Verified
Hanura

WAWANCARA

Alissa Qotrunnada Munawaroh: Di 2019, Gusdurian Bukan Netral Tapi Tidak Terlibat Politik Praktis

Wawancara  JUM'AT, 05 OKTOBER 2018 , 08:03:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Alissa Qotrunnada Munawaroh: Di 2019, Gusdurian Bukan Netral Tapi Tidak Terlibat Politik Praktis

Alissa Qotrunnada Munawaroh/Net

RMOL. Alissa buru-buru menetralisir pengaruh dari deklarasi dukungan politik yang dilakukan adiknya Zannuba Arifah Cafsoh atau Yenny Wahid, terhadap pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin. Alissa menegas­kan, hingga kini Gusdurian tidak masuk ranah politik praktis dalam Pemilu 2019. Pengikut Gus Dur yang berpolitik praktis hanya ada Gerakan Kader Gus Dur dibawah kepemimpinan Yenny Wahid.

Melihat sikap Alissa ini ban­yak analis politik menilai ada perbedaan sikap di internal keluarga Gus Dur dalam urusan dukungan di Pemilu 2019. Benarkah analisis tersebut? Lantas sebenarnya ke mana arah pi­lihan politik Gusdurian pada Pemilu 2019? Berikut penjela­san Alissa Wahid kepada Rakyat Merdeka:

Sebenarnya ke mana sih arah dukungan keluarga Gus Dur di Pemilu 2019?
Jadi begini, kalau di Ciganjur itu banyak pengikut Gus Dur. Nah pengikut Gus Dur ini ada yang tidak aktif, dan ada ju­ga yang aktif. Nah yang aktif bergerak di masyarakat sipil, namanya Gusdurian, sedangkan yang aktif di gerakan politik namanya Gerakan Kader Gus Dur. Selama ini yang rajin, kerjanya massif, kerjanya lin­tas dimensi, lintas sektor itu Gusdurian, sehingga orang lebih mengenalnya denganGusdurian. Nah Gusdurian ini sejak awal menetapkan tidak masuk ke ranah politik praktis, karena Gus Dur sebagai negarawan dan ada juga Gus Dur sebagai aktivis. Nah yang aktivis ini kami ingin mempertahankannya. Jadi tidak terlibat politik praktis.

Berarti Gusdurian ini netral?
Oh bukan netral ya, tetapi tidak terlibat dalam politik prak­tis. Kalau netral itu kan ketika ta­hun 2014 kami netral, tetapi pa­da tahun 2019 kami mendukung siapa, nah misalnya seperti itu. Yenny tahun 2014 menyatakan netral, nah pada tahun 2018 ini menyatakan dukungan kepada Pak Joko Widodo. Sedangkan kami di Gusdurian sejak dulu tidak berpolitik praktis. Jadi memang media ini harus menye­butnya pengikut Gus Dur, bukan Gusdurian. Selain itu, Gusdurian tidak akan memberikan keteran­gan terkait dukung mendukung karena watak gerakan Gusdurian itu tidak memungkinkan untuk bicara dukungan. Kita memang harus berjarak.

Lantas apakah Gusdurian memberikan kebebasan bagi anggotanya untuk memilih pilihan sesuai pilihan masing-masing?
Nah kami memberikan kes­empatan untuk menggunakan hak politiknya, namun bukan atas nama Gusdurian, mereka sebagai warga negara, mereka sebagai pengikut Gus Dur. Nah kalau ditanya siapa yang mem­bawa warisan politik Gus Dur itu adalah gerakan politik yang dibawa oleh Yenny Wahid, su­dah jelas itu. Jadi enggak ada itu namanya perpecahanlah. Misalnya saja kemarin saat kami dari Gusdurian ke Lombok, itu kan harus jauh dari politik praktis. Misalnya disebutkan Gusdurian terlibat politik prak­tis, nanti warga akan bertanya saat kami melakukan aksi sosial, ‘ini untuk kampanye bukan?’. Itu lho sebabnya kami sama sekali tidak mau terlibat dukung mendukung. Selain itu, kami kan juga sering mengadakan diskusi lintas agama, kalau kami berpihak nanti para pemuka agama juga masalah. Jadi kami memminta agar tidak memakai baju Gusdurian dalam berpolitik praktis.
Selanjutnya >

Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.159): Anies Terlalu Lama Sendiri
Densus 88 Tembak Dua Terduga Teroris Tanjung Balai
Usut Tuntas Kasus <i>Hoax</i>

Usut Tuntas Kasus Hoax

, 17 OKTOBER 2018 , 05:41:00

Pecahkan Kode Perempuan

Pecahkan Kode Perempuan

, 19 OKTOBER 2018 , 04:43:00

Baksos Untuk Sulteng Dan NTB

Baksos Untuk Sulteng Dan NTB

, 18 OKTOBER 2018 , 03:54:00