Jokowi Dan Ironi Imlek Umat Khonghucu

Sabtu, 09 Februari 2019, 00:40 WIB
PASCA agama Khonghucu dipulihkan sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, tahun 2000 silam, secara rutin Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) mengadakan Perayaan Imlek Tingkat Nasional yang selalu dihadiri oleh Presiden RI dan MURI mencatat hal ini dengan fenomenal.

Tahun ini, Perayaan Imlek Nasional memasuki tahun 2570 yang akan diadakan oleh Matakin di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 10 Februari 2019. Ini adalah Imlek yang memang yang sesungguhnya diakui dan dihadiri oleh Lembaga Kepresidenan dari semenjak Gus Dur menjadi Presiden.

Ironisnya ketika Presiden Jokowi menjadi Presiden, belum sekalipun beliau sebagai pribadi dan sebagai pemegang lembaga Kepresidenan hadir. Sungguh ironi dengan fenomena ini, ada apakah gerangan? Rakyat kecil yang beragama Khonghucu mempertanyakannya dengan cemas dan sedih. Kenapa Presiden Jokowi yang menjadi simbol pembela wong cilik, penjaga yang tertindas justru terkesan "cuek" dan tidak mau peduli dan ambil pusing.

Umat Khonghucu didoktrin untuk selalu mencintai dan menghormati pemimpinnya. Sebab pemimpin dalam hal ini Presiden adalah Ayah Bunda Rakyat. Ibarat seorang anak yang mungkin sesekali tidak didengar oleh Ayah Bunda nya umat Khonghucu tetap akan berusaha dengan baik. Sebab ini merupakan pengejawantahan dari 5 hubungan Kemasyarakatan yang diajarkan oleh Khong Hu Cu dan menjadi doktrin wajib yang dijalani oleh para Confucian.

Kemarin 7 Februari 2019 Presiden hadir Imlek Nasional yang diadakan oleh para pengusaha yang mengklaim dirinya Tionghoa dan Presiden belum jelas duduk perkaranya terkesan menutup pintu tidak akan hadir pada Imlek Nasional Matakin yang jelas-jelas adalah Imlek resmi yang boleh diakui lembaga Kepresidenan dari tahun ke tahun pascar era Reformasi. Kenapa penulis berani mengatakan demikian karena memang sejak era Reformasi Presiden Gus Dur, Megawati dan SBY selalu menghadiri perayaan Imlek Matakin ini. Tapi apa mau dikata, Presiden kelihatannya memilih dalam posisi tidak menggubris Imlek Matakin yang notabene Imlek yang memang sebagai representasi Umat Khonghucu.

Dalam momentum Pilpres kali ini sepertinya posisi Umat Khonghucu kurang beruntung karena dianggap kecil dan tidak signifikan. Padahal walaupun sebagai "silent minority" karena jumlahnya sedikit namun sangat solid dan signifikan. Namun umat Khonghucu sekali lagi selalu dalam posisi menghormati dan memahami posisi Ayah Bundanya. Umat Khonghucu memilih lebih tahu diri dan introspeksi diri walaupun "nasib" pada era kepemimpinan Presiden Jokowi kali ini umat Khonghucu selalu pada posisi yang tidak beruntung.

Tapi presiden "woles" saja dan tidak perlu khawatir. Umat Khonghucu bukan tipikal umat pendendam dan suka membalas keburukan orang apalagi pemimpinnya. Umat Khonghucu selalu menjunjung tinggi kebenaran sebagai pegangan, sebab dalam ajaran Khonghucu ditekankan "Selama kekuatan hati kita lebih unggul dari apapun, maka keberuntungan tidak akan pernah meninggalkan kita. Dan harus selalu menuntut diri sendiri daripada menuntut orang lain.

Kepada Presiden Jokowi umat Khonghucu mengucapkan terima kasih. Semoga selalu sehat dan adil dalam memimpin. Walaupun Presiden "cuek" walaupun Presiden tidak mau peduli tapi umat Khonghucu percaya bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. Persoalan ketidakadilan yang diterima Umat Khonghucu kali ini biarlah Langit dan Bumi yang memutuskan.

Dari semua penjelasan diatas walaupun berat dan kemungkinannya sangat kecil umat Khonghucu masih sangat berharap Tuhan mampu menggerakan hati Presiden untuk kiranya sudi dapat hadir dalam perayaan Imlek Nasional 2570 Matakin 10 Februari 2019 nanti. Karena umat Khonghucu selalu merindukan Presiden Jokowi yang belum pernah hadir satu kalipun dalam Perayaan Imlek Nasional Matakin.

Biarlah sejarah mencatat kegalauan umat Khonghucu kali ini. Biarlah dunia melihat keresahan umat Khonghucu kali ini. Biarlah hati nurani dan rumput yang bergoyang yang menjawabnya.

Selamat Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili. Semoga bangsa Indonesia selalu terberkahi dan semoga Presiden Jokowi selalu sehat sehingga selalu amanah dalam memimpin negeri ini.[***]

Kris Tan
Intelektual Muda Khonghucu, Ketua Umum Generasi Muda Khonghucu Indonesia (Gemaku).
Editor: Ade Mulyana
Tag:

Kolom Komentar


loading