Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan

Revolusi Mental Mama Loretha Menanam Sorgum

PMK / SENIN, 06 AGUSTUS 2018 , 10:18:00

Revolusi Mental Mama Loretha Menanam Sorgum

Mama Loretha/Net

RMOL. Tidak banyak orang mengenal tanaman sorgum. Bahkan komoditas ini nyaris dilupakan di negeri ini.
Namun di tangan Maria Loretha, seorang penggagas, pembenih dan pendamping petani sorgum di Pulau Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sorgum berkembang dari komoditas yang tidak dipandang menjadi komoditas terpandang, setidaknya di provinsinya, NTT.

Dengan semangat revolusi mental, Mama Loretha tetap berkutat pada pemberdayaan sorgum hingga orang mau  beralih dari nasi menjadi sorgum dan kemudian sorgum berkembang menjadi makanan pokok.

“Saya sering mendengar dari teman-teman yang berasal dari Eropa. Mereka bahkan telah menjadikan sorgum sebagai makanan pokok dan dengan beralih ke sorgum maka menurut saya inilah revolusi mental,” jelasnya dalam acara Curah Pendapat Implementasi Revolusi Mental yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di Grand Mercure Hotel Jakarta beberapa waktu lalu..

Lahan sorgum saat ini berkembang menjadi sumber pangan dan sekaligus sebagai sumber pendapatan ekonomi bagi masyarakat.

“Lahan-lahan tidur yang selama ini tidak diberdayakan, sekarang berkembang menjadi lahan produktif dan menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat” ungkap Mama Loretha antusias dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.

Jatuh bangun mengembangkan sorgum sudah dirasakan oleh Mama Loretha. Bahkan saking kuatnya komitmennya dalam mengembangkan sorgum, mata dan telingnya sudah kebal akan komentar negatif.

“Saya tidak peduli dengan berbagai pendapat orang dan mata, telinga, bahkan mental saya sudah sekeras tembok,” tegasnya.

Mama Loretha tidak ambil pusing atas minimnya biaya bahkan dirinya menegaskan ada maupun tidak ada uang, pengembangan sorgum yang dilakukannya harus tetap berjalan.

Nilai gotong royong yang selalu menjadi pegangan Mama Loretha dalam aktivitasnya mengembangkan tanaman sorgum.

“Tanpa adanya gotong royong, sulit untuk dapat mengembangkan sorgum hingga dapat berkontribusi positif pada masyarakat,” jelasnya.

Nilai gotong royong ini tidak lepas dari sebuah kearifan lokal yang ada di Flores Timur yaitu “gemohin”.

“Gemohin menggambarkan kerja gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat seperti membersihkan kebun, memilih hasil komoditi, atau memperbaiki rumah bersama-sama, nah ini kita tumbuhkan dalam bentuk kelompok-kelompok untuk memudahkan pekerjaan mereka di ladang maupun kebun. Nilai-nilai itulah yang kita tumbuhkan,” jelasnya dengan antusias.

Mama Loretha kemudian memaparkan bahwa revolusi mental memiliki sebuah kata kunci yang penting: perubahan. Ketika seseorang memiliki komitmen untuk berubah menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya, maka revolusi mental sesungguhnya telah terjadi.

“Sebagai contoh ketika seorang birokrat mau berubah dan memberikan layanan yang cepat dan mudah, maka inilah sesungguhnya perubahan yang diharapkan, tidak saja berdampak di internal tempat kerja birokrat tersebut, tetapi juga dapat dirasakan oleh masyarakat,” papar Mama Loretha.

Mengakhiri wawancara, Mama Loretha ingin agar revolusi mental dapat mengakar pada diri seluruh masyarakat Indonesia sehingga nantinya Indonesia dapat menjadi negara maju dan terpandang di dunia.

“Mari mulai dari diri sendiri. Karena revolusi mental tidak bisa menunggu lama. Mulai dari sekarang, dari hal yang paling kecil, dan sekarang juga,” pungkasnya bersemangat. [ian/***]

Komentar Pembaca
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan