Hanura

Local Genus Nusantara (1)

Bersahabat Dengan Laut

Tau-Litik  JUM'AT, 06 JULI 2018 , 08:46:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bersahabat Dengan Laut

Nasaruddin Umar/Net

DALAM disertasi Dr. H. Baharuddin Lopa, SH, mantan jaksa Agung RI, diungkapkan bentuk persahabatan pelaut dan nelayan masyarakat Bugis-Mandar. Di antara cerita itu ialah kebiasaan para pelaut Mandar mence­burkan kaki kanan sampai selutut di dalam laut sebelum melaut. Kurang lebih 5-10 ia mendapatkan isyarat cuaca laut yang akan dituju. Ia seolah-olah mendapat­kan isyarat jika akan ada badai atau gelom­bang yang membahayakan di tempat tujuan. Ia juga mendapatkan isyarat di wilayah mana ikan-ikan laut yang menjadi sasaran berkum­pul. Jika kemungkinan akan ada ombak besar atau perubahan cuaca mereka menunda untuk melaut sampai muncul isyarat positif untuk me­laut. Mereka sama sekali dibekali oleh alat-alat canggih semisal kompas atau GPS. Namun ia memahami kejadian yang akan muncul di laut melalui bahasa isyarat yang disampaikan oleh Sang Laut yang menjadi sahabat spiritualnya. Kadang-kadang informasi itu malah lebih valid daripada informasi yang diperoleh melalui pra­kiraan cuaca melalui media yang ada.

Pengalaman yang sama juga ditunjukkan seorang nakoda tradisional asal Bulukumba Sulawesi Selatan ketika ikut serta di dalam misi napak tilas perahu Phinisi dari Makassar ke Vancouver, Kanada, dalam Ekspo 86 Vancou­ver. Selama 69 hari mereka melayarkan Phinisi dari Jakarta untuk mengharumkan nama bang­sa di Expo tersebut. Expo itu mengambil tema: "World in Motion World in Touch" diselenggara­kan untuk menunjukkan teknologi transportasi dan komunikasi negara di dunia. Kapal Phinisi Nusantara merupakan kapal layar asli buatan para ahli dari Tanaberu Bontobahari, Makassar. Konsepnya dibuat secara tradisional, tetapi di­lengkapi dengan navigasi dan telekomunika­si yang canggih seperti peralatan komunikasi menggunakan satelit Inmarsat, yang merupa­kan sistem telkom tercanggih saat itu. Untuk tanda panggil (call sign) Perahu ini mengguna­kan kode YDYN. Ekspedisi Phinisi Nusantara ini ditulis oleh Pius Caro, wartawan Kompas yang ikut dalam ekspedisi tersebut, dan buku­nya diterbitkan oleh Penerbit Kompas Tahun 2012. Banyak cerita menarik dalam perjalanan lebih dua bulan itu. Di antaranya keahlian na­koda Bugis Makassar mendeteksi dan mem­perkirakan perkembangan cuaca tidak kalah tepatnya dengan perkiraan peralatan canggih yang dimodifikasikan ke dalam Phinisi Nusan­tara yang dinakodai oleh Gita Ardjakusuma, pelaut dengan ijazah MPB I, lulusan AAL Sura­baya tahun 1968. Kelihaian para pelaut senior Bugis Makassar yang ikut serta dalam perahu itu betul-betul patut diacungkan jempol. Dalam cerita Pius Caro, terkadang pelaut tradisional tersebut lebih dominan menentukan jalannya ekspedisi menantang ini. Itu semua dimung­kinkan karena jalinan persahabatan antarapara leluhurnya secara turun temurun dengan laut.

Pertanyaannya ialah bagaimana para pelaut Bugis-Makassar bersahabat dengan laut? Ten­tu mereka tidak gratis atau datang begitu saja, tetapi melalui jalinan persahabatan antara ke­luarga pelaut dengan sang laut. Seperti hal­nya pembuatan kapal perahu phinisi lainnya, selalu ada santapbace, upacara pemotongan awal kapal, oleh seorang panrita yang diawa­li dengan membakar kemenyan, memanterai pahat dan gergaji, seperti yang dilakukan oleh panrita Daeng Marinyo yang membuat Phinisi Nusantara legendaris itu. Dengan posisi mem­bujur terhadap garis Selat Selayar, potongan lunas yang ada di hilir segera dibuang ke laut sebagai penolak bala, sedangkan yang hulu disimpan di rumah pemilik perahu. Sepentas lalu menyerupai praktek syinkkretik, yang di­pandang praktek sesat olah kaum salafi, tetapi mereka tidak mau disebut menjalankan praktek musyrik karena mereka juga sudah haji berkali-kali. Apa yang dilakukannya bukan proses pe­nyembahan laut tetapi proses jalinan persaha­batan dengan laut. Lain menyembah laut lain bersahabat dengan laut. 

Komentar Pembaca
Istri Fir’aun

Istri Fir’aun

RABU, 19 SEPTEMBER 2018

Keterlibatan Para Isteri Pembesar

Keterlibatan Para Isteri Pembesar

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018

Kehidupan Nabi Yusuf di Rumah Pembesar

Kehidupan Nabi Yusuf di Rumah Pembesar

MINGGU, 16 SEPTEMBER 2018

Siapa Isteri Pembesar Penggoda Nabi Yusuf?

Siapa Isteri Pembesar Penggoda Nabi Yusuf?

JUM'AT, 14 SEPTEMBER 2018

Mari Kita Bermuhasabah!

Mari Kita Bermuhasabah!

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2018

Fa Aina Tadzhabun?

Fa Aina Tadzhabun?

RABU, 12 SEPTEMBER 2018

Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

, 18 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Represif, Jokowi Jadi Raja Saja!

Represif, Jokowi Jadi Raja Saja!

, 18 SEPTEMBER 2018 , 15:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00

Djoko Santoso: Kami Hormati Pilihan Pak Gatot Nurmantyo
<i>Asia Sentinel</i>: Pemerintahan Era SBY Cuci Uang Rp 177 Triliun
Aksi Mahasiswa UIR Pekanbaru Tempeleng Jutaan Mahasiswa Indonesia
KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

Politik17 September 2018 07:25

Kabareskrim Mau Tangkap Hendropriyono, Arief: Itu Kabar Bohong
Pileg Jangan Dikotori Aksi Saling Hujat

Pileg Jangan Dikotori Aksi Saling Hujat

Politik19 September 2018 05:33

Tuding Moeldoko Ibarat Buruk Muka Cermin Dibelah
Houston

Houston

Dahlan Iskan19 September 2018 05:00

Kiai Ma'ruf Minta Didoakan Berhasil Jadi Wapres
Uni Eropa Selidiki 28 Kelompok Produk Baja Dunia