Hanura

Teroris Tidak Selalu Datang Membawa Senjata

Ambassador Talks  MINGGU, 30 SEPTEMBER 2018 , 21:00:00 WIB | OLEH: TEGUH SANTOSA

Teroris Tidak Selalu Datang Membawa Senjata

Dutabesar Republik Arab Suriah di Jakarta, DR. Ziad Zaheredin/RMOL

SETELAH dua tahun bertugas sebagai Dutabesar Republik Arab Suriah di Jakarta, DR. Ziad Zaheredin semakin memahami bahwa Indonesia dan Suriah memiliki banyak persamaan. Sama-sama negeri muslim yang moderat, menghargai keberagaman, dan memiliki sejarah yang panjang.
Kedua negara juga memiliki hubungan baik sejak lama. Setidaknya sejak tahun 1947, ketika Suriah menyampaikan dukungan kepada kemerdekaan Indonesia di hadapan sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Yang Mulia Dubes Zaheredin menyambut redaksi di kantornya yang asri di kawasan Mega Kuningan. Selain membahas masa depan hubungan kedua negara, pembicaraan dengan pria kelahiran Damaskus tahun 1968 ini juga menyentuh situasi terkini di Suriah. Pemerintahan Bashar al Assad kembali pulih dan menguasai kembali wilayah yang sempat diduduki pemberontak dan kelompok teroris ISIS.

Berikut petikan dari pembicaraan yang ditemani kopi khas Suriah itu:
 
Pertanyaan pertama saya mengenai hubungan Indonesia dan Suriah. Bisa Anda gambarkan bagaimana hubungan kedua negara?
Saya sering mendapatkan pertanyaan ini. Saya punya sesuatu yang menarik. Saya ingin mengatakan tentang sejarah hubungan kedua negara ini. Hubungan kami dengan Indonesia sudah terjalin lama. Ketika Suriah duduk sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB di tahun 1947, diplomat Suriah DR. Fares al Khoury dalam Sidang Majelis Umum meminta agar Indonesia diakui sebagai negara independen.

Setelah itu, hubungan historis ini berlangsung terus. Di tahun 1951 Indonesia membuka Kedutaan Besar di Damaskus, dan setelah itu semakin meluas dan berkembang, ditandai dengan banyaknya kegiatan saling kunjung antara kedua negara.

Presiden Sukarno berkunjung ke Suriah pada tahun 1957 dan bertemu Presiden Suriah ketika itu Shukri al Quwatli. Lalu di tahun 1977 Presiden Soeharto berkunjung ke Suriah dan bertemu dengan Presiden Hafez al Assad. Setelah itu kunjungan resmi antara kedua negara terus berlanjut.

Kita baru saja menyaksikan penutupan Asian Games 2018, dan kami bangga karena lebih dari 100 atlet pria dan wanita kami ikut dan berpartisipasi dalam pesta olahraga yang mengusung tema Energy of Asia.

Kami percaya ini adalah peluang yang sangat baik, dan kami berterima kasih kepada pemerintah Indonesia yang memiliki kemampuan sangat baik menyelenggarakan event ini dengan sukses. Apalagi Indonesia bisa menduduki tempat nomor empat dalam hal perolehan medali.

Apakah Suriah mendapatkan medali?
Ya, alhamdulillah kami  mendapatkan medali. Tetapi, sahabatku, Anda tahu bahwa Suriah sudah terlalu lama mengalami perang dan alhamdulillah Suriah memenangkan peperangan ini. Atlet-atlet kami sudah kembali aktif di dunia olahraga. Tadinya banyak atlet kami yang ikut bertugas di dinas militer untuk membela kedaulatan negara kami melawan konspirasi internasional ini.

(Suriah memperoleh satu perunggu dalam Asian Games melalui atlet lompat tinggi putra Majededdin Ghazal, dan menduduki urutan ke-37 dalam daftar perolehan medali negara peserta Asian Games 2018.)

Di sektor mana saja Indonesia dan Suriah memiliki hubungan yang kuat?
Dalam situasi seperti ini, KBRI di Damaskus dan Kedubes Suriah di Jakarta masih tetap bekerja. KBRI di Damaskus sangat aktif, mereka menyelenggarakan banyak kegiatan. Saya kira tidak lama lagi Kedubes Indonesia di Damaskus akan menggelar pekan budaya.

Sampai kini Kedubes kami di Jakarta juga tetap bekerja, dan kami menggelar banyak pertemuan dengan pejabat-pejabat di Indonesia. Dan saya kira itulah kenyataan bahwa hubungan Indonesia dan Suriah di sektor politik sangat baik. Pemerintah Indonesia memiliki posisi yang baik dalam melihat situasi di Suriah dan konspirasi internasional melawan negara kami. Indonesia juga memahami posisi pemerintah kami, dan mendukung kesatuan negara kami.

Kini Indonesia kembali menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Menurut Anda, apakah pada periode ini Indonesia dapat menjadi suara Suriah?
Ya, saya yakin Indonesia akan berdiri dan menyuarakan apa yang benar di Dewan Keamanan PBB. Anda dengarkan suara dari begitu banyak organisasi internasional. Kami mendengarkan suara-suara ini yang memiliki nada yang sama, yang membela hukum internasional, keamanan internasional, prinsip-prinsip internasional. Dan ini juga merupakan suara Indonesia. Ini juga suara negara kami. Negara kami dan pemerintahan kami melawan agresi terhadap negara kami yang independen dan berdaulat.

Semua orang harus menyuarakan hal ini. Indonesia memahami benar hal ini, dan saya kira Indonesia selalu menyuarakan hal-hal seperti ini. Kami yakin Indonesia tidak hanya membela negara kami, tetapi juga negara-negara lain yang merasakan hal yang sama dan yang membutuhkan dukungan dari organisasi yang sangat penting di dunia ini. 

Selain hubungan politik, apakah ada bentuk kerjasama lain antara kedua negara?
Ya, kedua negara juga berbicara mengenai hubungan ekonomi, hubungan kebudayaan. Sebelum krisis di Suriah, kami melihat bahwa hubungan dagang dengan Indonesia mengalami kenaikan setiap tahun. Kita memiliki volume perdagangan sebesar 100 juta dolar AS pada tahun 2010.

Kita juga sudah membicarakan tentang kehadiran perusahaan-perusahaan besar Indonesia di Suriah. Juga sudah dibicarakan kunjungan banyak delegasi perdagangan ke negara kami. Pada tahun 2010, sebelum krisis terjadi, kita sudah membentuk Dewan Bisnis Indonesia-Suriah. Kita sudah membahas banyak hal.
Tetapi, Anda tahu sahabatku, setelah krisis terjadi sebagian dari yang sudah dibicarakan itu terhenti. Kami berharap, selangkah demi selangkah kita akan kembali memulai hubungan ekonomi yang baik, seperti juga hubungan politik.

Jadi saat ini kita tidak memiliki hubungan ekonomi?
Ada, kita punya. Tetapi tidak seperti yang kita harapkan. Kami melihat banyak perusahaan. Setiap minggu ada dokumen-dokumen yang terkait dengan perdagangan di Kedutaan kami. Ada banyak perusahaan, beberapa di antaranya adalah industri makanan, industri pertanian, furnitur, dari Indonesia yang ingin ke Suriah.

Kami berharap perusahaan-perusahaan Indonesia berpartisipasi dalam pembangunan kembali Suriah di banyak sektor. Indonesia memiliki pengalaman yang baik, Indonesia memiliki produk dan manajemen yang baik. Dan kami membuka pintu kami di Suriah untuk perusahaan-perusahaan ini, karena kami selalu melihat Indonesia sebagai sahabat kami.

Untuk tahun lalu, berapa volume perdagangan kedua negara?
Sekitar 40 juta dolar AS dari tahun 2010 sampai 2016. Ini nilai tengah dari volume dagang kedua negara.

Bagaimana dengan produk Suriah di Indonesia?
Saya sudah mengunjungi Kementerian Perdagangan Indonesia. Saya juga sudah bertemu dengan Bapak Alwi Shihab, Utusan Khusus Presiden Joko Widodo untuk Timur Tengah, dan membicarakan masalah ini. Kami ingin melihat produk-produk Suriah juga ada dipasarkan di Indonesia, seperti buah-buahan khas kami, sayur-sayuran. Karena produk-produk ini tidak ada di Indonesia. Dan mungkin bisa datang ke sini dengan harga yang yang pantas untuk masyarakat Indonesia. Kita perlu melakukan beberapa prosedur dan perjanjian untuk memberikan fasilitas agar produk-produk ini bisa datang ke Indonesia.

Jadi, Anda menilai dalam satu atau dua tahun yang akan datang Indonesia dan Suriah akan memiliki semakin banyak hal dalam kerjasama kedua negara?

Ya, tentu saja. Saya berharap itu terjadi. Kita berusaha agar itu semua terjadi. Kami disini mempelajari market di Indonesia.
 
***

Suriah dan bangsa Suriah memiliki sejarah yang teramat panjang. Ibukota Suriah, Damaskus, merupakan salah satu kota tertua di muka bumi yang terus menerus didiami manusia. Sejak setidaknya 5.000 tahun lalu. Catatan mengenai peradaban pertama di negeri itu ditemukan dari Kerajaan Ebla yang eksis sekitar 3500 SM. Suriah juga pernah dikuasai Mari, Mesopotamia, Babilonia dan sebagainya. Lalu di abad ke-4 SM ditaklukkan Aleksander Yang Agung dari Makedonia. Pernah dikuasai Romawi dan menjadi salah satu pusat perkembangan agama Kristen di abad awal Masehi.

Pada tahun 640 M, pasukan muslim yang dipimpin Khalid bin Walid menguasai Damaskus, dan tidak lama kemudian Damaskus menjadi pusat pemerintahan Bani Umayyah.

Di paruh pertama abad ke-16 M, Turki Usmani menaklukkan Suriah, menjadikannya sebagai salah satu provinsi hingga Turki mengalami kekalahan dalam teater Perang Dunia Pertama. Di tahun 1920 Suriah bergabung dengan Liga Bangsa Bangsa (LBB), dan ketika PBB berdiri di tahun 1945, Suriah menjadi salah satu founding members. Di tahun 1936 Suriah dan Prancis sepakat  menjadikan Suriah sebagai negeri yang berdaulat. Namanya ketika itu Republik Suriah.

Pada 1 Februari 1958, Presiden Republik Suriah Shukri al Quwatli bersama Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mengumumkan penggabungan kedua negara menjadi Republik Arab Bersatu. Penyatuan ini berakhir, setelah Partai Baath berkuasa di Suriah pada awal 1960-an dan Presiden Hafez al Assad memimpin negara itu.


***

Menurut Anda, bagaimana pemahaman orang Indonesia terhadap Suriah?
Rakyat Indonesia memiliki pemahaman yang baik tentang negara kami, dari awal hingga kini. Ini kesan kuat kami dalam setiap pertemuan dan ketika kami mendengarkan pernyataan resmi dari pejabat-pejabat Indonesia, baik dari Istana Negara, Kementerian Luar Negeri, atau dari manapun. Pernyataan-pernyataan tersebut tentang realitas di negara kami, bahwa kita tidak bisa menerima intercept negara lain lain atas satu negara manapun. Dan kita harus berbicara berdasarkan hukum internasional.

Ini adalah payung dari kebijakan umum Indonesia. Dan ini juga yang menjadi harapan kami dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di negara kami.

Saya bertanya tentang pemahaman masyarakat Indonesia mengenai Suriah…
Ya, saya bicara tentang masyarakat dan Anda adalah dosen di beberapa lembaga pendidikan. Anda tahu bagaimana pandangan itu. Ambil gambaran tentang negara kami dari media, televisi dan sosial media, Whatsapp, Facebook dan sebagainya.

Mungkin sebagian dan banyak dari mereka yang mendapatkan informasi tentang negara kami dari media. Anda bertanya tentang apa itu media? Bagaimana media memberitakan tentang Suriah, dan setelah itu Anda bisa bertanya apakah masyarakat Indonesia tahu atau tidak tidak. Tetapi, kini saya rasa, masyarakat Indonesia tahu bahwa negara kami sejak awal menghadapi serangan kelompok teroris yang sangat berbahaya, ISIS.

ISIS yang bekerja untuk menghancurkan masyarakat Suriah dan untuk menghancurkan negara Suriah. Dan kami tidak berperang sendirian. Anda tahu bahwa saat setengah tahun lalu Suriah mengalahkan dan mengusir kelompok ini dari semua wilayah Suriah. Insya Allah, pada akhirnya Suriah akan mencapai kemenangan ini, dan semua tahu bahwa Suriah menang melawan kelompok ini dan pihak-pihak yang berada di belakang mereka. Mereka tidak hanya ingin menghancurkan Suriah, tetapi juga ingin menguasai seluruh Timur Tengah.

Alhamdulillah, kami mencapai titik ini. Kami masih memiliki negara kami dan membebaskan setiap jengkal tanah kami, dan kami akan terus melanjutkan perjuangan ini sampai kami tidak melihat lagi ada kelompok teroris di wilayah kami.

Bagaimana Anda bisa menjelaskan apa sebetulnya ISIS? Bagi kebanyakan orang Indonesia, kelompok ini sesuatu yang datang tiba-tiba. Apakah Anda melihat tanda-tanda sebelum ISIS hadir?
Tidak. ISIS seperti balon. Banyak dinas intelijen asing yang membentuknya. Sebelum 2014 kita tidak mendengar soal ini. Di tahun 2013 kita pun tidak mendengarkan sama sekali soal ISIS. Ini adalah organisasi teroris yang sangat besar dan kuat. Mereka punya persenjataan lengkap dan punya banyak uang. Semua itu mereka miliki, dan ini yang membuat kita bertanya-tanya, siapa mereka? Sekarang kita tahu bahwa mereka ingin membuat Suriah sebagai sebuah negara hancur. Ini yang kami percaya sejak awal. Kami sudah katakan kepada semua orang bahwa yang jadi masalah bukan karena ada yang ingin merdeka.

Kelompok teroris ini mendapatkan dukungan dari pihak yang lain, secara keuangan, persenjataan, pelatihan, dan mereka dibantu untuk merebut sebagian wilayah kami.

Tetapi Tentara Arab Suriah, bersama negara sahabat kami berhasil memenangkan pertempuran dan dapat menguasai kembali wilayah Suriah yang sempat mereka duduki.

Mereka dan para pendukungnya telah menghancurkan banyak hal. Merusak kebudayaan, merusak ekonomi, menghancurkan infrastruktur, dan menghancurkan keyakinan rakyat. Ini adalah pekerjaan ideologi Wahabi.

Bagaimana dengan pandangan bahwa Amerika Serikat dan Saudi Arabia ada di belakang ISIS?

Tentu saja. Ini kenyataannya. Ada banyak hal yang membuktikan itu. Di banyak tempat, di saat Tentara Arab Suriah tengah mengepung ISIS, pasukan koalisi Amerika Serikat muncul dan menyerang tentara kami, sehingga kami kesulitan mengalahkan organisasi teroris ini.

***

Kawasan di timur Mediterania memiliki nama lain, yakni Syam dan Levant. Kawasan luas ini berada di antara Pegunungan Taurus di utara, gurun pasir Jazirah Arab di selatan, Laut Mediterania di barat dan Pegunungan Zagros di sisi timur. Syam atau Levan melingkupi wilayah modern Lebanon, Suriah, Jordania, Palestina dan Israel.

Itu sebabnya, Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) juga sering disebut sebagai Islamic State of Iraq and Levant (ISIL). Nama lain yang juga sering digunakan untuk organisasi teroris ini adalah Daesh, singkatan dari Al Dawla al Islamiya fi al Iraq wa al Sham.

Dalam operasi yang begitu cepat di tahun 2014, hanya dalam beberapa bulan ISIS menguasai sembilan provinsi Suriah, yakni Barakah, Khayr, Raqqa, Homs, Halab, Idlib, Hamah, Damaskus dan Latakia. Ratusan ribu warga Suriah tewas dalam serangan kilat ISIS yang dikenal sangat sadis.

Di saat bersamaan, Suriah juga menghadapi kelompok pemberontak di sejumlah kota.


***

Mengapa mereka tidak menyukai Suriah?
Kita harus tanya siapa bos besarnya. Karena yang di lapangan hanya pemain.

Mereka tidak mau Suriah kuat, mereka tidak mau Irak kuat, dan juga  tidak mau Mesir kuat. Ini adalah politik rezim yang berkuasa di Israel.

Kami membela negara kami. Kami selalu berjuang melawan musuh Suriah, melawan neokolonialisme di Suriah. Melawan agresi di Suriah. Ini tugas kami. Itu yang kami lakukan, dan kami akan terus melanjutkan perjuangan.  

Pihak lain, Amerika Serikat, Saudi Arabia dan negara lainnya, mendukung organisasi teroris dan mendukung serangan yang dilakukan kelompok teroris ke wilayah kami.

Yang Mulia, salah satu topik yang sering kali membuat frustrasi adalah tentang rasa persatuan negara-negara Arab. Ada Liga Arab, tetapi seringkali juga menjadi masalah. Apa suara terakhir Liga Arab mengenai konflik di Suriah?
Kami tidak punya satu suara. Kami berharap setiap negara memikirkan kembali semua hal tentang situasi yang kini sedang terjadi di Suriah. Dan bila ada negara yang mau melihat kembali persoalan ini, Suriah tidak menutup pintu. Kami sejak awal menyatakan bahwa pemerintahan Suriah menjalankan tugas untuk membela kedaulatan dan rakyat kami.

Kalau kita melihat negara-negara di Timur Tengah, siapa teman dan siapa lawan Suriah?
(Tertawa.) Saya kira ini tidak bisa dibicarakan karena ini politis. Siapapun harus menyadari bahwa yang sedang terjadi ini adalah konspirasi internasional untuk menghancurkan Suriah.

Bagaimana hubungan Suriah dan Rusia?

Sangat baik, sepanjang waktu. Menteri Luar Negeri kami Walid al-Muallem  berkunjung ke Rusia pekan lalu, dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia  Sergey Lavrov. Dan kami melakukan pembicaraan yang komprehensif antara Rusia dan Suriah.

Rusia adalah sahabat kami. Rusia membantu kami di tahun-tahun yang sangat penting ini, dan melakukan hal yang benar, dengan memberikan bantuan kepada pemerintah Suriah dalam melaksanakan tugas berjuang menghadapi konspirasi asing.

Kita kini juga menyaksikan Republik Rakyat China sebagai kekuatan yang signifikan di panggung politik global. Bagaimana hubungan Suriah dan RRC?

Setiap kali kami membangun hubungan dengan negara lain selalu dengan menghormati hukum internasional, menghormati urusan internal negara lain. Kami membangun hubungan baik dengan negara lain berdasarkan ide-ide ini.

Apakah menurut Anda tekanan Amerika Serikat pada Suriah akan melemah di masa-masa mendatang?

Sekarang mereka bicara tentang serangan senjata kimia dari intelijen Inggris. Ini drama baru. Hanya untuk menjustifikasi tekanan dan serangan mereka ke Suriah. Mereka sangat tahu hal itu. Di masa lalu mereka membuat senjata kimia ini dan mereka berusaha mengaitkannya dengan Suriah. Dan kami katakan kepada mereka, kasus ini sedang diinvestigasi. Dan kami undang mereka untuk datang dan melihat lokasi kejadian.

Anda sedang membicarakan kasus di Douma?
Ya, di Douma. Mereka menghalangi tim investigasi yang ingin berangkat ke Douma dan mereka melanjutkan serangan melalui media. Sekarang Anda lihat media mengatakan Amerika Serikat akan menyerang negara kami karena kasus ini.

Kami sudah sampaikan kepada mereka (media) bahwa pemerintah Suriah tidak menggunakan senjata kimia. Kami tidak memiliki senjata seperti ini. Kami sudah membuat persetujuan dengan PBB dan kami menyampaikan kewajiban kami. Kami memiliki moral dalam menjalani kehidupan ini.

Kami sudah memperoleh kemenangan di wilayah kami. Mengapa kami mau melakukan hal itu (menggunakan senjata kimia seperti yang dituduhkan). Mereka adalah rakyat kami. Tidak mungkin kami melakukan hal itu.

Beberapa pihak mengatakan bahwa kelompok Helm Putih mempabrikasi apa yang disebut sebagai bukti dalam kasus ini untuk menambah alasan pihak lain menekan Suriah…
Saya sering katakan, organisasi teroris tidak selalu datang membawa senjata. Mereka juga bisa datang dengan alasan kemanusiaan, melakukan sesuatu, memfasilitasi sesuatu yang lebih berbahaya dan lebih tidak baik.

Anda tahu bahwa kelompok Helm Putih beberapa waktu lalu pergi dari selatan Suriah ke Israel. Mungkin mereka tengah mempersiapkan rencana baru yang didukung oleh negara lain untuk memfasilitasi dan melakukan sesuatu untuk menyerang Suriah.

Bagaimana keadaan Suriah sekarang? Maksud saya di seluruh Suriah, tidak hanya di Damaskus…
Alhamdulillah, kondisi di Suriah sekarang sudah membaik. Allepo sekarang kembali di bawah kontrol negara kami, wilayah pantai Laut Mediterania juga di bawah kontrol pemerintah kami, juga wilayah selatan kini di bawah kendali pemerintah kami.

Hanya Raqqa yang dikuasai tentara Amerika Serikat. Insya Allah, kami akan kembali menguasai setiap jengkal tanah kami, baik melalui rekonsiliasi atau membebaskannya dengan kekuatan militer.

Mayoritas wilayah Suriah di bawah kendali pemerintah. Kehidupan sudah berjalan dengan baik, anak-anak sudah berangkat ke sekolah. Rumah sakit sudah beroperasi. Warga bisa bekerja. Kehidupan sudah kembali seperti sebelum krisis ini terjadi di tahun 2010.

Banyak pihak yang tidak memiliki pemahaman komprehensif mengenai Suriah mengira Suriah berada di bawah kediktatoran. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?

Kami memiliki sistem politik yang baik dan good governance. Kami memiliki pemerintahan yang baik, kami memiliki institusi-institusi baru di tahun 2012. Kami punya banyak partai politik di Parlemen dan di luar Parlemen. Kami memiliki organisasi masyarakat dalam jumlah yang banyak. Kami menyelenggarakan pemilihan umum yang demokratis.

Semua ini (tuduhan bahwa Suriah dikuasai diktator) adalah tuduhan palsu. 

Tahun 2012 kami menyelenggarakan referendum dan menerima konstitusi baru. Dan setelah itu kami menyelenggarakan pemilihan anggota Parlemen. Lalu pada 2014 kami menyelenggarakan pemilihan presiden dan Presiden Bashar al Assad kembali terpilih.

Setelah semua yang kami lakukan itu, bagaimana mungkin masih ada yang menuduh Suriah dikuasai diktator. Ketika kita sudah menyelenggarakan pemilihan umum secara terbuka, dan sebagian rakyat sudah menentukan pilihan, kita tidak bisa mengatakan bahwa itu bukan demokratis.

Setiap negara memiliki sistem politiknya, dan kita harus menghormati hal itu.

Berapa banyak jumlah partai politik di Suriah?
Kami memiliki lebih dari 15 partai politik.

Bagaimana dengan kemerdekaan pers?
Kami memiliki banyak stasiun televisi, kami memiliki banyak koran dan majalah. Kalau menurut Anda itu cukup untuk menjawab pertanyaan Anda dengan kemerdekaan pers, saya akan berhenti di situ. Tetapi kalau menurut Anda belum cukup, saya akan terangkan lagi bahwa setiap negara memiliki caranya sendiri untuk hal ini. Kami memiliki banyak majalah dan koran, kami memiliki banyak televisi.

Dan seperti yang saya sampaikan tadi, di tahun 2012 kami memiliki konstitusi baru yang diputuskan lewat referendum dan 60 juta rakyat menerima konstitusi baru ini. Dan kami melanjutkan pekerjaan kami berdasarkan konstitusi ini.

Sepanjang waktu kami punya internet. Sosial media juga sangat populer di Suriah, mulai dari Facebook, Twitter, Whatsapp dan sebagainya. Juga Google, kami tidak batasi.

Terkadang kami menghadapi persoalan. Seperti di Indonesia, sekarang ada sistem baru dimana banyak website yang tidak bisa diakses di Indonesia. Dan pemerintah memiliki hak untuk melakukan hal ini ketika dipandang perlu untuk kepentingan yang lebih besar.

Bagaimana Konstitusi Baru hasil amandemen mengatur tentang masa jabatan presiden?Sama seperti sebelumnya, satu periode selama tujuh tahun, dan presiden dipilih langsung oleh rakyat. Setelah satu periode seorang presiden dapat mengikuti pemilihan presiden lagi. Dan tidak ada pembatasan.

Tidak hanya di Suriah. Banyak negara yang juga menggunakan sistem seperti itu.

Saya berharap bisa kembali mengunjungi Suriah dan Damaskus…
Kami akan membantu Anda. Saya mengundang Anda ke Damaskus. Kami akan beri kesempatan kepada Anda untuk mewawancarai tokoh-tokoh kami, media, dan masyarakat kami.

Termasuk mewawancarai Presiden Bashar al Assad?
Kalau Anda mengirimkan surat untuk itu, kami akan kirimkan ke negara kami. Presiden kami melayani banyak permintaan wawancara dari berbagai media. Dia presiden yang sangat aktif. Dia adalah pemimpin negara kami, ini adalah momen yang sangat spesial dan historis. Dia memberikan contoh. Dia sangat sukses dalam hal ini (berinteraksi dengan media).

Kalau kita bicara mengenai kepemimpinan di negara kami, kami sangat bangga. Kami menyatakan sikap kami secara terbuka, kami tidak mundur, dan kami mencapai kemenangan. Alhamdulillah.

Bagaimana Anda menjelaskan tentang keberagaman dan persatuan di Suriah?
Seperti di Indonesia dan di banyak negara, kami mempercayai keberagaman dan persatuan. Di Suriah, kami tidak mempertentangkan persoalan Syiah dan Sunni, misalnya.

Masyarakat Suriah hidup bersama sejak zaman dahulu kala sampai sekarang. Hal-hal mengenai agama dan keyakinan adalah urusan di dalam rumah. Orang boleh mempercayai Tuhan dengan cara ini atau dengan cara lain. Tetapi itu tidak dibicarakan di luar rumah. Kami percaya pada satu tanah air.

Ini adalah sejarah kebudayaan negara kami. Semua warga negara Suriah, apapun agama dan keyakinannya, memiliki tugas dan kewajiban yang sama.

Bila kita pelajari lagi sejarah peradaban bangsa kami sejak zaman dulu, maka hal-hal seperti yang dimunculkan oleh lawan-lawan kami sekarang ini tidak pernah ada. Mereka ingin menggunakan isu keberagaman ini untuk menciptakan perpecahan di tengah masyarakat kami.

Jadi, mayoritas penduduk Suriah adalah Muslim Sunni? Atau Syiah?
Penduduk mayoritas adalah Suriah, penduduk minoritas juga Suriah. Seperti yang telah saya sampaikan, soal-soal keyakinan adalah urusan di dalam rumah.

Juga seperti yang telah saya sampaikan, bangsa Suriah hidup di negara mereka sejak lama sekali. Masalah ini tidak ada di masa lalu. Karena Suriah selamanya percaya pada bangsa Suriah. [guh]


Komentar Pembaca
Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Pemerintah Mau Amputasi KPK?

Pemerintah Mau Amputasi KPK?

, 11 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Potensi Korupsi Proyek Infrastruktur

Potensi Korupsi Proyek Infrastruktur

, 11 DESEMBER 2018 , 03:08:00

Award Untuk Raja Dangdut

Award Untuk Raja Dangdut

, 13 DESEMBER 2018 , 00:36:00

Surat Suara Pemilu 2019

Surat Suara Pemilu 2019

, 12 DESEMBER 2018 , 00:32:00