 justru menempatkan kader-kader PDIP bukan pada kementerian/lembaga strategis, misalnya; Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, Jaksa Agung, dan Bappenas.

Namun, Jokowi memasukkan nama-nama di luar PDIP untuk menempati kementerian-kementerian strategis tersebut; Sofyan Djalil (Kemenko Perekonomian), Rini Soemarno (Menteri BUMN), Bambang Brodjonegoro (Menteri Keuangan), Sudirman Said (Menteri ESDM), Rachmat Gobel (Menteri Perdagangan), HM Prasetyo (Jaksa Agung), dan Andrinof Chaniago (Kepala Bappenas). PDIP hanya mendapat jatah Puan Maharani mendapat jatah Menko PMK (Menko PMK), Yasonna Laoly (Menteri Hukum dan HAM), Tjahjo Kumolo (Menteri Dalam Negeri), dan Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga (Menteri Kooperasi UKM).

Hingga beberapa kali melakukan reshuffle Kabinet, kader-kader PDIP tetap tidak ada yang ditempatkan pada kementerian/lembaga strategis.

Kedua, mengapa pada Pilkada serentak 2017-2018, Cagub/Cawagub yang diusung PDIP di daerah-daerah strategis malah tersungkur? Misalnya; Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat.

Bagi saya ini sangat aneh. Bagaimana bisa PDIP yang menjadi parpol pemenang Pemilu 2014 dan mencapreskan Jokowi, justru tersungkur dalam Pilkada serentak tahun 2017-2018? Apalagi pada tahun 2019 akan diadakan Pemilu serentak.

Apakah Megawati sebagai Ketua Umum PDIP tidak merasakan adanya keanehan-keanehan ini? Apakah kader-kader PDIP yang selama ini berjuang 'berdarah-darah' tidak mencium aroma 'tangan-tangan gelap' yang bermain secara senyap melumpuhkan PDIP?

Fokus utamanya harus dilihat pada masalah proses penentuan Cagub/Cawagub yang akan diusung. Misalnya pada Pilgub DKI Jakarta yang Cagubnya bermasalah, Jawa Barat yang bermasalah dengan kasus Bakamla, Jawa Tengah yang bermasalah dengan kasus KTP eletronik, Jawa Timur yang tiba-tiba terjadi pergantian Cawagub 'di tengah jalan' yang justru merusak konsolidasi partai. Tentu, ini bukanlah sebuah kebetulan, ada semacam pengkondisian keadaan secara by design.

Ketiga, saya menduga 'tangan-tangan gelap' yang bermain secara senyap ini adalah mereka yang memiliki kekuasaan, mereka bertujuan untuk melemahkan PDIP agar tidak memiliki kekuatan untuk 'sandera' Jokowi dalam menentukan Cawapres 2019. Apalagi Megawati berulang kali menyebut Jokowi adalah petugas partai, berarti Jokowi harus patuh dan tunduk dengan aturan partai.

Bagi 'tangan-tangan gelap' yang bermain secara senyap tersebut, bila PDIP sukses Pilkada serentak tahun 2017-2018, bisa saja 'mengganggu' Cawapres yang mereka telah persiapkan.

Jokowi yang diharapkan mampu mendongkrak suara Cagub/Cawagub PDIP pada Pilkada serentak 2017-2018, malah justru tidak mampu mendongkrak. Maka, muncul pertanyaan krusial, sebenarnya Jokowi ini kadernya siapa? Kader murni PDIP atau kader pihak lain yang menumpang di PDIP?

Jika PDIP tidak peka dan takut merubah haluan politik, maka tidak menutup kemungkinan operasi senyap oleh tangan tangan gelap kekuasaan akan melumpuhkan PDIP pada Pileg 2019. PDIP bisa saja ambruk menjadi partai menengah. [***]

Wenry Anshory Putra
Koordinator Pergerakan Pemuda Merah Putih (PP Merah Putih)

Komentar Pembaca
Surat Terbuka Untuk Bapak Jokowi Tentang Emak-Emak
Politik Utang-Piutang Ridwan Kamil

Politik Utang-Piutang Ridwan Kamil

SABTU, 15 SEPTEMBER 2018

Pesan Sunan Kalijaga Untuk Umat Akhir Zaman
Nasdem Somasi Rizal Ramli

Nasdem Somasi Rizal Ramli

RABU, 12 SEPTEMBER 2018

UAS, Imam Mahdi Abad Ini

UAS, Imam Mahdi Abad Ini

SELASA, 11 SEPTEMBER 2018

Depresiasi Rupiah

Depresiasi Rupiah

SENIN, 10 SEPTEMBER 2018

Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

, 18 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Represif, Jokowi Jadi Raja Saja!

Represif, Jokowi Jadi Raja Saja!

, 18 SEPTEMBER 2018 , 15:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00

Djoko Santoso: Kami Hormati Pilihan Pak Gatot Nurmantyo
<i>Asia Sentinel</i>: Pemerintahan Era SBY Cuci Uang Rp 177 Triliun
Aksi Mahasiswa UIR Pekanbaru Tempeleng Jutaan Mahasiswa Indonesia
KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

Politik17 September 2018 07:25

Kabareskrim Mau Tangkap Hendropriyono, Arief: Itu Kabar Bohong
Pileg Jangan Dikotori Aksi Saling Hujat

Pileg Jangan Dikotori Aksi Saling Hujat

Politik19 September 2018 05:33

Tuding Moeldoko Ibarat Buruk Muka Cermin Dibelah
Houston

Houston

Dahlan Iskan19 September 2018 05:00

Kiai Ma'ruf Minta Didoakan Berhasil Jadi Wapres
Uni Eropa Selidiki 28 Kelompok Produk Baja Dunia